Keuskupan Agung Jakarta

Surat Gembala Prapaskah 2016


"KERAHIMAN ALLAH MEMERDEKAKAN"

    Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

  1. Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru Imlek yang akan jatuh pada hari Senin, 8 Februari 2016 yang akan datang, kepada Ibu/Bapak, Saudari/saudara yang merayakannya. Kita semua tahu, Tahun Baru Imlek pada mulanya berkaitan dengan syukur para petani atas datangnya musim semi, musim yang menjadi lambang munculnya kehidupan baru setelah musim dingin yang beku. Kalau pun tidak semua kita merayakannya, bolehlah kita semua ikut masuk ke dalam suasana sukacita dan syukur atas berseminya kehidupan baru dan harapan baru.
     
  2. Sementara itu bersama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu 10 Februari 2016 yang akan datang, kita akan memasuki masa Prapaskah. Kita semua tahu bahwa Prapaskah adalah masa penuh rahmat. Selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk bersama-sama, secara khusus, mengolah pengalaman-pengalaman dan mengusahakan pembaharuan hidup agar dapat semakin mantab dan setia mengikuti Yesus Kristus masuk ke dalam sengsara dan wafat-Nya dan selanjutnya ikut bangkit bersama Dia.
     
    Masa Prapaskah tahun ini terasa istimewa karena kita jalani dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Untuk kepentingan masa Prapaskah tahun ini, oleh Dewan Karya Pastoral sudah disediakan berbagai sarana pendalaman iman dengan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan”. Semoga bahan-bahan yang sudah disediakan ini, dapat membantu seluruh umat untuk membuat masa Prapaskah semakin bermakna dan berbuah. Selain itu panduan gerakan rohani Keuskupan Agung Jakarta dalam rangka menyambut Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah juga dapat sangat membantu membuat masa Prapaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat.
     
  3. Saudari/saudaraku yang terkasih,

  4. Untuk memperdalam renungan kita mengenai tema masa Prapaska ini, saya tawarkan butir-butir gagasan yang dapat kita gali dari sabda Tuhan yang dibacakan pada hari ini.
     
    1. Kisah panggilan Simon yang dibacakan pada hari ini (Luk 5:1-11) memberikan kepada kita contoh bagaimana kita dapat mengalami kerahiman Allah yang menjadikan kita pribadi-pribadi yang merdeka. Kisah ini sendiri merupakan ringkasan atau bahkan kesimpulan dari kisah panjang hidup Simon yang diceritakan sepanjang Injil Lukas. Pelan-pelan, tahap demi tahap Simon dibimbing untuk melepaskan diri dari cara berpikirnya sendiri yang membelenggu dan akhirnya dibawa masuk ke dalam pengalaman akan kerahiman Allah. Pengalaman ini menjadikannya pribadi yang baru, yang tercermin dalam perubahan nama : dari Simon (ay 3.4) menjadi Simon Petrus (ay 8).
       
      Kerahiman itu tercermin dalam diri Yesus Tuhan yang mengatakan kepadanya, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ay 4). Kata-kata itu diucapkan setelah Simon merasa sangat lelah dan kecewa karena sepanjang malam dia dan teman-temannya bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa. Kerahiman itu juga jelas ketika Yesus Tuhan berkata kepadanya, “Jangan takut mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”. Kata-kata ini diucapkan oleh Yesus ketika Simon Petrus merasa dirinya tidak pantas berada di hadapan Tuhan karena dirinya adalah orang berdosa.
       
      Dalam kisah lain yang menceritakan pertobatan Petrus, kerahiman Tuhan itu dialami oleh Petrus, ketika “Tuhan berpaling dan memandang Petrus” (bdk Luk 22:61) – ungkapan pengalaman yang tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dikontemplasikan dalam doa yang hening. Dengan pengalaman itu tanggal-lah semua dari masa lampau yang membelenggu dan membebaninya. Sejak saat itu Simon Petrus menjadi pribadi yang lepas bebas dan merdeka. Bukan lepas bebas dari tanggungjawab, melainkan merdeka untuk “meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus” (Luk 5:11) ke mana pun panggilan akan membawanya.
       
