Surat Gembala Hari Disabilitas Internasional


SURAT GEMBALA
HARI DISABILITAS INTERNASIONAL 2016

(Disampaikan sebagai pengganti khotbah,
pada Misa Sabtu/Minggu, 3/4 Desember 2016)

"BIARKANLAH MEREKA DATANG PADA-KU"

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

Pertama, pada 3 Desember ini, dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional. Sejak 1992, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menetapkan 3 Desember sebagai hari penyandang disabilitas internasional. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kita, yang sering lupa, agar lebih peduli kepada saudari-saudara kita yang menyandang kekhususan fisik, indera, mental, ataupun intelektual, yang mengakibatkan keterbatasan dalam pola hidup pribadi maupun hidup sosial mereka.

Kedua, penyandang disabilitas adalah ‘minoritas terbesar’ di dunia. Menurut data PBB, ada sekitar satu milyar penduduk dunia, atau sekitar 15 persen yang menyandang disabilitas ini. Sekitar 80 persen dari jumlah itu ada di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Sosial, pada 2010, jumlah penyandang disabilitas adalah 11.580.117 orang. Di antaranya 3.474.035 (penyandang disabilitas penglihatan atau tunanetra), 3.010.830 (penyandang disabilitas fisik atau tuna daksa), 2.547.626 (penyandang disabilitas pendengaran atau tuna rungu), 1.389.614 (penyandang disabilitas mental atau tuna grahita) dan 1.158.012 (penyandang disabilitas kronis lainnya, termasuk autisme). Di tengah kita juga kita saksikan banyak saudari dan saudara kita yang menyandang disabilitas ini. Belum ada angka yang pasti mengenai hal ini di Keuskupan Agung Jakarta. Tetapi jika kita ambil angka lima persen saja, ada kira-kira 25 ribu penyandang disabilitas di Keuskupan Agung Jakarta ini. Perlu kita ketahui bahwa mayoritas para penyandang disabilitas ini menanggung banyak tekanan sosial karena kurang dipahami, bahkan dikucilkan. Tidak sedikit juga saudari-saudara kita ini yang mengalami diskriminasi di tempat kerja sehingga tekanan sosial yang mereka tanggung menjadi lebih berat lagi. Hal inilah yang membuat peringatan hari disabilitas ini penting, juga penting untuk kita sebagai pengikut Kristus.

Ketiga, sangatlah jelas bahwa Yesus mengajar kita dan memberi teladan kepada kita dalam bersikap kepada saudari-saudara kita yang mempunyai kekhususan dan yang kemudian disingkirkan masyarakat. Yesus tidak membeda-bedakan apalagi meminggirkan mereka. Ia menyapa orang buta, orang tuli, orang lumpuh, bahkan juga orang kusta (Mat 8:3). Ia mau makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa yang dijauhi orang (Mat 9:10). Ia pun membiarkan anak-anak datang pada-Nya, meskipun para murid memarahi orang-orang yang membawa mereka (Mat 19:13-14). Ia juga menyatakan, “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Yesus jelas mengajarkan bahwa setiap pribadi manusia berharga di mata Allah Bapa. Setiap pribadi manusia mempunyai martabat luhur, dengan keterbatasan masing-masing.

Keempat, mengikuti ajaran Yesus ini, Paus Fransiskus dalam perayaan Ekaristi untuk para penyandang disabilitas 12 Juni 2016 lalu, juga menyebutkan pentingnya perhatian kita kepada para penyandang disabilitas. Mereka membutuhkan kepedulian, sapaan dan pelayanan kasih kita. Kehadiran para penyandang disabilitas memberi kesempatan lebih dalam bagi kita untuk menumbuhkan kasih yang ditaburkan Allah Bapa pada kita agar berbuah lebat. Khususnya pada Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, kita diingatkan akan panggilan kita agar kita “murah hati, sama seperti Bapa adalah murah hati” (bdk. Luk 6:36).

