Selasa, 10 Oktober 2017

 

SETIA DALAM MENDENGARKAN
 

Yun 3:1-10; Mzm 130:1-2,3-4ab, 7-8; Luk 10:38-42

Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Luk 10:41-42)

 

Sibuk bisa membuat kita jatuh pada kedangkalan. Inginnya semua waktu dimanfaatkan seefisien mungkin. Jangan sampai ada waktu yang terbuang percuma. Waktu sangat berharga. Dan bahkan dikatakan bahwa waktu adalah uang. Semua dikalkulasi dengan hasil. Semua hal harus menghasilkan. Maka, jangan sampai buang-buang waktu. Sibuk adalah predikat terbaik bagi orang modern zaman sekarang. Namun, dibalik semua kesibukan, jika tidak hati-hati kita akan berada dalam kedangkalan rohani. Kita tak punya waktu untuk merenung akan hidup kita. Kita tak memberikan hati kita untuk diam sejenak untuk merasakan campur tangan Tuhan, yang ada hanyalah keyakinan bahwa semua yang kita dapat sekarang adalah hasil kerja keras kita sebagai manusia. Tuhan tidak terlalu berperan. Kitalah yang menentukan dan mempunyai peran besar dalam hidup ini.

Tuhan disingkirkan. Manusia dengan akal budi dan kelebihannya dijunjung tinggi. Sehingga, kita manusia menjadi sombong. Bahkan dengan tegas mengatakan tak butuh Tuhan, tak butuh campur tanganNya. Maka, jika "aku" adalah yang utama, tak perlulah yang di-sebut dengan "merenung". Tak butuhlah hati kita dengan meluangkan waktu tuk berefleksi. Maka, tak ada yang salah dengan tingkah laku dan perbuatan kita. Jika "aku" tak ada yang salah, maka tak perlu lagi yang disebut dengan pertobatan. Karena "aku" adalah Super Hero. Inilah kesombongan manusia. Inilah kesombongan kita. Tak lagi membutuhkan Tuhan. Tak lagi membutuhkan pertobatan. Tak lagi membutuhkan pembaharuan hidup.

Maka, bacaan pertama tentang Tuhan memakai Nabi Yunus untuk memberi kabar agar warga Niniwe bertobat memberi inspirasi untuk kita. Jangan-jangan, kita saat ini bertindak seperti orang-orang Niniwe. Bersikap sombong. Merasa hidupnya sudah selalu benar. Merasa tak ada salah sedikitpun. Hati menjadi tumpul karena berbagai macam kesibukan dan kelekatan dengan harta, kuasa dan "kekotoran-kekotoran" duniawi lainnya. Sungguh bersyukur Tuhan masih memakai hatiNya tuk menegur kepada orang-orang Niniwe melalui Nabi Yunus. Warta pertobatan Yunus ditanggapi secara positif oleh orang-orang Niniwe. Sehingga membuat redalah amarah Allah.

Ingatlah, warta pertobatan Allah masih digemakan sampai sekarang, khususnya melalui "Yunus-Yunus" zaman sekarang. Mari kita belajar dari hati kebanyakan orang-orang Niniwe yang tidak bebal. Mereka, walaupun jatuh dalam keberdosaan, namun mereka tidak berkeras hati. Mereka mau mendengarkan suara Yunus yang menyerukan pertobatan. Mereka mau mendengarkan warta Tuhan melalui Yunus. Inilah yang kita butuhkan zaman sekarang, mau mendengarkan suara Tuhan.

Sikap mau mendengarkan itu juga diteladankan dalam kisah Injil, khususnya melalui tokoh Maria. Ketika Yesus datang ke rumah Marta dan Maria, sikap Marialah yang dipuji oleh Yesus. Maria mengambil sikap yang tepat disaat Yesus datang. Maria mau mendengarkan Yesus. Maria tahu siapa yang hadir. Maka, Maria tidak "menyibukan diri" dengan hal-hal yang tak berguna lagi. Karena "yang utama" ada dihadapannya. Maria mau mendengarkan Yesus.
 

Pertanyaan reflektif:

Bagaimana dengan kita, apakah kita masih mempunyai waktu tuk mendengarkan suara Tuhan? Atau maunya kita terus larut dalam kesibukan, yang justru malahan menumpulkan hati nurani kita? Sehingga, tak ada rahmat pengampunan, karena pintu tobat tak kita pakai dalam hidup kita.
 

Marilah berdoa:

Tuhan, kami bersyukur Engkau selalu bersuaru dalam hidup kami. Khususnya suara yang mengajak kami tuk mendengarkanMu. Suara yang mengajak kami untuk berani membuka diri agar mengalami pengampunanMu. Ajarilah kami untuk berani merendahkan diri memasuki pertobatan suci. Demi Kristus Tuhan dan juruselamat kami. Amin.
 
Rm. Romanus Heri Santosa, Pr

sumber: Renungan Harian HPS 2017