Jumat, 20 Oktober 2017

 

PEMBOHONGAN ADALAH KESIA-SIAAN
 

Rm. 4:1-8; Mzm. 32:1-2,5,11; Luk. 12:1-7

"Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui." (Luk. 12:2)

 

Bicara mengenai pembohongan yang dilakukan produsen makanan terhadap konsumen dengan cara memalsu, mencampurkan bahan/ zat yang tidak aman untuk dikonsumsi atau melanggar ketentuan dan aturan batas aman kendungan tertentu yang boleh ada di dalamnya, sungguh nyata terjadi di mana-mana dan membuat hati kita miris. Pernah ada susu formula untuk bayi dan produk permen coklat terkenal yang ditarik dari pasaran dan dimusnahkan karena akhirnya ketahuan mengandung butiran plastik dan berbahaya jika dikonsumsi. Belum lagi adanya kejadian lokal dimana formalin dan borax dipakai untuk mengawetkan tahu dan bakso, atau pewarna tekstil dipakai untuk mewarnai kue krupuk dan es, juga senyawa kimia berbahaya untuk mempercepat buah matang dan awet, yang ketika akhirnya juga ketahuan, lalu produk makanannya dilarang, produsennya diproses hukum.

Apa sebenarnya yang terpikir di benak para pemalsu dan pelanggar produk makanan ini sehingga mereka tidak peduli akan konsekuensi pembohongan yang mereka lakukan? Uang dan keuntungan? Berapa lama dapat bertahan? Sungguh naif jika mereka menganggap bahwa kebohongan mereka tidak akan terungkap, cepat atau lambat.

Injil Lukas hari ini memperingatkan bahwa semua kesalahan dan dosa yang dilakukan sembunyi-sembunyi seperti dalam gelap, akan terungkap dan terbuka dalam terang. Cepat atau lambat, kecurangan, persekongkolan jahat, perselingkuhan, pencurian dan penipuan yang dilakukan sembunyi-sembunyi, akan terungkap dan mendapatkan pengadilannya. Allah tidak dapat ditipu, alam semesta tidak dapat dikelabui, dan sesama manusia tidak tahan dicurangi. Maka, hendaknya kita sadar bahwa semua pembohongan adalah kesia-siaan yang akan berakhir dengan penderitaan, kepedihan, kerusakan, sampai kehancuran.

Lalu, bagaimana jika sudah terlanjur berbohong, curang, selingkuh, dan menipu selama ini? Bertobatlah! Kita kembali ke jalan yang benar! Kita kembali hidup di dalam Terang! Allah adalah Bapa yang Maharahim dan pengampun. Dia mengutamakan keselamatan bagi setiap orang yang mau bertobat, yang percaya dan takut akan Dia. Berbahagialah mereka yang dosanya diampuni.

Bagi yang belum jatuh dalam dosa kegelapan, hendklah kita selalu waspada bahwa roh itu kuat, tetapi daging itu lemah. Maka kita tidak menjadi sombong dengan keberhasilan dan kehebatan diri sendiri saja yang rapuh, tetapi mau selalu memelihara iman dan bergantung pada pertolongan dan belas kasih Allah.
 

Pertanyaan reflektif:

Apakah aku masih menyediakan waktu secara teratur untuk kebiasaan memeriksa batinku, mendengarkan suara kecil hati nuraniku, dan menghadap Tuhan dengan telanjang apa adanya di hadirat-Nya?
 

Marilah berdoa:

Ketika aku memeriksa batinku ya Tuhan, aku menangis dan malu karena aku telah tidak jujur kepada sesamaku, kepada diriku sendiri, dan kepada Engkau ya Tuhan Allahku. Ampunilah segala dosa dan kesalahanku yang mengakibatkan kekecewaan, kesedihan, penderitaan, dan ancaman akan keselamatan, yang Kau tawarkan dan anugerahkan bagiku. Kuatkanlah hatiku untuk mampu bangkit dan memulai lembaran hidup baru dalam Terang dan Kasih-Mu. Aku percaya akan kerahiman-Mu, karena Yesus telah wafat dan bangkit dari mati untuk menebusku. Terima kasih, Tuhan. Amin.
 
Shienta D. Aswin

sumber: Renungan Harian HPS 2017