19 Maret 2017: Beriman itu perlu hati dan "waktu"




Minggu, 19 Maret 2017
Hari Minggu Prapaskah III
Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42

BERIMAN ITU PERLU HATI DAN "WAKTU"
 

"Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberikan segala sesuatu kepada kami."
(Yoh. 4:25)
 

Dalam suatu perayaan Ekaristi syukur atas pesta perak Imamatnya, Imam yang berpesta berbagi pengalaman imannya akan kasih dan kebaikan Tuhan. Selama ini ia mengalami banyak berkat terutama rahmat kesehatan dan bahkan merasakan sebagi pribadi yang kuat. Menjelang perayaan pesta peraknya ia mengalami gangguan kesehatan yang sering ditandai dengan rasa lemas dan kurang bersemangat. Pada waktu diperiksa kesehatannya, betapa mengagetkan mengetahui bahwa dalam jantungnya sudah terjadi blok yang sedemikian hebat sampai mengagetkan dokter yang memeriksanya. Mengingat kondisi kritis tersebut dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi By-pass, imam tersebut tidak bisa lain kecuali menurut dan percaya kepada Tuhan meskipun tetap disertai rasa takut luar biasa.

Setelah selesai operasi dan menjalani perawatan lanjut, kondisi semakin membaik dan pulih. Peristiwa operasi jantung untuk menyelamatkan anugerah kehidupan dari Tuhan sungguh menyadarkan bahwa hidup semata-mata anugerah dari Tuhan dan kasih Tuhan itu memang luar biasa. Selama ini bukannya tidak percaya namun lebih meyakini dalam level pikiran dan kata. Sekarang pengalaman tersebut sungguh hidup dan dirasakan dalam keseluruhan pribadi. Menjadi sungguh beriman ternyata tidak bisa instan dan cepat, namun membutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati serta waktu yang panjang.

Kisah percakapan Yesus dengan perempuan Samaria menggambarkan proses yang amat panjang sampai pada titik di mana perempuan Samaria menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Juruselamat. Ia tidak bisa mendadak sampai pada keyakinan tersebut. Dibutuhkan perjumpaan, perbincangan untuk semakin mengenali pribadi Yesus. Yesus Sang Juruselamat penuh misteri bagi kita manusia yang lemah ini. Untuk beriman kepada-Nya dibutuhkan sikap keterbukaan dan kerendahan hati disertai pertobatan. Tidak jarang kita dituntut untuk melepaskan diri dari berbagai motivasi manusiawi dan semangat mengandalkan kekuatan diri. Kita diajak untuk sampai pada titik di mana kita percaya dan tergantung sepenuhnya pada Yesus.
 

Pertanyaan reflektif:

Pernahkah aku mengalami peristiwa hidup yang membuat semakin disadarkan akan kasih dan kuasa Tuhan? Jangan-jangan aku belum melepaskan diri dari berbagai sikap dan sifat yang lebih mengandalkan diri dari pada mengandalkan Tuhan.
 

Marilah berdoa:

Tuhan, anugerahkanlah kepadaku keterbukaan dan kerendahan hati dalam menjalani waktu-waktu hidupku. Semoga semuanya membawa aku semakin mengenal dan beriman kepada-Mu.
 

(RD. Y. Purbo Tamtomo)