    2. Rasul Paulus dan Nabi Yesaya sebagaimana kisahnya kita dengarkan pada hari ini, pada dasarnya mempunyai pengalaman yang serupa. Rasul Paulus menyatakan, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia” (1 Kor 15:9-10). Kasih karunia Allah membebaskan Rasul Paulus dari perasaan rendah diri dan hina, menjadikannya pribadi yang merdeka untuk memberitakan kerahiman Allah dalam waktu yang baik maupun tidak baik (bdk 2 Tim 4:2). Demikian juga Nabi Yesaya : berkat pengalaman yang serupa ia menjadi pribadi yang merdeka menerima perutusan Tuhan.
       
    3. Pengalaman yang sama ditawarkan kepada kita juga. Dengan bantuan rahmat khusus pada masa Prapaskah ini dan dengan mengusahakan berbagai laku rohani, kita juga akan mengalami pandangan Tuhan Yesus yang adalah wajah kerahiman Allah - “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Pengalaman akan kerahiman Allah ini akan menjadikan kita pribadi-pribadi yang lepas bebas dan merdeka - dalam arti seluas-luasnya.
       
  5. Saudari/saudaraku yang terkasih,

  6. Selain belajar dari Sabda Tuhan, kita juga dapat belajar dari pengalaman pribadi Paus Fransiskus yang sejak diangkat menjadi Uskup mempunyai semboyan “miserando atque eligendo”. Semboyan itu berarti “dengan penuh kerahiman Ia memilih aku”. Pengalaman akan kerahiman Allah ini begitu mendalam dirasakan ketika ia berusia tujuh belas tahun. Atas dasar pengalaman itu ia memutuskan untuk hidup mengikuti teladan Santo Ignatius dari Loyola.
     
    Pengalaman akan kerahiman Allah ini pula yang mendorong beliau sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan di dalam Gereja Katolik, yang kadang-kadang mencengangkan. Misalnya, Paus menyatakan bahwa “Ekaristi, betapa pun dalam dirinya sendiri adalah kepenuhan hidup sakramental, bukanlah suatu hadiah bagi mereka yang sempurna, melainkan obat penuh daya dan santapan bagi yang lemah. Keyakinan ini memiliki konsekuensi pastoral yang perlu disadari dengan bijaksana dan berani” (EG 47). Atas dasar pengalaman yang sama Paus dengan lantang menolak sistem ekonomi yang menguasai dan meminggirkan, bukan yang melayani kebaikan bersama. Atas dasar pengalaman yang sama pula Paus menyerukan pertobatan ekologis dalam rangka memelihara bumi ini sebagai rumah kita bersama. Dengan demikian jelaslah bahwa pengalaman akan kerahiman Allah yang memerdekakan, mempunyai jangkauan pengaruh yang amat luas.
     
  7. Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta menawarkan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan” sebagai ajakan untuk pertama-tama memahami secara lebih dalam arti kerahiman Allah. Selanjutnya tentu diharapkan agar pemahaman yang lebih mendalam ini membantu kita semua untuk mengalami kerahiman Allah secara pribadi. Pengalaman seperti ini dapat kita rasakan dalam hidup kita sehari-hari khususnya pada waktu kita jatuh dan diangkat kembali oleh Allah yang kasih setia-Nya tanpa batas; pada waktu kita sadar akan dosa, kelemahan dan kesalahan kita dan menerima belas kasih pengampunan Tuhan maupun maaf dari sesama. Ini kita alami secara istimewa dalam Sakramen Rekonsiliasi.
     
    Mari kita jalani hidup kita sebagai orang beriman dalam semangat saling mengampuni. Semoga kita dijauhkan dari sikap menghakimi dan menghukum. Semoga kita semua, murid-murid Yesus di Keuskupan Agung Jakarta siap mencari jalan-jalan baru untuk mengalami, mensyukuri dan selanjutnya mewartakan serta mewujudkan kerahiman Allah “dengan keberanian rasuli, kerendahan hati Injili dan doa yang tekun”.
     

Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

 
Selamat memasuki masa Prapaskah
I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

 

Surat Keluarga Januari 2016

SELAMAT TAHUN 2016 DAN DIBARUI

Keluarga-keluarga yang diberkati Tuhan, memasuki tahun yang berangka lebih banyak berarti memasuki suatu pengalaman baru yang akan memperkaya kita dengan tawa, perjuangan, pertanyaan, kelegaan, dan persoalan baru. Kita ingin menghadapi semua itu dalam iman. Kita ingin agar tahun ini, seluruh keluarga semakin beriman dan mengalami "Allah yang menyertai" (bdk. Mat 1:23).

Kita tidak sedang berhadapan dengan tantangan baru, tantangan yang lama masih akan bersama kita dan menantang untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Proyek-proyek digital selalu makin canggih dan menggoda, sajian media masih akan membumbui hidup keluarga dengan alternatif informasi yang bisa membawa keluarga ke arah yang sulit diperkirakan. Ada yang baik, tetapi tidak sedikit yang membelokkan arah kita untuk hidup normal bersama keluarga.

Kadang-kadang ajakan untuk mendekati Tuhan menjadi suatu ancaman. Seorang Bapak mengatakan kepada saya, “Ikut Tuhan memang ideal, tetapi hidup jadi lebih sulit dan terbatas, mau apa-apa jadi nggak berani.” Saya merenung, apakah ini memang yang dipikirkan ketika orang mau beriman lebih dalam? Begitu dalamnyakan ketakutan kita di dunia ini, sehingga benarlah perkataan Yesus, “..lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.”

Orangtua yang dipenuhi impian impian kejayaan masa depan barangkali adalah orangtua yang paling terkenal saat ini. Orangtua yang mendorong anak-anaknya untuk les lebih banyak barangkali juga yang paling merasa bertanggungjawab sekarang ini. Tetapi sebenarnya yang paling dibutuhkan anak-anak adalah kedekatan dan bimbingan pribadi orangtua kepada anak-anaknya. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita “dididik” terus oleh lingkungan dan media.

Banyak masalah dimulai dari keringnya relasi di dalam keluarga. Tetapi keluarga-keluarga yang menganggap makan bersama dan merayakan ekaristi bersama dapat dijamin berkurang permasalahannya. Kebersamaan itu meneguhkan. Kebersamaan membuat keluarga semakin imun/kebal pada serangan dari luar yang selalu tak terduga datangnya.

Saya sering mendengarkan sharing anak muda dan remaja dalam konseling. Pengalaman berteman dan pengalaman seksual yang dapat dikatakan tak wajar pun sering membuat saya kaget. Tetapi saya justru kuatir suatu ketika hal ini menjadi sesuatu yang “lumrah” karena dilakukan oleh banyak orang. Sangat menegangkan membaca kenakalan remaja dalam penggunaan narkoba.

Saya mendapat sharing dari seorang pria 20 tahun yang sudah 6 tahun merokok dan 4 tahun mengkonsumsi narkoba. Bayangkan, pada usia berapa ia mulai mencandunya! Kecanduan internet dan pornografi makin tidak terdeteksi juga, karena ini pelarian yang murah meriah tetapi mencandu dan merusak jiwa.

Masih amat banyak anak-anak yang sangat baik dan berprestasi. Anak-anak kita yang membanggakan juga banyak sekali. Gereja amat gembira menyaksikan keberhasilan remaja dan OMK yang berprestasi dan aktif dalam bidang-bidang kemanusiaan dan sosial. Kita sering melihat peran orangtua sangat mempengaruhi, paling tidak mereka menerapkan disiplin, hidup doa, atau hidup bersama yang baik.

