Hari Minggu Prapaskah V: 2 April 2017




Minggu, 2 April 2017
Hari Minggu Prapaskah V
Yeh. 37:12-14; Mzm. 130:1-2,3-4ab, 4c-6,7-8; Rom. 8: 8-11; Yoh. 11, 1-45

Kebangkitan

"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya"
(Yoh 11:25-26)

 

Perikop Injil hari ini mengisahkan kebangkitan Lazarus. Isinya secara tegas melukiskan hubungan antara percaya kepada Yesus dengan hidup kekal. Hidup kekal selalu berarti hidup ilahi yaitu hidup Allah sendiri. Setiap orang yang menaruh kepercayaan kepada Yesus akan mendapatkan hidup ilahi itu. Kita manusia pasti akan mati. Tetapi hidup kita berlanjut terus sesudah mengalami kematian badan. Itulah yang kita yakini sebagai kebangkitan, seperti dikatakan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11, 25-26).

Orang Yahudi pun percaya akan hidup sesudah mati. Tetapi itu baru terjadi pada akhir jaman. Mereka percaya bahwa pada saatnya ada kekuatan ilahi yang datang menggoncangkan alam semesta dan menghidupkan manusia dari liang kubur. Yesus mengoreksi pendapat orang Yahudi itu dengan menegaskan bahwa kebangkitan orang mati terjadi dengan perantaraan-Nya. Allah, lewat Putera-Nya memiliki kuasa untuk mengubah ciptaan, membangkitkan orang agar memperoleh kehidupan. Semua orang yang pecaya kepada-Nya, sesungguhnya telah beralih dari kematian menuju kebangkitan.

Bangkit yang ditegaskan Yesus jauh lebih dalam dari sekedar peristiwa bangkitnya Lazarus. Sebab bangkit yang dimaksud Yesus merupakan sesuatu yang berciri rohani. Bangkit dalam arti yang sebenarnya justru terjadi ketika berkat imannya akan Yesus, orang tergerak untuk melepaskan cara hidupnya yang salah dan membuka diri terhadap kehidupan yang diberikan oleh Allah sendiri. Orang tergerak untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang menciderai martabat manusia. Berbagai tindakan tidak adil pada sesama ditinggalkan. Begitu pula perilaku yang mengancam peradaban hidup bersama dibuang jauh-jauh. Kini,
pikiran, hati, ucapan, dan tindakan dilandasi oleh cinta. Kesungguhan iman dalam tindakan kasih inilah yang diharapkan dari hidup kita. Karena itu pertanyaan Yesus kepada Marta adalah pertanyaan yang menantang kesungguhan dalam iman. Percayakah engkau akan hal ini?” Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada kita.
 

Pertanyaan reflektif:

Sudahkah pikiran, hati, ucapan, dan tindakan kita dilandasi oleh cinta yang tulus untuk mewujudkan kehidupan adil dan beradab sehingga martabat setiap manusia dihormati?
 

Marilah berdoa:

Bapa yang maha baik, Yesus Putera-Mu membangkitkan Lazarus dari kematian. Bangkitkanlah kami juga agar kami dapat terlepas dari semua belenggu dosa, sehingga mampu mewujudkan tema APP-KAJ 2017: “Amalkan Pancasila semakin adil dan beradab”. Amin.
 

(A. Widyahadi Seputra)