Paroki Bekasi Utara

RINTISAN AWAL

Tahun 1995, Provisial Kapusin Medan mengadakan kontak dengan pimpinan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), menyampaikan keinginan untuk berkarya di KAJ. Keinginan ini disambut baik dan disetujui dengan membuka paroki baru di pinggiran kota Jakarta. Wilayah yang ditawarkan adalah Bekasi Utara. Setelah itu, Pastor Kapusin yang ditugaskan di KAJ diminta segera datang untuk mempersiapkan pembukaan paroki baru.

Tanggal 1 September 1995, dua Pastor Kapusin, yakni Pastor Thomas S. Saragih dan Pastor Albert Pandiangan, tiba di Jakarta dan siap membuka paroki baru. Dalam pembicaraan dengan KAJ dan Paroki Bekasi (St. Arnoldus), disepakati bahwa Bekasi Utara akan diserahkan kepada reksa pastoral Pastor-Pastor Kapusin. Maka sejak 1 Oktober 1995, kedua pastor Kapusin mulai berkarya di Bekasi Utara. Sementara mereka tinggal di rumah kontrak di perumahan Taman Wisma Asri.
 

EMBRIO PAROKI

Empat wilayah diserahkan kepada pelayanan Kapusin sebagai bakal paroki; dua wilayah dari Paroki Kranji (St. Mikael), yakni wilayah St. Anastasia dan wilayah St. Yohanes Pemandi, dan dua wilayah dari Paroki Bekasi (St. Arnoldus), yakni wilayah St. Matius dan wilayah St. Veronika. Terdapat 20 lingkungan dengan 2.500 jiwa orang Katolik yang terhimpun dalam 600 keluarga. Keempat wilayah ini membentuk satu stasi yang secara formal menjadi bagian dari Paroki Bekasi. Kedua wilayah yang berasal dari Paroki Kranji sudah lama merupakan stasi, dengan kapel berkapasitas 200 orang. Kapel ini terletak di komplek perumahan Seroja. Sebagai langkah awal, kapel ini menjadi pusat kegiatan bagi calon Paroki Bekasi Utara.

Kedua imam Kapusin ini juga menerima limpahan Panitia Pembangunan Gereja (PPG) yang sudah dibentuk oleh Paroki Bekasi pada 25 Mei 1995. Tugas pertama adalah mencari lahan dan menghimpun dana. PPG ini juga menanggung kebutuhan pastor sebelum didirikan Dewan Stasi/Paroki.
 

 
bersambung..