Surat Keluarga Maret 2015

Menjadi Orang Tua Katolik

Saudara-saudari terkasih, selamat menjalani masa prapaskah. Semoga masa penuh rahmat ini membawa suasana permenungan tersendiri buat Anda. Segala hal yang menjadi kekurangan dapat kita kurangkan, sedangkan hal yang baik dapat kita pertahankan dan teruskan. Harapan baik selalu kita kembangkan bersama. Semoga kita dapat menjalani puasa dan pantang dalam arti sebenar-benarnya bersama keluarga kita.

Mengembangkan suatu kebiasaan yang baik dalam keluarga bukanlah sesuatu yang mudah. Kita menawarkan hal-hal yang baik untuk dilakukan bersama, sementara setiap anggota keluarga mempunyai kemauan dan kebutuhan masing-masing. Mampukah kita menciptakan budaya, kebiasaan (habit), tradisi yang baik di tengah keluarga kita? Bukan hanya baik, tetapi budaya yang Katolik.

Apa itu habit? Apa itu menciptakan budaya? Jika kita mempunyai kebiasaan makan bersama, atau membiasakan anak-anak berdoa sebelum makan, atau bahkan membiasakan seluruh keluarga pantang daging pada masa prapaskah ini, maka kita telah membuat habit atau budaya perilaku kepada seluruh keluarga kita. Mereka bersama-sama menciptakan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari dan tidak usah diingatkan lagi menjadi perilaku harian. Kalau begitu, kita bisa menciptakan lebih banyak habit atau budaya dalam keluarga kita!

Keuskupan Agung Jakarta menanggapi seruan sinode para uskup di Roma tahun lalu dan akan diteruskan pada tahun ini. Gereja Katolik sangat prihatin dengan fenomena peristiwa keluarga yang mengerikan, seperti perceraian, sikap apatis pada agama, keengganan berkomunikasi, sampai merosotnya moral di antara anak-anak muda dan orang dewasa. Apa yang bisa kita buat?

Menyelesaikan persoalan keluarga saja bukanlah solusi. Kita perlu membuat persoalan itu berkurang dengan membangun kebiasaan pengasuhan dan membangun pendidikan yang sehat dan Katolik. Pendidikan adalah satu jalan terbaik untuk menciptakan suatu budaya yang jauh lebih terencana dan baik. Manusia sekarang diciptakan dari masa lalunya, ketika mereka masih anak-anak.

Saya sangat bersemangat menantikan lebih banyak orangtua yang memperhatikan kehidupan anak-anaknya, bukan hanya membiayai dan memperingatkan atau melarang, bahkan memarahi, tetapi orangtua yang mendampingi hidup mental dan rohaninya. Saya yakin, Anda semua dapat membuat diri Anda menjadi orangtua yang baik dan serius menjadikan anak-anak sebagai pribadi yang dewasa, dan Katolik.

Keuskupan Agung Jakarta kita tercinta ini menanggapi seruan Gereja untuk belajar lebih banyak menjadi orangtua Katolik. Gereja Jakarta juga memanggil Anda semua untuk belajar bersama menciptakan budaya Katolik di rumah Anda masing masing. Kita jelas perlu membuka mata bagi pendidikan putra-putri kita. kita perlu sejak dini mengajarkan kepada mereka menjadi sekaligus manusia dan sekaligus pribadi Katolik sejati.

Manusia sejati tahu memilih yang baik dan berguna bagi banyak orang; tidak individualis; mengerti bagaimana menjadi sesama; memahami bahwa hidup mesti bertumbuh dalam kedewasaan, iman, pengharapan, dan kasih. Manusia Katolik itu perlu dibangun dengan pendampingan orangtua yang bertanggungjawab, berpengetahuan, dan mengasihi dengan sepenuh hati. Sejak dilahirkan, anak-anak yang beruntung mendapatkan bimbingan dari orangtua yang hebat ini.

Kita kadang membiarkan anak-anak dididik hanya di sekolah dan tempat-tempat les. Kita kurang memperhatikan anak-anak kita yang makan makanan di sekolah dan jajan di sembarang tempat, sementara mereka butuh gizi yang lebih bermutu. Kita tidak berani memantau aktivitas mereka atau bahkan tidak mengerti sama sekali apa yang mereka lakukan bersama teman-temannya. Apa yang bisa kita harapkan dari makanan yang kurang terjamin mutunya? Apakah Anda bergantung pada pergaulan dengan banyak teman tanpa kendali Anda?

Perjalanan anak-anak bersama internet menjadi rahasia yang gagal Anda buka dan pahami. Bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik jika kita kehilangan kontrol terhadap anak-anak itu? Kenakalan tentu bisa dikendalikan kalau anak-anak kita percaya bahwa Tuhan ada dalam diri kedua orangtuanya. Anak-anak akan menemukan rem ketika melihat orangtuanya begitu inspiratif dan cerdas rohani. Kita bisa kalah dengan teknologi, tetapi kasih dan Tuhan akan mengembalikan anak-anak kita pada jalan yang baik dan bermasa depan.

Kita semua harus memikirkan bagaimana mendidik anak-anak yang pandai, yang kreatif, berwawasan luas, tetapi tetap Katolik dan militan. Kita tidak mungkin memberikan kepercayaan sepenuhnya pada modernitas dan lingkungan yang begitu mengendalikan anak-anak kita. Kita pun perlu menjadi model hidup bagi anak-anak, agar mereka tahu siapa orang yang paling pantas mereka ikuti setelah Tuhan, yaitu orangtua mereka.

Cobalah Anda masing-masing pikirkan, cara terbaik untuk mendidik anak-anak Anda. Tentu setiap anak perlu penanganan berbeda, tetapi prinsipnya sama: mendidik dengan kasih dan teladan. Semoga dalam beberapa bulan ke depan, kita dapat bekerja sama menemukan banyak cara untuk menginspirasi kita semua, khususnya para orangtua untuk mendidik anak-anak sesuai dengan panggilan kita sebagai orangtua Katolik yang diberkati.

Salam dan doa saya. Teriring harapan luar biasa pada Anda para orangtua Katolik yang hebat. Tuhan memberkati.

 
 
Salam Keluarga Kudus

 
 
 
Rm.Alexander Erwin Santoso MSF

 
sumber: www.kaj.or.id