Renungan Harian APP: 6 Maret 2017




Hari Biasa Pekan I Prapaskah
Im. 19:1-2,11-18; Mzm. 19:8,9,10,15; Mat. 25:31-46

INGIN BERJUMPA YESUS?

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus kamu memberi Aku minum....” (Mat. 25:35)
 

Mak Yati bukan orang Katolik. Ia juga bukan orang kaya. Mak Yati hanyalah seorang pemulung di bilangan Tebet. Kisahnya pernah membuat haru. Di suatu hari Raya Idul Adha ia berkurban dua ekor kambing. Sebenarnya, penghasilannya sebagai pemulung hanya pas-pasan saja untuk makan. Namun, ia bertekad untuk berkurban. Selama 3 tahun ia menabung dari hasil memulung. Pada hari Raya Idul Adha ia membeli dua ekor kambing untuk disumbangkan ke mesjid. Kisah Mak Yati mengingatkan kita, bahwa iman harus diungkapkan melalui perbuatan nyata.

Bagaimana cara mengungkapkan iman kita? Dalam bacaan pertama (Kitab Im. 19:11 dst) beriman diungkapkan dengan tidak melanggar perintah Tuhan “janganlah kami mencuri, janganlah kami berbohong, dan janganlah kami berdusta......dst.” Dalam bacaan Injil, beriman diungkapkan dengan mengasihi sesama “....sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untuk aku” (Mat. 25:40). “.... sesungguhnya, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Mat. 25:45).

Dua bacaan ini menginspirasi kita mengenai tingkatan beriman. Tingkat pertama, ungkapan iman dengan melakukan aturan-aturan keagamaan. Dalam peraturan, ada perintah ada larangan. Beriman artinya melakukan hal yang diperintahkan dan menghindari hal yang dilarang. Tingkat kedua, ungkapan iman melalui perbuatan melampaui aturan-aturan kegamaan. Sebagai pengikut Yesus, beriman artinya melakukan tindakan baik melebihi peraturan agama. Merayakan Ekaristi, berdevosi kepada Bunda Maria dan santo dan santa, membaca Kitab Suci adalah ungkapan iman yang baik. Namun iman kita akan menjadi lebih sempuna apabila kita juga mengasihi sesama. Yesus menunjuk dengan jelas siapa sesama itu, yaitu orang yang lapar, orang haus, orang asing, orang yang tidak punya pakaian (telanjang), orang sakit, orang yang dipenjarakan. Dalam masyarakat Yahudi, orang-orang demikian adalah orang-orang terbuang dari kelompok masyarakatnya.

Acapkali kita memang lebih senang berada di zona nyaman. Menolong orang yang compang-camping nyaris telanjang, yang kurus kelaparan, yang kejang kesakitan, terlunta-lunta tak tentu tempat tinggalnya, yang meringkuk dalam penjara membutuhkan niat dan usaha yang keras. Kemanusiaan kita tidak tahan berhadapan muka dengan segala bentuk sakit, dan penderitaan. Kisah orang-orang sederhana yang mampu mengungkapkan imannya moga-moga mendorong kita peduli pada orang-orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Kita harus bisa menolong orang yang menderita karena dalam diri orang-orang yang menderita kita melihat Yesus.

Pertanyaan reflektif:

  1. Sampai pada level berapakah ungkapan iman Anda, pertama atau kedua?
     

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukan kami untuk mengungkapkan iman kami dengan peduli pada sesama yang membutuhkan pertolongan. Amin.

(J. Sigit Prasadja, SJ)

sumber: Buku Renungan APP 2017