Kelima, Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini mengingatkan kita bahwa Allah ‘akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan dengan kejujuran akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri ini’ (Yes 11:4). Artinya kita dipanggil untuk mewujudkan keadilan Tuhan itu di tengah masyarakat dan Gereja kita, supaya ‘tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan’ (Yes 11:9). Harapan yang sama disampaikan Rasul Paulus agar kita menerima ‘yang satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita untuk kemuliaan Allah’ (Rm 15:7). Itulah kiranya yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembaptis dengan pertobatan, yang dalam bahasa Injil berarti menyiapkan jalan untuk Tuhan, agar hidup kita menghasilkan buah-buah kebaikan (Mat 3:1-12).

Keenam, sebagai tanda pertobatan itulah, kita perlu meningkatkan kepedulian kita kepada para penyandang disabilitas. Pada kesempatan ini pula, baiklah saya sampaikan kepada saudari-saudara dan anak-anak yang menyandang disabilitas bahwa saudari-saudara dan anak-anak sekalian adalah anak-anak Allah Bapa yang terkasih, yang berkenan kepada kepada saudari-saudara dan anak-anak sekalian. Saudari-saudara dan anak-anak sekalian sungguh berharga di mata-Nya, demikian juga bagi Gereja. Bahwa kami masih belum sungguh mengerti dan memahami, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekarang saatnya kita berjalan bersama sebagai keluarga. Tidak lupa, kita ucapkan banyak terimakasih kepada mereka yang selama ini memberi teladan kepedulian itu, baik lembaga sosial, komunitas, maupun pribadi. Secara khusus kita ucapkan terimakasih kepada orang-tua dan keluarga yang setia mendampingi anak-anak dan anggota keluarganya yang menyandang disabilitas. Kita berterimakasih karena teladan kesetiaan, kesabaran, dan cinta-kasih yang telah mereka tunjukkan adalah jawaban terhadap panggilan Allah Bapa untuk menjadi makin berbelas-kasih seperti Bapa yang berbelas-kasih.

Saudari-saudara yang terkasih,

Ketujuh, pertobatan batin yang sejati perlu diikuti tindakan yang nyata. Dalam rangka Hari Disabilitas Internasional ini, kita dapat mewujudkan pertobatan kita itu, antara lain menerima dengan kasih saudari-saudara kita dan anak-anak kita yang menyandang disabilitas, ikut menguatkan keluarganya dengan tidak mengasingkan mereka dari tengah kita. Bagi saudari-saudara kita dan anak-anak kita itu, misalnya, perlu disediakan prasarana dan sarana agar dapat ikut serta dalam perayaan Ekaristi mingguan bersama umat, tidak hanya perayaan Ekaristi yang khusus saja. Dalam perayaan bersama itu akan ada perjumpaan yang saling menumbuhkan dan menguatkan. Tidak cukup kalau paroki hanya melayani perayaan Ekaristi khusus bagi saudari-saudara dan anak-anak kita itu.

Kedelapan, demikian halnya lembaga pendidikan Katolik, sesuai kemampuannya, dihimbau untuk tetap menerima penyandang disabilitas ini bersama siswi-siswa lain. Kita berharap bahwa kebersamaan itu pun membuat kedua belah pihak dapat saling belajar. Tentu, tidak berarti bahwa lembaga-lembaga pendidikan khusus tidak lagi diperlukan. Kehadiran mereka tetap mutlak perlu, bahkan harus kita dukung karena kekhususan para penyandang disabilitas perlu diperhatikan secara intensif oleh pendamping yang ahli di bidangnya.

Kesembilan, akhirnya, marilah kita saling mendoakan, agar kita masing-masing, keluarga-keluarga dan komunitas kita serta seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta terus berkembang menjadi pribadi-pribadi yang semakin bertumbuh dan berbuah. Semoga semangat rohani sebagai murid yang mau tumbuh dan berbuah itu semakin mendorong kita semua untuk semakin peduli kepada sesama, khususnya saudari-saudara dan anak-anak kita yang menyandang disabilitas. Terima kasih atas berbagai peran Ibu, Bapak, Suster, Bruder, Para Imam dan Frater, Kaum Muda, Remaja serta Anak-anak dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai bersama. Berkat Tuhan selalu menyertai kita semua, keluarga-keluarga dan komunitas kita. Semoga pula Bunda Maria selalu mendoakan kita.

 
 
I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta