13 Maret 2017: Hari Biasa Pekan II Prapaskah




Hari Biasa Pekan II Prapaskah
Dan. 9: 4b-10; Mzm. 79:8, 9,11, 13; Luk. 6: 36-38

KEMURAHAN HATI

Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu murah hati
(Luk. 6:36)

 

Saya mempunyai kesan mendalam pada seorang imam yang sudah lanjut usia, dimana saya tinggal 2 tahun bersama beliau. Dalam hidup kesehariannya, dia tak terlalu banyak kata. Namun, sikap dan tutur katanya sangat berbicara banyak bagi saya. Dan bahkan penuh dengan kedalaman insani dan rohani. Di sore hari saya luncurkan kendaraan saya menuju pastoran tempat saya tinggal. Tak sengaja, di depan pintu gerbang yang sedang terkunci ada beliau yang sedang olah raga. Dengan begitu cepat dan gesit beliau langsung mengambil kunci pintu gerbang dan membukakan pintu untuk saya. Sungguh pada saat itu saya merasa tidak enak. “Udah..udah Romo, jangan…biar saya saja yang membuka”, tegasku kepadanya. Dengan
wajah senyumnya yang tulus dia berkata,”Ga papa Romo, saya bisa kok, sekaligus olah raga tangan (dengan nada bercanda yang memang biasa dia lakukan pada kami). Makasih Romo” , tegasku sekali lagi kepadanya.

Bukan hanya pengalaman ini saja yang saya temukan dari beliau. Di saat pagi, ketika kami sarapan bersama, beliau selalu mencuci piringnya sendiri. Dan bahkan tak jarang sikapnya yang baik hati ini, mendorong kami juga terlibat. Beliau pribadi yang tidak terlalu banyak bicara, namun sekali lagi sikap dan tuturkatanya berbicara banyak untuk kami yang tinggal satu rumah. Suatu saat saya juga datang kepadanya dan mengatakan,”Romo, apakah romo ada waktu. Saya ingin mengaku dosa?” Dia langsung menjawab, “O, ada dong! “Mari, kita menuju kamar saya ya”, katanya kepadaku, sembari kami menuju ke kamar beliau. Setelah selesai pengakuan dia berkata,”Romanus, sekarang gantian ya, saya mengaku dosa dengan kamu”. Sontak saya agak kaget dan tetap menjawab,”Baik Romo.” (pengakuan dosa dalam hal ini sebagai sesuatu yang biasa sebagai sesama imam, namun hati saya pada saat itu cukup tersapa dengan kemurahan hati beliau).

Pengalaman-pengalaman di atas membantu saya untuk merenungkan apa yang Tuhan katakan pada hari ini. “Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu murah hati”. Kemurahan hati bukan terwujud dalam kata-kata saja, tetapi dalam kesaksian hidup. Kemurahan hati mewujud dalam sikap sehari-hari. Kemurahan hati tak pernah menggunakan “topeng”. Semua mengada dalam ketulusan. Tak ada pamrih. Tak ada kepalsuan. Yang ada hanya dalam ketulusan. Inilah yang saya temukan pada sosok pribadi seorang imam yang sudah usia, di mana saya tinggal bersama. Ketulusan hati muncul dalam pribadi yang tak pernah banyak kata-kata. Hadir dalam pribadi yang tak hanya berteori tentang “omongan yang suci-suci”, melainkan dari sikap hati sehari-hari yang memberi teladan kesucian. Kerap kali saya merenungkan kebaikan Tuhan dalam rahmat yang Dia berikan kepada kita. Mengapa Tuhan memberi 2 telinga dan satu mulut? Terkadang ku renungkan semua ini, dengan harapan bahwa Tuhan mengajak saya untuk lebih banyak mendengarkan dari pada berucap kata-kata. Mengapa Tuhan begitu banyak memberi dari anggota tubuh kita berjumlah dua dua? Dia menghendaki agar kita saling mengisi, berbagi dan kerjasama. Kemurahan hati inilah yang mendasari semua keutamaan-keutamaan yang lainnya, seperti: berbagi, ramah, mengampuni, berani merendahkan diri dll.

Makna kata “murah hati” dalam pengertian bahasa Ibrani adalah rahamim. Kata rahamim lebih menunjukkan kasih seorang ibu (rehem: Rahim ibu). Maka, arti ini bisa kita lihat dari kasih seorang ibu yang begitu mendalam kepada anaknya. Seorang ibu yang mengandung dan melahirkannya. Normalnya, seorang ibu itu akan sangat sayang dan mencintai anaknya. Dengan demikian, kasih rahamim ini adalah kasih yang memuat kebaikan dan kelembutan. Kasih yang penuh dengan kesabaran dan pengertian. Kasih yang terus menerus mau memelihara dan mengampuni. Kasih rahamim adalah kasih yang dianugerahkan dan bukan karena jasa. Sebagaimana seorang bayi dalam kandungan menerima kasih sayang dan perlindungan dari ibunya, bukan karena si bayi berjasa. Melainkan murni berkat kemurahan hati sang ibu melalui kasihnya. Maka, dalam masa prapaskah ini, taburkanlah kemurahan hati bagi siapa saja. Laksanya Bapa menaburkan kemurahan hati bagi kita semua, tanpa pilih kasih.
 

Pertanyaan reflektif:

Sudah murah hatikah hidupku?
 

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarilah kami murah hati, sebagaimana Engkau murah hati. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.
 

(RD. Romanus Heri Santoso)