Keuskupan Agung Jakarta

Surat Gembala Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2016

 
Setiap tanggal 5 Juni masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Peringatan ini dimulai pada tahun 1971 itu, sebagai tindak lanjut konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (=PBB) tentang lingkungan hidup pada tanggal 5-7 Juni 1970; diadakan untuk mengajak semua orang agar sungguh peduli pada lingkungan hidup. Gereja, yang adalah kita semua, sebagai bagian dari masyarakat dunia, sudah seharusnya menanggapi ajakan itu secara aktif dan nyata.

 

Surat Keluarga Juni 2016

Bersamamu aku merasa tenang,
Hidupku dipenuhi warna-warna cerah
Karena aku merasakan pelukan dan sapaan
Aku merindukan saat ini bersamamu
Saat kita berkumpul dan menghabiskan waktu
Aku merasakan keluarga yang lebih lengkap
Aku, kamu, dan anak-anak kita
Segala sesuatu menjadi lebih mudah kutanggung
Sebab aku merasa tidak sendirian berjuang
Mari habiskan biskuit dan teh manis kita
Sebab hidup masih menawarkan kegembiraannya.

 

Hari Minggu Biasa VII, 16 Mei 2016

"Maria adalah ibu umat manusia yang paling lembut; dialah tempat pengungsian bagi para pendosa." (St. Alfonsus de Liguori)

Markus 9:14-29
"Aku percaya, ya Tuhan! Tolonglah aku yang kurang percaya ini."

Renungan Singkat:
Kita semua telah dilengkapi oleh kuasa Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan dan roh-roh jahat. Syarat utama ialah percaya. Tetapi, karena ada jenis roh jahat yang hanya dapat diusir dengan berdoa, maka mau tidak mau kita harus menjadi pendoa-pendoa, selalu dekat dengan Yesus untuk dapat melakukan seperti yang Yesus lakukan. Apakah aku seorang pendoa? Berapa lama aku meluangkan waktu untuk berdoa setiap hari? Bagaimana dengan doaku hari ini?

 

Rosario Merah Putih

Rosario Merah Putih adalah salah satu penanda gerakan "Amalkan Pancasila" sesuai Arah Dasar 2016-2020 Keuskupan Agung Jakarta. Dinamakan Rosario Merah Putih karena:

  1. Warna merah putih sangat impresif, dimaksudkan untuk mengingatkan kita pada bendera Indonesia, Sang Saka Merah Putih. Merah berarti berani membela kebenaran karena Iman kepada Allah Bapa, Allah Putera dan Roh Kudus. Putih berarti suci, tulus dan murni karena Kasih Allah semata.
     
  2. Terbuat dari butiran-butiran manik yang berwarna merah dan putih lengkap dengan medali Kerahiman Allah yang memerdekakan dan logo KAJ serta Salib khas KAJ.

Diharapkan Rosario Merah Putih mampu membangun kesadaran kita di dalam penziarahan ini untuk berdoa bersama Bunda Maria bagi keselamatan Bangsa dan Negara. Mengingatkan kita untuk semakin 100% Katolik 100% Indonesia. Berdoa Rosario Merah Putih juga menjadi salah satu ungkapan cinta umat beriman kepada tanah air dan tanda kepedulian kita untuk terus-menerus amalkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai sebuah gerakan, dianjurkan untuk membuat sendiri Rosario Merah Putih bersama keluarga/lingkungan/komunitas. Selain sebagai bagian dari ungkapan devosional kita kepada Bunda Maria, aktivitas membuat Rosario Merah Putih juga dapat mengakrabkan kita satu sama lain, terutama antar-anggota keluarga sebagaimana yang diharapkan dalam Target (poin 1.3) Rencana Strategis Arah Dasar 2016-2020. Selain digunakan sendiri, kita pun dapat membagikan Rosario Merah Putih yang kita buat kepada mereka yang membutuhkan.

Berdoa dengan menggunakan Rosario Merah Putih sama seperti berdoa Rosario pada umumnya. Intensi doa saja yang perlu ditambahkan untuk Bangsa dan Negara. Ada lima intensi yang terbagi ke dalam setiap peristiwa. Apapun peristiwanya, silahkan mendoakan intensi ini:

  1. Peristiwa Pertama, untuk kebahagiaan kekal jiwa-jiwa para pahlawan,
  2. Peristiwa Kedua, untuk keutuhan alam Indonesia yang kaya dan subur,
  3. Peristiwan Ketiga, untuk persatuan Indonesia,
  4. Peristiwa Keempat, untuk kebijaksanaan para pemimpin kita,
  5. Peristiwa Kelima, untuk upaya-upaya mewujudkan keadilan sosial.

Diucapkan dan dimohonkan setelah merenungkan peristiwa. Dilanjutkan dengan doa "Bapa Kami" dan 10x doa "Salam Maria". Intensi doa dapat dilihat pada lembaran. Terdiri dari doa anak, doa remaja, dan doa umum.

Rosario Merah Putih: Bergemalah!

 
sumber: Keuskupan Agung Jakarta
 

Peraturan Pantang dan Puasa 2016

PERATURAN PANTANG DAN PUASA KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA TAHUN 2016

 
"Kerahiman Allah Memerdekakan"
 

Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2016 dimulai pada hari Rabu Abu, 10 Februari sampai dengan hari Sabtu, 26 Maret 2016.

"Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi' (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya "secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang" (ibid). Semua orang beriman diajak untuk merefleksikan pengalaman hidup dan mengadakan pembaharuan untuk semakin setia sebagai murid Yesus.

Dalam rangka pertobatan dan pembaharuan hidup beriman, Gereja mengajak kita semua untuk mewujudkannya, terutama dalam masa prapaskah ini dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut ini:

Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:

  • Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 10 Februari 2016 dan hari Jumat Suci, 25 Maret 2016. Pada hari Jumat lainnya dalam Masa Prapaskah hanya berpantang saja.
  • Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k. 97 §1).
  • Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari
  • Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
  • Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok.
  • Dalam rangka mewujudkan pertobatan ekologis, kita diajak untuk ambil bagian dalam gerakan pantang plastik dan styrofoam.

Untuk memaknai masa prapaskah ini marilah kita mengusahakan orientasi dan perilaku yang membuat kita semakin bersyukur dan mewujudkannya dalam sikap peduli kepada sesama. Kita usahakan agar suasana tobat dan syukur mewarnai masa penuh rahmat ini.

Semoga dengan menjalani masa prapaskah ini, iman kita semakin diteguhkan. Kita percaya dengan-Nya persaudaraan kita akan semakin diakrabkan dan pada gilirannya kita semakin berbelarasa terhadap saudara-saudara kita yang menderita.

 

Jakarta, 21 Januari 2016
 
 
Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

 

Pages