Kamis, 19 Oktober 2017

 

TAHU TAPI TIDAK MELAKUKANNYA
 

Rm. 3:21-30; Mzm. 130:1-2,3-4b,4c-6; Luk. 11:47-54

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha masuk ke dalam kamu halang-halangi." (Luk. 11:52)

 

Ketika berkunjung ke keluarga yang hendak menyajikan lontong opor ala Lebaran, terdengar sedikit kegaduhan di dapur. Rupanya anak gadis mereka protes pada ibunya bahwa lontong yang disediakan ibu, yang dimasak dalam kantong plastik, tidak baik untuk dikonsumsi karena dapat mengganggu kesehatan. Dia mengusulkan untuk menunda sebentar makan bersamanya karena mau belikan lontong yang dibungkus daun pisang atau ketupat yang memakai janur sebagai gantinya. "Belinya online ada Bu, dikirim pakai ojek online, jadi engga lama kok," kata gadis itu. Tapi ibu tidak setuju dan tetap mau memakai lontong yang ada, meskipun ibu juga tahu bahwa bungkus plastik yang dimasak dalam air mendidih cukup lama dapat mencemari makanan di dalamnya dengan senyawa kimia yang tidak baik untuk kesehatan. Alasan ibu: daun pisang dan janur repot mencarinya, sedang kantong plastik mudah, berfungsi, dan murah. Si ibu rupanya tidak mau repot, malas berusaha dan ambil yang gampang saja, meskipun tahu plastik bukan pilihan yang baik dan benar.

Seperti ahli-ahli Taurat yang dikecam Yesus, betapa banyak orang-orang yang di"tua"kan dan dihormati karena kedudukan dan pengetahuan mereka dalam keluarga, sekolah, institusi keagamaan, masyarakat dan pemerintahan, yang bersikap dan bertindak tidak sesuai dengan pengetahuan dan kedudukan mereka. Bukan hanya itu saja! Jika ada orang, apalagi yang lebih muda, memilih bertindak benar dan tidak mau ikut tindakan salah mereka, mereka yang berpengetahuan itu sering malah menghalang-halangi; barangkali karena gengsi mereka terusik. Mereka bahkan dapat bersikap keras kepada yang benar, untuk menutupi rasa bersalah yang mengganggu nurani mereka. Ada banyak contoh di sekitar kita: dari masalah korupsi dan ketidakjujuran, masalah pelanggaran hukum dan aturan, masalah relasi dan toleransi, hingga termasuk juga masalah gaya hidup dan makanan. Pengetahuan akan yang baik dan benar, tidak selalu diikuti dan diwujudkan dengan tindakan yang baik dan benar.

Bacaan Injil Lukas hari ini mengajak kita merefleksikan kembali tentang kualitas sikap dan tindakan kita dalam memperingati Hari Pangan Sedunia. Sejauh mana sikap dan tindakan kita yang berhubungan dengan pengadaan dan pemilihan pangan, pengolahan pangan, pengelolaan dan konsumsi pangan yang sudah dan yang belum sesuai dengan pengetahuan yang kita dapatkan dan pelajari? Masih jugakah kita mempertahankan kebiasaan-kebiasaan yang memperlakukan pangan tidak dengan semestinya; seperti memboroskan makanan dengan membeli, memasak dan mengambil terlalu banyak, lalu membuang karena tidak menghabiskannya? Banyak pengetahuan yang mengajarkan bahwa konsumsi gula dan karbohidrat yang berlebihan akan menyebabkan bermacam gangguan kesehatan. Sudahkah kita sadar untuk mau membatasi jumlah asupan gula dan nasi kita dan lebih memilih sayur-sayuran, buah dan kacang-kacangan? Atau masih kuatkah alasan kita untuk mempertahankan kebiasaan pangan yang salah?

Paus Fransiskus menyadarkan agar kita tidak boleh hanya peduli untuk dapat menyediakan roti atau makanan di atas meja, tetapi juga perlu peduli mengenai kualitas makanan itu bagi kesehatan. Jangan hanya bisa menyediakan lontong opor ala Lebaran, tetapi pastikan juga bahwa kandungan lontongnya aman bagi kesehatan. Jangan kita pilih Celaka! Sebagai pengikut Yesus kita dapat memilih dan mendapatkan Keselamatan.
 

Pertanyaan reflektif:

Apakah aku lebih sering bertindak "hidup untuk makan" (mau menikmati hidup dan mumpung bisa dan mumpung ada, apa aja - berapa aja - ayo aja), atau aku lebih bersikap "makan untuk hidup" (pilih yang sehat, yang bergizi, yang pas buat kebutuhanku)?
 

Marilah berdoa:

Ya Yesus, ampunilah kebebalanku yang dapat mencelakakan diriku. Jangan biarkan aku celaka karena aku tidak melakukan yang baik dan benar seperti pengetahuan yang Kau sampaikan lewat banyak cara. Kuatkanlah hati dan imanku kepada-Mu supaya aku tidak hanya dapat masuk ke dalam pengetahuan yang Kau ajarkan, tetapi juga sebagai pendorong agar orang-orang lain boleh ikut masuk ke dalam Keselamatan-Mu; karena Engkaulah Juruselamat yang telah mematahkan dosa yang mencelakakan umat-Mu. Amin.
 
Shienta D. Aswin

sumber: Renungan Harian HPS 2017