Kamis, 12 Oktober 2017

 

TAK ADA KESETIAAN YANG SIA-SIA
 

Mal 3:13-4:2a; Mzm 1:1-2,3,4,6; Luk 11:5-13

"Jadi jika kami yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Luk 11:13)

 

Apakah ada di antara kita yang lelah dalam doa? Apakah ada di antara kita yang lelah dengan Tuhan? Bahkan apakah ada dari antara kita yang marah dengan sikap Tuhan? Mungkin, dari antara kita pernah mengalami hal yang demikian, atau bahkan sedang mengalami, atau memang tidak pernah mengalami. Tetapi setidaknya, ada satu pribadi yang pernah sharing kepada saya tentang kehidupan ini. "Mengapa tampaknya Tuhan membiarkan orang-orang yang jelas-jelas mencari rezeki dengan cara yang tak hala, tampak didiamkan saja? Mengapa mereka yang mengisi hidupnya dengan menghalalkan segala cara, tampak baik-baik saja dan bahkan cenderung sukses dan hidup damai-damai saja? Tetapi bagi saya dan juga mungkin orang-orang lainnya, yang sangat memegang iman dalam bekerja dan usaha, terkadang justru malah mendapatkan banyak rintangan. Dan bahkan rezeki tampak menjauh dari kami. Lalu buat apa tetap setia beribadah kepada Tuhan, jika yang setia saja tak mendapat berkat lebih dibandingkan dengan orang lain yang hidupnya "kacau"? Untuk apa beriman, jika nasib orang beriman jauh lebih sulit dibandingkan dengan orang-orang yang tak taat dalam ajaran-ajaran agama, namun rezekinya melimpah, dan tampak hidup dengan penuh kesukaan?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga disuarakan dalam kitab Maleakhi. Sang penulis mencoba untuk mengangkat realita yang ada pada saat itu, bahwa ada kehidupan yang memang sulit dipahami. Ada pandangan hidup pada saat itu yang diyakini dan dihayati, "Bahwa orang yang taat pada Allah akan berkelimpahan rahmat, tetapi orang yang fasik akan mendapatkan hukuman". Paham tersebut terbantahkan dalam kenyataan hidup yang mereka alami. Justru kerap kali mereka mengalami yang sebaliknya. Justru yang setia pada Allah, mengalami kesusahakan hidup, tetapi mereka yang hidup fasik, hidup dalam berkelimpahan.

"Jangan takut. Jangan pupuskan semangatmu. Aku memperhatikanmu, aku mendengarkanmu..." itulah kata-kata Tuhan dalam refleksi kitab Maleakhi selanjutnya. Orang-orang yang tetap setia pada Allah, walau kerap kali mengalami kesusahan hidup, akan tetap menjadi milik kesayangan Allah. Bahkan Allah mengatakan, bahwa kelak kamu akan tahun bagaimana nasib orang yang setia dan nasib orang yang fasik. Maka, tidak ada yang sia-sia dan percuma tentang kesetiaanmu. Berjuanglah terus, karena itu memang jalan yang benar yang kau pilih tuk sampai kepadaKu, itulah janji Tuhan.

Maka, dalam bacaan Injil Yesus kembali menegaskan akan hati Bapa yang kita miliki. Bapa memiliki hati yang siap tuk mengulurkan tangan bagi kita semua. Dia tak pernah terlambat memberikan pertolongan. Tentunya dengan perhitungan Dia, bukan perhitungan kita manusia. "Tetaplah setia, tetaplah mencari, tetaplah mengetuk, tetaplah meminta ... tetaplah berjuang", demikian apa yang ingin Yesus katakan kepada para muridNya. Jangan menyerah, jangan bimbang nan putus asa. Bapa yang kita miliki adalah Bapa yang tidak tinggal diam dalam segala kesulitan hidup kita. Dia mempunyai banyak cara tuk membantu kita. Yakinlah, bahwa kesetiaanmu tak akan pernah sia-sia.
 

Pertanyaan reflektif:

Apakah kita setia dalam pengharapan kita pada Allah?
 

Marilah berdoa:

Ajarilah kami ya Tuhan, disaat kami mengalami kesulitan hidup untuk tetap berani setia datang kepadaMu. Sebab, disanalah kami akan Kau teguhkan, Kau kuatkan dan Kau angkat kembali tuk bangkit melanjutkan peziarahan hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan juru selamat kami. Amin.
 
Rm. Romanus Heri Santosa, Pr

sumber: Renungan Harian HPS 2017