Rabu, 18 Oktober 2017

 

BAIK-BAIK SAJA
 

2Tim. 4:10-17b; Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18; Luk. 10:1-9

"Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku" (2Tim. 4:17)

 

Saya pernah menanyakan, "Apakah hidup keluargamu baik?" Mereka menjawab, "Ya, baik-baik saja." Kalimat ini menyiratkan suatu arti yang barangkali dalam. Kata "saja" menyiratkan suatu yang biasa, yang datar, yang barangkali juga membosankan. Orang justru bisa merasa bosan ketika hidup terasa "baik-baik saja". Padahal ketika hidup baik dalam keluarga terbangun dan tidak terjadi hal yang luar biasa, hal itu justru perlu disyukuri.

Hidup ini berkat, dan berkat itu membawa damai sejahtera yang "menetap". Mengapa kita tidak suka hidup yang tenang? Mengapa kita harus selalu mengalami gejolak sampai terasa sakit, lelah, terlalu senang, terlalu sedih, dan bisa membuat putus asa? Bukankah hidup yang biasa itu membuat hati kita damai dalam melakukan banyak hal? Kerajaan Allah yang dekat dengan kita adalah saat dimana kita dapat berpikir jernih, tenang dan penuh sukacita. Bersyukurlah ketika hidup baik-baik saja dan menantang kita untuk terus setia dalam doa dan perbuatan baik hari ini.
 

Pertanyaan reflektif:

  1. Pernahkah ada rasa bosan karena keluarga baik-baik saja?
  2. Apa yang Anda lakukan ketika hidup terasa datar? Apakah Anda melakukan hal-hal yang baik atau tenggelam dalam aktivitas yang sia-sia?
     

Marilah berdoa:

Ya Allah, ajarlah kami menerima berkat kehidupan dengan gembira. Ketika semua terasa biasa, berilah kami semangat untuk membantu mereka yang berada dalam situasi sulit dan membutuhkan pertolongan kami. Syukur pujian kami naikkan bagi-Mu. Amin.
 
P. Alexander Erwin Santosa, MSF

sumber: Renungan Harian HPS 2017