Kepasutrian kita lah jawabannya! Baru saja kita melewati masa Natal. Masih terasa gema perayaan Natal dan pesta Keluarga Kudus. Yosef dan Maria selalu menjadi contoh nyata bagaimana menjadi orangtua yang bertanggungjawab. Mereka bukanlah orang-orang yang kuatir akan masa depan, karena meletakkan masa depan itu kepada Allah Bapa bersama Yesus dan dalam bimbingan Roh Kudus. Pesan singkat saya, baik-baiklah dengan pasangan Anda.

Hidup akan menjadi lebih ringan jika kita menurunkan ambisi. Buah buah Roh masih akan terus dibutuhkan selamanya, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kelemahlembutan, penguasaan diri, kasih, kemurahan, kebaikan dan kesetiaan (bdk. Gal.5:22). Menerapkannya adalah suatu hal yang mudah jika kita menempel pada Tuhan. Kita perlu lebih banyak berdoa, lebih aktif mengikuti perayaan ekaristi, lebih giat bekerja, dan lebih banyak bertemu keluarga.

Persiapkanlah hidup berkeluarga anak-anak kita. selama 2016 ini, Keuskupan Agung Jakarta masih akan membantu mempersiapkan calon menikah dengan lebih serius. DISCOVERY PROGRAM masih akan terus disebarluaskan, karena terbukti membantu mempersiapkan pasangan calon menikah. Setelah menjadi orangtua, kita masih terus perlu informasi terkini melalui persekutuan dalam Gereja, mulai dari lingkungan sampai keuskupan.

Mari terus mengerjakan keselamatan! Santo Paulus menginspirasi kita dengan seruan yang menyemangati, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,..” (Flp.2:12).

Jangan menunggu besok, sebab esok akan ada ceritanya sendiri (Bdk. Mat.6:34). Kita buat yang terbaik untuk hari ini dan besok akan menjadi hadiah yang lebih indah buat kita dan keluarga. SELAMAT TAHUN BARU 2016. TUHAN MEMBERKATI KELUARGA KITA SEMUA.

 
 
Salam dan doa saya,
Rm. Alexander Erwin MSF

 

Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2016-2020

Gereja Keuskupan Agung Jakarta sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan.

Atas dorongan Roh Kudus, berlandaskan spiritualitas inkarnasi Yesus Kristus, serta semangat Gembala Baik dan Murah Hati, umat Keuskupan Agung Jakarta berupaya menyelenggarakan tata-pelayanan pastoral-evangelisasi agar semakin tangguh dalam iman, terlibat dalam persaudaraan inklusif, dan berbelarasa terhadap sesama dan lingkungan hidup.

Melalui tata-pelayanan pastoral-evangelisasi yang sinergis, dialogis, partisipatif dan transformatif, seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta berkomitmen untuk:

  1. Mengembangkan pastoral keluarga yang utuh dan terpadu.
  2. Meningkatkan kualitas pelayan pastoral dan kader awam.
  3. Meningkatkan katekese dan liturgi yang hidup dan memerdekakan.
  4. Meningkatkan belarasa melalui dialog dan kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat yang adil, toleran dan manusiawi khususnya untuk mereka yang miskin, menderita dan tersisih.
  5. Meningkatkan keterlibatan umat dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.

Semoga Allah Yang Maha Rahim, yang telah memulai pekerjaan baik dalam diri kita, berkenan menyempurnakannya dan Bunda Maria menyertai, menuntun serta meneguhkan upaya-upaya kita.

 
sumber: http://www.kaj.or.id

Surat Keluarga Oktober 2015

Manusia Rohani Karena Allah Menyertai

Keluarga Katolik Keuskupan Agung Jakarta yang terkasih,

Memasuki bulan Oktober, bulan Rosario, pasti disertai dengan suatu devosi khusus kepada Bunda Maria, Sang Ratu Rosario. Kita diajak untuk bertekun dalam doa, terutama untuk memohon agar Tuhan selalu menyertai kita dan seluruh keluarga kita. Bulan Rosario mempunyai nuansa doa sendiri, khususnya berkaitan dengan pribadi Bunda Maria yang merebut hati sebagian besar orang Katolik untuk meneladan hidup beriman seperti dia.

"Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu" (bdk. Luk. 1:38). Kalimat terkenal ini bahkan telah menginspirasi banyak orang untuk menembus batas kemanusiawian dan keterbatasan kehendak orang agar sampai ke kehendak Allah dalam hidupnya. Jika Maria bisa, maka kita juga bisa, jika beriman seperti dia. Tetapi bagaimana beriman seperti itu?

Dunia di sekitar keluarga kita, termasuk pergaulan dan media masa mengajak kita untuk semakin manusiawi. Kita diajak untuk sadar diri sebagai manusia saja. Semua seminar dan majalan motivasi mengarahkan orang pada kehendak sendiri dan melepaskan diri dari beban yang di luar kemampuan kita. Bahkan, orang terbatas pada kehendak dan kesenangannya sendiri saja. Orang berhenti pada keterbatasan yang belum optimal; mandeg ketangguhan dan ketabahannya; berhenti berusaha menjadi suci, menjadi baik, hanya karena ia “manusia biasa”.

Begitu mudah kita mengatakan, “Namanya juga manusia…” atau “Maklumlah, manusia kan ada batasnya..”. mengapa kita melupakan suatu kenyataan lain bahwa kita juga adalah makhluk spiritual. Kita dapat menemukan dunia yang lain di luar yang serba terbatas ini. Kita bisa bermimpi dan mewujudkannya! Kita dapat membayangkan sesuatu yang sebelumnya hanyalah sesuatu yang mustahil. Sekarang semua yang kita peroleh adalah dari orang-orang yang tidak berhenti pada kekurangan dan keterbatasannya.

Dalam hal hidup rohani, Maria telah menjadi suatu cara hidup alternatif. Dalam pengalaman hidupnya, Maria penuh dengan masalah, penuh dengan situasi berat, penuh tanggungjawab yang dia sendiri tidak memahaminya. Tetapi perkataan Maria adalah suatu iman yang mengatasi keterbatasan. Ia percaya Allah menyertai. Ia menghidupkan kemanusiaannya justru dari keyakinannya bahwa ia bisa melakukan dan mengatasi karena Allah menyertainya.

Betapa agung pikiran seperti ini. Manusia yang tangguh menyadari bahwa ia juga ciptaan yang rohani. “kamu bukan dari dunia ini..” (bdk. Yoh.15:19). Kalimat ini jelas bahwa kita dapat melampaui batas, jika kita mengandalkan Tuhan. Kita dapat mengandalkan Allah, karena kekuatan-Nya tanpa batas. Kita tidak perlu dihantui batas, karena kita mempunyai Allah yang mahakuat. Maria sanggup melampaui kekuatannya sebagai manusia biasa, karena ia mengembangkan kenyataan dirinya sebagai manusia rohani juga.

Kita dapat menjadi frustasi mengatasi masalah kita. Kita juga bisa menjadi takut menghadapi masa depan, karena kita merasa tidak sanggup lagi dan penuh dengan kekecewaan. Kita merasa harapan jadi begitu sulit. Hidup yang tanpa harapan menjadi beban dan tidak menyenangkan. Kita jadi seperti menghadapi masalah sendirian. Maka kadang kita dilanda keputusasaan dan menyalahkan Tuhan yang dianggap menjadi penyebab kegagalan.

Keluarga keluarga Kristiani yang dipanggil untuk saling memberkati, tidak jatuh dalam keputusasaan. Mereka tidak akan berhenti dikuatkan. Para suami tidak putus asa menghadapi beban pekerjaan dan kesulitan berelasi lalu berhenti berusaha. Mereka yang percaya akan terus mengusahakan, meskipun merasa lelah, berat, tetapi baginya “pintu terasa selalu dibukakan”. Seorang pengikut Kristus tidak dibatasi oleh kekurangan dan kemanusiaannya, melainkan dikuatkan untuk menghadapi dengan penuh kesanggupan dan iman.

