Hari Minggu Prapaskah IV




Minggu, 26 Maret 2017
Hari Minggu Prapaskah IV
1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Mzm. 23:1-3a, 3b-4,5,6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41

Tuhan Melihat Hati

"Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."
(Yoh. 9:3)

 

Renungan hari ini sungguh menentramkan kita: Tuhan melihat hati, dan bukan seperti yang dilihat mata manusia. Kita sering merasa kecil dan tidak berarti. Kita merasa sumbangan kita kecil dan tidak memberi apa-apa pada dunia sekeliling kita. Akibatnya, kita merasa tidak puas diri dan merasa marah serta kecewa pada diri sendiri. Sabda hari ini mengingatkan kita betapa Tuhan mengasihi kita meskipun kita buta, tidak sempurna dan tak berdaya sekalipun.

Tuhan ingin kita menjadi anak-anak terang. "Terang" berarti kehadirannya membawa sukacita dan mendekatkan orang lain pada Tuhan sendiri. Jika kita masih hidup dalam ketakutan dan kekuatiran akan diri sendiri saja, mana bisa kita menjadi terang? Tentu kita membutuhkan Allah, agar dijauhkan dari perasaan kecil, tak berarti dan berujung pada hidup yang tak melakukan apa apa dan malas berbuat baik. Kita harus hidup dan ikut menyemarakkan dunia dengan perbuatan baik, agar menjadi terang dunia itu. Bagai lilin-lilin kecil, jika banyak, maka terang juga sekelilingnya.

Kita semua bukan manusia yang sempurna. Kita mungkin seperti orang buta dalam Injil, tetapi Tuhan telah membuka mata kita melalui pengetahuan tentang baik dan buruk. Melalui homili, bacaan, pengajaran iman, kita semakin mengenal Allah. Pengetahuan dan pengenalan ini menjadi modal bagi kita sendiri untuk semakin percaya. Kita punya banyak hal yang bisa diberikan, tetapi iman kepada Allah adalah yang terbesar, karena Ia melampaui keterbatasan kita.

Jika kita mampu mengatasi keterbatasan diri, maka kita dijauhkan dari perasaan negatif dan menjadi orang yang penuh iman, keberanian mengalami perubahan setiap hari dan menjadi semakin dekat dengan Allah, karena percaya akan penyelenggaraan-Nya dalam hidup kita. Mari percaya, mari mengenal Tuhan, dan mari semakin diselamatkan dan menyelamatkan saudara kita yang lain.
 

Pertanyaan reflektif:

Sudahkah kita menjadi terang bagi orang-orang di sekeliling kita?
 

Marilah berdoa:

Ya Allah, jauhkan aku dari kesempitan cinta diri dan buatlah aku terbuka pada penderitaan sesama. Aku akan menjadi kuat karena percaya pada penyelenggaraan-Mu. Aku akan menjadi terang bagi sesama yang buta dan ingin melihat Engkau. Kiranya rahmat Roh Kudus memampukan aku mengalami kebaikan-Mu setiap hari. Amin.
 

(RP. Alexander Erwin Santosa, MSF)