Sabtu, 21 Oktober 2017

 

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KITA
 

Rm. 4:13,16-18; Mzm. 105:6-7,8-9,42-43; Luk. 12:8-12

"Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." (Luk. 12:12)

 

Ketika sebuah stasiun televisi mengadakan pelatihan kepada sepuluh orang koki calon pembawa acara memasak yang lolos seleksi awal, hanya dua orang yang berhasil dinyatakan sungguh mampu menangkap dan mempraktekkan apa yang diajarkan pelatih mereka. Pelatihnya sama, materi pelatihan sama, lama pelatihan sama, metode pelatihan sama dan sama-sama diberikan ruang dan kesempatan untuk berkreasi dengan keunikan masing-masing peserta. Ternyata, secara kualitas, hasilnya berbeda-beda dari satu koki ke koki yang lain. Apa yang membedakan dua orang yang berhasil, dengan sisanya yang kurang memuaskan itu?

Pertama, kedua orang itu percaya bahwa pelatih punya kemampuan yang dapat menyiapkan mereka menjadi pembawa program memasak dengan baik di televisi. Lalu mereka hadir dengan sikap positif yang penuh perhatian dan terbuka untuk menyerap apa yang diajarkan. Selanjutnya mereka terlibat sungguh dalam proses belajarnya dengan membangun komunikasi yang intens dengan pelatihnya; dan tentunya, mereka sungguh hati ingin mengembangkan diri menjadi pembawa program memasak yang mereka idamkan.

Kehidupan di dunia yang umumnya penuh dengan silang sengkarut serta permasalahan silih berganti, sering membuat kita gamang dan tidak tahu harus bagaimana. Harus memilih dan memutuskan apa, harus bertindak apa, harus bicara apa kepada siapa dan kapan dalam situasi sulit yang membuat kita tertekan dan takut, memang tidak mudah. Lalu bagaimana? Siapa yang akan menolong kita? Kalau ada yang menolong, bersediakah kita ditolong? Anehnya, tidak semua yang membutuhkan pertolongan, terbuka mau bekerja sama menerima pertolongan itu, dengan bermacam alasan dan latar belakang. Sesungguhnya, pertolongan hanya punya arti dan fungsi jika dimanfaatkan dengan baik.

Injil Lukas hari ini dapat membantu kita refleksi diri tentang sejauh mana diri kita dan hidup kita menunjukkan hasil dari pengajaran Roh Kudus, yang dijanjikan Yesus sendiri sebagai Penolong kita. Sangat dapat dipahami jika pengajaran Roh Kudus baru berguna dalam membentuk kita menjadi manusia baru yang diperkenan Allah, jika pertama-tama kita percaya dan beriman bahwa Roh Kudus adalah sungguh Penolong yang membuka hati, pikiran dan kesadaran kita. Maka kita menyediakan waktu untuk hadir sepenuhnya dan terbuka akan pengajaran-Nya lewat komunikasi teratur dalam doa-doa kita. Lalu kita mempraktekkannya dalam tindakan nyata, yang bertahap namun pasti, makin lama makin baik, karena masik sedikit kesalahan dan kekurangan kita.

Sesungguhnya apa sih ciri pengajaran Roh Kudus, yang jika kita lakukan, mampu mengentaskan kita dari beban dosa, belenggu rasa bersalah dan situasi yang menghimpit? Sebagaimana sifat dan keistimewaan Allah yang adalah Kasih, maka pengajaran Roh Penolong kita yang Kudus punya ciri kasih, dan mampu menhadirkan damai. Sikap kasih, pertimbangan kasih, tindakan kasih dan perkataan kasih yang membawa damailah, yang diajarkan Roh Kudus untuk menyelamatkan dan membawa kita kepada kehidupan yang kekal
 

Pertanyaan reflektif:

Apa yang sering menghambat diriku untuk menerima dan melakukan pengajaran Kasih dari Roh Kudus dan merasakan kedamaian? Luka batinku, kesedihanku, amarahku, kesombonganku, ego-ku, rasa bersalah dan rasa takutku karena kurang berimankah aku?
 

Marilah berdoa:

Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, betapa terharu dan tersentuhnya hatiku akan besarnya Kasih-Mu untuk menyelamatkan aku dari kebinasaan, sehingga Engkau selalu hadir dan mendampingi aku, sejak aku dikandung ibuku, sepanjang hidup hingga kematian fisikku nanti. Engkau menciptakan aku dengan sempurna, Engkau menebus dosa-dosaku dan Engkau tak pernah meninggalkanku, tak henti-hentinya mengajarkan aku untuk mewujudkan Kasih-Mu dan menghadirkan Damai-Mu. Aku bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan dan Allahku. Amin.
 
Sienta D. Aswin

sumber: Renungan Harian HPS 2017