Saya juga berdoa, semoga para ibu dan isteri menghormati kemanusiaannya dengan menguasahakan hidup rohani yang lebih kuat, sehingga ia dapat menjadi terang bagi seluruh keluarga. Seorang perempuan beriman akan lebih mudah menangkap kehendak Tuhan dan dengan tekun melaksanakannya.

Kerapuhan rumah tangga juga diakibatkan kurangnya perhatian pada hidup rohani. Tips dan lifestyle masa kini tidak mengarahkan orang pada kekuatan rohani, melainkan pada kekuatan kehendak sendiri. Kehendak Tuhan diabaikan, padahal hanya itu yang dapat membuat manusia mengalami kebahagiaan yang sejati. Kita sering menyebut “mengikuti kehendak Tuhan” dalam doa-doa kita, tetapi sebenarnya yang kita ikuti hanyalah kehendak kita sendiri.

Mari bersukaria bersama Maria. Mari mengingat teladannya. Ia tidak putus asa dan tangguh luar biasa. Ia manusia seperti kita, tetapi sangat menghormati Tuhan, sehingga Tuhan “jatuh hati” kepadanya. Mari kita merayu diri sendiri ketika kita malas berdoa, malas ke Gereja, atau malas berkumpul bersama teman dan sahabat kita yang hidupnya baik dan penuh iman. Mari kita bangun suatu hidup yang berkembang secara jasmani dan rohani.

Katakan tidak untuk godaan meninggalkan pasangan, menceraikan pasangan, menyakiti anak-anak, atau putus asa. Katakan bahwa “Aku anak Tuhan” yang paling dikasihi oleh Tuhan. Aku tidak mau kalah dengan dunia ini. Aku mau mengalahkan diriku dan dunia sekitarku, menjadi teladan bagi banyak orang yang kehilangan harapan, dan mengajak siapapun menjadi akrab dengan Allah dalam hidup sehari-hari. Semoga keakraban dengan Tuhan ini membuat kita tabah dan kuat menghadapi segala peristiwa hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Amin.

Tuhan memberkati,

 

Rm. Alexander Erwin Santoso MSF

 

Surat Keluarga September 2015

Kitab Suci adalah Hidup Sehari-Hari

Selamat hari hari Kitab Suci untuk keluarga-keluarga semua. Bulan September selalu dinantikan, karena membawa sukacita bertemu Sabda Tuhan yang mengajar dan membimbing kita bersama seluruh lingkungan di Keuskupan Agung Jakarta ini. Kita diajak untuk semakin mengenal panggilan kita sebagai anak-anak Allah yang secara pribadi mengimani Kristus secara unik.

Seluruh keluarga Anda juga diundang untuk datang dan merasakan sapaan Tuhan bersama permenungan yang mengingatkan, menyegarkan, memperdalam, memperkaya, dan menyadarkan iman Anda, bahwa Allah tetap menyertai melalui sabda-sabda-Nya. Ia begitu dekat, sedekat kita yang mau membaca dan mendengarkan firman-Nya.

Setelah membaca Kitab Suci, kita diharapkan dapat menemukan hidup baru di dalam bimbingan Tuhan. Seringkali kita mengatakan dalam doa-doa kita, “Terjadilah kehendak-Mu”. Apa yang akan dan harus terjadi? Seluruh keluarga beriman belajar untuk memahami dan menerapkan ajaran sesuai yang dikehendaki Tuhan dalam Kitab Suci. Inilah kehendak Tuhan dalam arti sebenar-benarnya. Tuhan berbicara dan menyampaikan kehendak-Nya melalui kata-kata dan sentuhan-sentuhan yang khas yang membimbing kita sebagai pribadi.

Keluarga Katolik di Keuskupan Agung Jakarta, tidak banyak anggota keluarga yang berminat mengikuti Pendalaman Kitab Suci (bukan hanya pendalaman iman). Biasanya jauh lebih banyak orang berminat untuk berdoa Rosario. Hal ini kurang tepat, karena firman Tuhan lebih berkuasa dan bahkan firman ini dapat mengubah hidup kita, jika kita percaya penuh dan berdoa dengan sungguh-sungguh untuk menjalaninya.

