Selasa, 17 Oktober 2017

 

IMAN YANG MENGUBAH
 

Rm. 1:16-25; Mzm. 19:2-3,4-5; Luk. 11:37-41

"... karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya ..." (Rm. 1:16)

 

Menjadi orang yang percaya membawa konsekuensi bahwa hidupnya diubah, dan berubah dengan kehendak bebas, menjadi pribadi yang makin disukai oleh Allah dan sesama manusia. Beberapa orang lebih suka melakukan devosi yang panjang-panjang, tetapi sangat sedikit melakukan persahabatan dan perbuatan amal. Beberapa yang lain sama sekali melupakan Tuhan dan sibuk dengan aktivitas bisnis dan kesibukan sampai lupa pada kebutuhan akan Tuhan.

Dimanakah letaknya iman? Mengapa iman kadang-kadang membosankan? Mengapa Tuhan lebih sering tidak tampak daripada nyata kelihatan "berkuasa"? Kita terlalu banyak berpikir, karena kita tidak mendahulukan Dia. Kita bertanya karena tidak mempunyai kedekatan komunikasi dengan Tuhan. Padahal Tuhan mudah didekati, dengan kerendahan hati mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan dan membutuhkan orang lain. Barangkali, inilah yang dimaksud dengan "Terang" dalam hidup beriman. Terang adalah pengetahuan rohani akan sejatinya manusia. Kita sungguh membutuhkan Allah dan orang lain.
 

Pertanyaan reflektif:

  1. Pernahkah kita berpikir bahwa hidup kita membosankan dan terasa kering? Apa yang Anda lakukan dalam kekeringan itu?
  2. Sudahkah Anda mencoba mendekati Tuhan dengan menyerahkan waktu dan tenaga untuk "merayu" hati Tuhan sehingga Ia terasa dekat dan akrab?
     

Marilah berdoa:

Ya Allah, berilah aku hati yang terbuka dan rendah hati. Ajarilah aku menyadari betapa aku membutuhkan-Mu, membutuhkan damai sejati dan persahabatan dengan banyak orang. Berilah aku hati yang arif agar dapat membedakan mana kearifan dunia dan mana kedalaman hidup rohani bersama-Mu. Amin.
 
P. Alexander Erwin Santosa, MSF

sumber: Renungan Harian HPS 2017