Senin, 23 Oktober 2017

 

SERAKAH ATAU MURAH HATIKAH AKU?
 

Rm. 4:20-25; MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 12: 13-21

Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk. 12:15)

 

Berhadapan dengan kecenderungan bersikap serakah, Yesus dalam perikop ini menyampaikan peringatan yang sangat bagus: "berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaan itu." (ay. 15)

Ada dua pengalaman dari kenyataan hidup di antara kita yang baik untuk kita perhatikan dan kita renungkan untuk semakin menangkap nasihat Tuhan tersebut di atas. Pernah ada seorang Bapak datang mohon doa karena ia sedang berperkara soal warisan dengan saudara kandungnya. Sebetulnya keluarga ini dianugerahi oleh Tuhan rezeki yang boleh dibilang melimpah dibandingkan hidup kebanyakan orang. Ada perusahaan yang dikelola keluarga dan cukup berhasil. Anak-anak yang sudah dewasa dan berkeluarga juga sudah dianugerahi berkat yang lebih dari cukup untuk penghidupan mereka. Rupanya situasi penuh berkat ini tidak membuat otomatis persaudaraan diantara mereka tumbuh dalam kasih. Entah muncul darimana harta warisan yang dimiliki orangtuanya dijadikan bahan untuk saling berebut. Sangat tragis menjelang ibunya meninggal, salah satu pihak membuat "surat warisan palsu" yang seakan dibuat oleh mamanya dan ditujukan kepada salah satu anaknya saja. Surat warisan ini sangat mungkin direkayasa dan memaksakan suatu tanda tangan/cap jempol dari mamanya yang sedang sakit parah. Mama tersebut akhirnya meninggal. Tidak lama setelah peristiwa sedih ini, anak tersebut menggunakan surat wasiat untuk mendapatkan harta warisan semuanya bagi dirinya. Akhirnya terjadilah sengketa dan diproses oleh pengadilan, mereka saling menggugat untuk memperoleh harta warisan.

Suatu pengalaman yang tragis dan menyedihkan. Persaudaraan apalagi diantara keluarga sendiri yang mestinya dirindukan oleh setiap orang, khususnya orangtua kita dikorbankan karena sikap serakah.

Ada pengalam kecil lain. Dua anak kecil bermain di halaman gereja Katedral. Mereka didampingi oleh suster masing-masing. Suatu ketika yang satu menangis mungkin karena merasa haus. Nank kecil lainnya diberi oleh susternya roti dan minum. Setelah itu kedua anak saling berpandangan. Suatu peristiwa dan adegan istimewa terjadi. Anak kecil yang baru saja menerima roti mendekati temannya yang sedang menangis. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan memberikan rotinya kepada temannya yang sedang menangis. Teman tersebut berhenti menangis dan menerima roti yang diberikan kepadanya. Suster pendampingnya membisikkan kata untuk mengucapkan terima kasih. Dan sesudah itu roti yang ada dicuil untuk dimakan berdua.

Saya sempat melihat peristiwa yang istimewa ini. Rasa kagum dan bangga langsung muncul melihat kedua anak kecil yang saling bermurah hati dan suster pendamping yang begitu bijaksana. Saya belajar suatu nilai kehidupan yang luar biasa melalu peristiwa sederhana tersebut.

Saudara-saudariku terkasih,

Dua peristiwa tersebut di atas menyampaikan pesan kehidupan yang istimewa untuk kita semua. Kiranya dua pengalaman tersebut membantu kita untuk menangkap dan memahami pesan Tuhan Yesus untuk hidup hati-hati terhadap harta. Dalam setiap pribadi ada kecenderungan untuk serakah bahkan rakus terhadap harta. Tidak mudah merasa cukup dan bersyukur. Lebih mudah muncul rasa iri apalagi kalau melihat keadaan orang lain memiliki lebih daripadany. Tuhan mengingatkan kita untuk waspada dan selalu mawas diri.

Kita diajak belajar tanpa henti untuk mengantisipasi kecenderungan serakah tersebut dengan terus melatih diri bermurah hati seperti dua anak kecil yang dengan spontan rela berbagi roti demi temannya.

Berkaitan dengan latihan diri hidup bermurah hati, tanggung jawab pada orangtua dan pendidik sangatlah besar. Sangat disayangkan bahwa yang terjadi dalam hidup sehari-hari justru contoh-contoh sebaliknya. Tidak sedikit orang yang sudah dianugerahi lebih malah semakin nampak kerakusannya dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Yang lebih menyedihkan biasanya masih disertai ungkapan-ungkapan yang membenarkan diri. Inilah salah satu "penyakit" yang terjadi dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat kita.

Kisah yang kita renungkan sangat relevan untuk memeriksa diri berkaitan dengan kehidupan kita setiap hari berhadapan dengan harta. "Harta" yang utama adalah persaudaraan dalam kasih, khususnya dalam keluarga kita masing-masing. Apa arti dan gunanya mendapatkan harta secara berlebihan sampai mengorbankan persaudaraan. Ingat, pengalaman ini terus terjadi dianatar kita.

Ada pesan tambahan yang disampaikan Yesus khususnya bagi pribadi-pribadi yang memiliki kecenderungan sok ingin campur tangan dalam perkara perebutan harta dan warisan. Dalam hal ini Yesus mengingatkan hati-hati apalagi sering disertai ungkapan-ungkapan religius dan Alkitabiah. Ungkapan ini tidak relevan dan perkaranya sensitif. Biarkanlah proses hukum yang berlaku yang mereka tempuh demi mengupayakan terwujudnya keadilan. Semoga dalam proses tersebut muncul kesadaran dan menemukan sikap hidup mendasar yang diteladankan oleh dua anak yang dengan hati suci mau berbagi. Mereka menyayangi temannya dantidak merasa kehilangan serta rugi untuk berbagi roti. Mereka mengalami berkat Tuhan secara naluri dan orisinil bahwa semua adalah anugerah Tuhan. Anugerah semakin bermakna dengan dibagikan kepada sesama teristimewa yang membutuhkan.
 

Pertanyaan reflektif:

  1. Bagaimanakah hidupku selama ini berhadapan dengan harta yang dianugerahkan Tuhan. Apakah aku sudah lebih bersyukur daripada lebih sering merasa kurang, apalagi sampai muncul iri hati?
  2. Bagaimana sikap berupaya untuk banyak melatih diri bermurah hati bagi sesama?
     

Marilah berdoa:

Bapa yang penuh kasih kami bersyukur karena banyak berkat dan anugerah yang Kau berikan kepada kami, khususnya rahmat kesehatan dan persaudaraan. Terima kasih untuk rezeki yang Kau berikan kepada kami. Jauhkanlah kami dan keluarga kami dari sikap iri apalagi rakus sehingga menghilangkan kasih dan persaudaraan dalam hidup kami. Ingatkanlah kami pada waktu kecenderungan ini muncul dalam diri kami. Dampingilah selalu agar kami terus berusaha bermurah hati sebagaimana Engkau bermurah hati tanpa batas bagi kami.
 
Rm. Y. Purbo Tamtomo, Pr

sumber: Renungan Harian HPS 2017