Doa Rosario dan doa devosional lain tentu saja sangat baik, tetapi di balik peristiwa berdoa itu, biasanya tersembunyi juga kebutuhan untuk menyampaikan permohonan-permohonan. Salam kepada Maria dan memohon doanya menjadi lebih disukai daripada mempelajari Kitab Suci atau pendalaman Alkitab, karena kita lebih senang menyampaikan kebutuhan daripada belajar firman Tuhan. Kita sering merasa berdoa sebagai tempat meminta, padahal ada banyak kekayaan dalam doa, juga kalau kita hanya sekedar “curhat” pun, itu diperhitungkan sebagai komunikasi yang dirindukan Tuhan.

Maria disebut memilih yang terbaik karena ia duduk diam di kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan firman-Nya. Yesus bahkan mengatakan kepada Marta, bahwa mendengarkan firman itu baik daripada sibuk bekerja, terutama ketika Tuhan bersabda (bdk. Lukas 10.41-42). Penghargaan ini harus menjadi habit untuk kita juga sebagai pengikut Kristus di masa sekarang.

Dalam pendalaman Kitab Suci, kita menyampaikan kerinduan untuk belajar bersama Tuhan dan sesama selingkungan. Tetapi dalam pendalaman Alkitab, tujuan memohon jelas bukan yang utama, karena tujuan kita memang belajar kebijaksanaan hidup dari Firman Tuhan. Kita ingin dekat dengan Sang Firman, maka kita mempelajari isinya. Mempelajari firman Tuhan dalam Kitab Suci membawa kita merasa lebih dekat dengan Tuhan.

Pendalaman Kitab Suci membawa gambaran yang semakin lengkap tentang Tuhan, bukan hanya menjadikannya tempat meminta, tetapi juga menyampaikan rasa gembira. Sekedar berbagi rasa, dan tempat menumpahkan rasa syukur karena belas kasih Tuhan. Ketika firman itu disampaikan dan direnungkan, sering kita merasa tersapa secara pribadi; menemukan hal penting yang dapat mengarahkan hidup lebih baik dan mendalam.

Roma 10:8 mengatakan, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Betapa dekatnya Tuhan sedekat firman yang dapat kita baca setiap waktu dalam Kitab Suci. Jika kita ingin mendekatkan anak-anak dan seluruh keluarga pada tuhan, maka Kitab Suci perlu mendapat perhatian istimewa. Ada banyak cara mendekatkan anak pada Kitab Suci, melalui membaca komik alkitab, aplikasi alkitab, dan terutama mendengarkan firman Tuhan dari perayaan Ekaristi.

Ketika anak-anak belajar untuk dekat dengan Tuhan, maka Ia akan lebih mudah dimpimpin ke dalam kebenaran. Kalau kita hanya mengandalkan “Datang ke perayaan Ekaristi”, hanya “datang” dan “setor muka”, yang terjadi iman menjadi kering, karena kita kurang merasa “masuk” dalam hadirat Tuhan. Tuhan hadir dalam pembacaan firman dan terutama dalam komuni kudus, tetapi kemauan kita mengerti dan menghayatinya selama proses Ekaristi itulah yang menentukan seberapa banyak kita akan merasakan kehadiran Tuhan. Dan salah satunya adalah mendengar firman Tuhan itu.

Ambillah waktu untuk membaca bacaan harian. Jadikanlah ini sebagai kebiasaan rutin, seperti saudara-saudara kita yang beragama lain yang mempunyai rutinitas harian untuk beribadah. Jika kita mau menyisihkan waktu untuk membaca Kitab Suci atau membacakan Kitab Suci kepada anak-anak dengan cara apa saja, saya percaya, ada suasana rohani yang akan orangtua ajarkan kepada anak-anak. Memperkenalkan Tuhan paling baik melalui kisah. Cerita membuat orang tidak harus terpaksa belajar, tetapi mengikuti kisah.

