Senin, 9 Oktober 2017

 

PARADIGMA BARU
 

Yun 1:1-2,11. Yun 22:3,4,5,8; Luk 10:25-37

"Siapakah diantara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? (Luk 10:36)

 

Kisah orang Samaria yang baik hati adalah ciri khas penginjil Lukas. Hanya Lukas yang berkisah tentang perumpamaan ini dengan sentuhan hati yang mendalam. Sebuah pertanyaan mendalam diajukan pada umumnya, "Siapakah sesamaku manusia?"

Di balik pertanyaan itu sebuah jawaban bisa bermunculan. Sesamaku manusia adalah mereka yang seiman denganku; sesamaku manusia adalah mereka yang se-ras, se-suku, se-bangsa, se-golongan denganku. Pertanyaan ini memberikan jawaban yang justru mengotak-kotakan manusia. Begitulah pula dengan si ahli hukum Taurat bertanya kepada Yesus. Yesus dicobai dengan pertanyaan yang nampaknya dasariah tetapi menjebak. Perhatikanlah Lukas menulis, "Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus..." Maka, muncullah perumpamaan orang Samaria yang baik hati itu.

Yesus mengubah pertanyaan bukan siapakah sesamaku manusia, tetapi siapakah sesama manusia. Artinya, bagaimanakah aku menjadi teman seperjalanan bagi sesamaku. Pertanyaan Yesus itu pasti tidak jatuh pada jawaban mengotakkan manusia, melainkan justru menggerakkan hati untuk melangkah bebruat sesuatu bagi sesama.

Bukankah seringkali kita terjebak pada orang desa dan orang kota, orang berpendidikan tinggi dan orang berpendidikan rendah, orang muslim dan orang kafir, orang pribumi dan orang non-pribumi. Cara pikir tersebut membuat negara bisa porak-poranda, hancur terkotak-kotak. Cara pikir itu pula bisa mengakibatkan pemerataan ekonomi dan makanan bisa tidak adil.

HPS 2017 ini mengajak kita untuk mengubah paradigma, bukan berfokus pada siapakah sesamaku manusia, melainkan bagaimana aku menjadi teman seperjalanan bagi sesama.
 

Pertanyaan reflektif:

Paradigma (pola pikir) apa yang membuatku sulit meyakini bahwa di hadapan Tuhan sesama manusia berkedudukan sama? Apakah kita pernah memohon kepada Yesus dan Bunda Maria untuk berkarya dan membuat mukjizat perubahan hati? Hati yang peduli pada sesama? Hati yang memiliki keyakinan bahwa bumi harus dirawat, sebab bumi pun adalah milik dari generasi berikutnya?
 

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga hati kami Kau ubah; bukan melulu apa yang kami inginkan dan wujudkan, melainkan rencana ilahi dan kehendakMulah yang kami laksanakan. Bunda Maria, Bunda segala bangsa, doakanlah kamu putra-putrimu ini. Amin.
 
Rm. B. Hardijantan Dermawan, Pr.

sumber: Renungan Harian HPS 2017