Renungan Harian APP: 1 Maret 2017




Hari Rabu Abu, Pantang Puasa
Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Mat. 6:1-6.16-18

BERLANJUT KE KEDALAMAN

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat. 6:18).
 

Saya dulunya adalah perokok berat. Minimal sebungkus rokok sehari. Sudah banyak orang memberi masukan dan sudah banyak artikel kesehatan yang saya baca, namun yang namanya kenikmatan merokok, tetap tidak bisa kutinggalkan. Bahkan pada masa Prapaskah pun, saya memilih untuk berpantang yang lain, asal bukan pantang rokok. Bagi saya merokok adalah sebuah pilihan yang tak tergantikan. Saya tidak sadar bahwa asap rokok yang saya hasilkan mengganggu dan mencelakakan orang lain di sekitarku. Saya tidak sadar bahwa saya sudah memaksa orang di sekitarku menerima akibat dari perbuatanku. Saya tidak sadar sudah bersikap demikian tidak adil terhadap sesamaku.

Sampai suatu saat entah ide darimana saya tidak bisa mengingatnya, saya ingin mencoba menghentikan rokok dengan cara merohanikannya. Saya kemudian menyiapkan diri merohanikan niat berhenti merokok dalam bulan Mei, bulan Maria. Devosi saya pada Bunda Maria saya wujudnyatakan dengan pantang merokok selama sebulan. Persis pukul 00.00 tanggal 1 Mei 1996, saya memulai pantang rokok. Dan ternyata hari-hari pertama dengan mudah bisa saya lalui, dan kemudian genaplah satu bulan penuh pantang rokok. Metode yang sama saya ulangi di Bulan Oktober, bulan Rosario.

Alasan devosi pada Bunda Maria kembali muncul. Dan ternyata satu bulan penuh bisa berjalan dengan baik. Di tahun berikutnya, kembali ritual pantang rokok di bulan Devosi Maria, bulan Mei saya ulang dan berjalan lancar. Pada saat-saat itulah saya yakin bahwa saya bisa mengontrol keinginan merokok, dengan bantuan dan landasan rohaniah, devosi pada Bunda Maria. Di saat yang sama pula saya meyakinkan diri saya kalau ternyata saya bisa mengontrol kehendak merokok dan berhasil mengalahkannya.

Saya puas bisa berhenti merokok, semua orang tahu saya bisa dan mampu berhenti merokok. Orang tahu kalau saya berhasil berhenti merokok karena alasan rohani, orang merasa bahwa ternyata saya termasuk orang yang cukup taat beragama. Saya senang dengan penilaian orang dan larut dalam rasa bangga. Persis seperti bacaan Injil Matius di atas, saya seakan memproklamasikan hal rohani yang sedang saya lakukan, saya tidak menyimpannya untuk Tuhan. Saya merasa menjadi seperti orang yang munafik. Karena rasa puas dan bangga tersebut, saya kurang berani masuk ke kesadaran lebih lanjut, kurang berani masuk memaknai peristiwa ini. Saya menyesal levelku hanya sampai di sana, tidak berlanjut ke kedalaman. Berhenti merokok sendiri sudah cukup baik, namun seandainya aku berani berpikir lebih untuk orang lain, aku akan lebih berguna bagi sesama. Seandainya jatah uang rokok bisa kuintensikan untuk orang miskin, kusumbangkan bagi mereka, alangkah bagusnya. Aku makin bisa peka terhadap kebutuhan sesamaku.

Pertanyaan reflektif:

  1. Kapankah aku merasakan adanya rasa bangga akan keberhasilanku, dan melupakan aspek yang lebih penting, semisal belarasa dan adil terhadap sesama?
  2. Hal-hal apa yang masih kurasakan menutupi hatiku sehingga aku kurang bisa bersikap adil terhadap sesamaku?
     

Marilah berdoa:

Ya Allah yang Maharahim, aku mohon sikap kerendahan hati agar makin mampu membuka mata dan telinga sehingga makin mampu bersikap adil dan berbelarasa terhadap sesamaku, terutama yang membutuhkan. Amin.

(J. Sigit Prasadja, SJ)

sumber: Buku Renungan APP 2017