Iman adalah sesuatu yang selalu bisa kita andalkan dan bahkan menjadi bekal untuk anak-anak kita. Rejeki bisa dicari dengan usaha manusiawi, tetapi iman adalah bekal yang diturunkan dari kesungguhan orangtua mencari Tuhan. Jangan hanya memberi harta atau pendidikan duniawi, berilah bekal rohani, agar anak-anak dan seluruh keluarga menjadi semakin sehat jasmani dan rohani. Usia belajar anak-anak adalah saat terbaik mereka mencari sendiri Tuhan dalam Kitab Suci.

Tuhan memberkati,

 

Rm. Alexander Erwin Santoso MSF

 

Undangan Temu Pengurus Seksi Komsos Se-KAJ

Dalam proses perumusan cita-cita Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2015, tim perumus menulis:
"... mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila dan Ajaran Sosial Gereja ..." Namun Bapa Uskup Agung kita mencoret kata "... dan Ajaran Sosial Gereja ..."
Mengapa?

 

Ytk. Pengurus Seksi Komsos se-Keuskupan Agung Jakarta,

Mari kita gali lebih jauh dan menghayati bersama ARAH DASAR Keuskupan Agung Jakarta 2016-2020 yang telah final dirumuskan. Terlebih bagi kita yang bergerak dalam pelayanan komunikasi sosial, pemahaman kita akan Arah Dasar baru akan bermanfaat bagi banyak umat di Keuskupan Agung Jakarta ini. Mari kita bertemu bersama pada:

  Hari / Tanggal : Sabtu / 12 September 2015
  Waktu : pukul 09.00 s.d 14.00 wib
  Tempat : Aula Atas Paroki Katedral

 
Agenda pertemuan:

  • Memahami seluk beluk Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2016-2020
  • Implementasi Arah Dasar Baru dalam pelayanan Komisi/Seksi Komsos di Tahun Kerahiman Ilahi (2016)
  • Persiapan Komsos Dekenat dalam Perayaan Puncak Syukur Arah Dasar, 7 November 2015
     

Kami berharap Bapa/Ibu/Sdr dapat hadir menyediakan waktu untuk pertemuan ini. Maksimal utusan 4 orang per paroki. Mohon konfirmasi kehadiran sesegera mungkin. Undangan tertulis dikirim via pos ke sekretariat paroki masing-masing.

Terima kasih untuk perhatian dan kehadiran Bapak/Ibu/Sdr. Tuhan memberkati pelayanan Anda sekeluarga. Amin.

 
NB. Untuk konfirmasi peserta, mohon mengirimkan nama peserta ke email raka.kaj@gmail.com / telp. 021 351 9193 ext. 241

 
 
Salam
Tetap semangat KARENA TUHAN
Harry Pr

 

 
sumber: www.kaj.or.id

Ketika Paus Merangkul Semua dalam Ensikliknya “Laudato Si”

Kamis, 18 Juni 2015 lalu Paus Fransiskus mengeluarkan ensikliknya mengenai lingkungan hidup. Paus Fransiskus memulai ensikliknya dengan “Kidung Sang Surya”, hymne Santo Fransiskus dari Assisi, biarawan abad ke-13 yang mendedikasikan hidupnya untuk kaum miskin dan yang ditetapkan Gereja Katolik sebagai santo pelindung lingkungan. Surat berisi ajaran otoritatif Gereja itu dimaksudkan untuk memulai kembali pembicaraan global tentang perlindungan “rumah bersama kita” dari ancaman perubahan iklim.
 
 

Sakramen-Sakramen dan Sakramentali

Mengapa umat Katolik memintakan berkat dari imam untuk rosario, buku doa, patung, salib? Demikian juga mengapa keluarga Katolik memintakan berkat bagi rumah baru yang akan dihuni, atau pada waktu pertunangan minta berkat pertunangan? Pertanyaan-pertanyaan ini dan yang sejenis ini berkaitan dengan yang dalam Gereja Katolik disebut sakramentali.
 
 

Pages