Renungan Harian APP: 4 Maret 2017




Hari Sabtu sesudah Rabu Abu
Yes. 58: 9b-14; Mzm. 51:3-4,5-6a, 18-19; Luk. 5: 27-32

KAPOK LOMBOK

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk. 5:31)
 

Kapok Lombok. Di dalam budaya Jawa, ada istilah “kapok lombok” (kapok=bertobat, lombok= cabe). Terjemahan bebas bahasa Indonesia, kurang lebih berarti “bertobat tapi tidak sungguh-sungguh, dan masih sering mengulanginya”. Orang akan merasa kepedesan kalau makan cabe, dan menyatakan stop tidak makan cabe lagi. Tobat tidak mau makan cabe lagi. Tapi kenyataannya berbeda. Orang akan selalu mengambil cabe untuk dimakan di lain waktu. Stop makan cabe, ternyata akan selalu dilanggar. Orang tidak bisa meninggalkan cabe, walaupun seringkali sengsara karena kepedesan. Kepuasan karena cabe ternyata menjadi fokus, yang berarti diri kita pula yang menjadi fokus.

Seringkali kita dihadapkan pada kejadian hidup seperti konteks “kapok lombok”, kita merasa yakin menghentikan sesuatu yang terasa tidak baik, namun ternyata kita kecanduan dan mengulanginya lagi. Entah berupa makanan, minuman, situasi, kesenangan, hobi, dan lain sebagainya. Seringkali pula hal-hal yang terkait dengan dosa terkena kebiasaan “kapok lombok” ini.

Dosa biasanya bersifat berulang, dosa masalah habitus (habit – kebiasaaan). Sekali berbuat dosa, kali lain akan mengulang dosa yang sama tersebut. Orang tahu dan paham bahwa yang dilakukannya adalah sebuah dosa dan biasanya orang yang masih punya kesadaran, akan menyesalinya dan bertobat, membangun niat agar tidak mengulanginya. Namun biasanya, entah karena dosa membawa kenyamanan, membawa kenikmatan, dan juga karena kelemahan manusiawi, dosa yang sama akan diulang lagi. “Kapok lombok” terjadi.

Bacaan Injil hari ini memberi gambaran bahwa Yesus sengaja datang pada orang yang berdosa, supaya orang berdosa bertobat. Orang berdosa menjadi fokus Yesus dan karya keselamatannya. Manusia yang berdosa diharapkan sungguh-sungguh bertobat, tidak sekedar “kapok lombok” dan kemudian mengulangi dosa yang sama, bahkan kemudian menambah dosa baru. Pertobatan seperti Lewi dalam Injil Lukas yaitu meninggalkan segala sesuatu (yang bisa kita pahami sebagai sesuatu, situasi, kondisi yang dekat pada dosa) kiranya menjadi salah satu cara kita bertobat. Kemudian pertobatan diwujudnyatakan dengan cara membagikan dan mewartakan pertobatan kepada orang lain, seperti Lewi yang mengundang para pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama agar bisa mengenal Yesus yang sudah mempertobatkannya. Lewi ingin agar orang berdosa yang lain juga alami pertobatan. Lewi ingin agar orang berdosa juga mengalami Allah.

Pertanyaan reflektif:

  1. Apakah aku mempunyai pengalaman untuk bangkit dan bertobat yang bukan a’la “kapok lombok”? Bila tidak mempunyai, adakah faktor yang menyebabkan aku masih belum berani meninggalkan pola “kapok lombok”?
  2. Adakah cara praktis yang bisa kulakukan agar aku sungguh mampu mengalami pertobatan sejati seperti Lewi dalam bacaan Injil?
     

Marilah berdoa:

Allah yang Maharahim, bantulah aku agar pertobatan makin mampu mewarnai arah hidupku dan menumbuh-kembangkan niat baik berbagi dengan sesamaku sebagai pilihan pertama dalam hidupku. Beri aku kekuatan agar gerak langkahku pun makin mempunyai arti bagi sesamaku yang berkekurangan. Amin.

(J. Sigit Prasadja, SJ)

sumber: Buku Renungan APP 2017