8 Maret 2017: Hari Biasa Pekan I Prapaskah




Hari Biasa Pekan I Prapaskah
Yun. 3:1-10; Mzm. 51:3-4, 12-13, 18-19; Luk. 11:29-32

TANDA ITU ADALAH KITA

“Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Ninive, demikian pulala Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.”
(Luk. 11:30)

 

Gandhi adalah salah seorang tokoh terkenal. Ia berasal dari India. Ia pernah tinggal di Afrika Selatan. Mungkin tidak banyak yang tahu, Gandhi muda pernah berniat menjadi Kristen. Pada suatu hari, saat Gandhi tinggal di Afrika Selatan, masuklah ia ke sebuah gereja. Sayang, ia ditolak bergabung di gereja itu. Jemaat Kristen di gereja itu mayoritas berkulit putih. Ia disarankan masuk ke gereja lain yang mayoritas kulit hitam. Karena pengalaman ini, ia mengurungkan niatnya menjadi orang Kristen.

Kekecewaan Gandhi terungkap dalam dialog yang terjadi antara Gandhi dan seorang misionaris bernama E. Stanley Jones. Jones bertanya, “Sekalipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda kelihatannya keras menolak untuk menjadi pengikutNya? Jawab Gandhi, “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda.” Ia menambahkan, “Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini,” katanya lagi.

Kekecewaan Gandi menginspirasi kita mengenai pentingnya kesaksian hidup yang tepat. Kesaksian hidup adalah tanda yang kelihatan yang mempermudah orang lain mengenali pesan yang ada di balik tanda itu. Seharusnya, orang kristiani bersikap menerima semua orang tanpa membedakan suku, ras, tingkat ekonomi karena sikap ini menjadi tanda kelihatan yang mempermudah orang memahami ajaran Yesus yang mengasihi semua orang.

Pentingnya tanda menghantar kita untuk memahami mengapa Yesus mengangkat kisah tentang Yunus. Kisah tentang nabi Yunus mudah diingat. Dialah satu-satunya nabi yang pernah hidup 3 hari dalam perut ikan. Kisah berawal dari saat Tuhan Allah mengutus Yunus untuk mempertobatkan bangsa Ninive. Tetapi Yunus menolak. Ia berniat untuk melarikan diri dari tugas itu dengan pergi ke Tarsis. Dalam perjalanan dengan kapal, terjadi badai hebat. Singkat cerita Yunus mengaku sebagai penyebab badai itu dan merelakan diri untuk dilempar ke laut. Ia kemudian dilempar ke laut dan ditelan oleh seekor ikan. Yunus berada dalam perut ikan selama 3 hari. Di dalam perut ikan ini, Yunus bertobat dan menyadari panggilan baginya adalah menjadi alat Tuhan untuk mempertobatkan bangsa Ninive. Allah menghendaki Ninive bertobat dan selamat. Yunus harus mau untuk mewartakan pertobatan itu.

Menceritakan kembali kisah tentang Yunus ini penting bagi Yesus. Pada waktunya, Yesus akan menderita sengsara dan wafat. Selama 3 hari Ia akan berada di dalam kubur. Jika para murid dan orang banyak memahami makna dan tujuan Allah memasukkan Yunus selama 3 hari dalam perut ikan, maka para murid dan orang banyak akan mudah memahami maksud dan tujuan wafat Yesus. Allah menghendaki manusia selamat.

Saat ini pewartaan tentang makna wafat Yesus sudah sering kita dengar. Guru agama di sekolah, katekis di paroki, para fasilitator pertemuan di lingkungan, kotbah Pastor di Gereja. Mereka menyatakan bahwa Yesus wafat untuk menebus dosa kita. Mereka menyerukan agar kita harus bertobat supaya selamat. Tanpa bermaksud untuk meragukan pewartaan mereka, kita pun dapat membaca sendiri Kitab Suci yang telah ditulis dalam bahasa kita. Orang-orang itu, atau Kitab Suci adalah tanda yang digunakan oleh Allah untuk membantu pertobatan kita.

Pada gilirannya, pertobatan dan tingkah laku kita menjadi tanda bagi orang lain untuk melihat seperti apa ajaran Yesus itu.
 

Pertanyaan reflektif:

Sudahkah kita bertobat, sudahkan tingkah laku kita mencerminkan ajaran Yesus?
 

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, Engkau mengasihi setiap orang. Kuatkanlah aku agar supaya mampu mengasihi sesama kami supaya setiap orang melihat kasih Allah bagi mereka. Amin.
 

(ML Supama)