Homili Minggu Biasa XXIV


Pengantar

Dalam perayaan Ekaristi hari ini kita mendengarkan Injil Lukas Bab 15 yang pendek: ayat 1-10, yaitu perumpamaan tentang domba yang hilang (ay. 3-7) dan tentang dirham seorang perempuan yang hilang (ay. 8-10). Perumpamaan ini tidak hanya ditujukan kepada kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, tetapi juga berlaku bagi kita.

Homili

Sangat menarik bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat heran dan mengeluh, bahwa Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa, termasuk kaum pemungut cukai, bahkan Ia mau makan dengan mereka! Itulah kenyataan yang sukar diterima oleh orang-orang, yang secara resmi atau formal merasa dirinya sebagai orang-orang yang benar, dan mereka ini merasa harus menjauhkan diri dari kaum pendosa. Sebaliknya, orang-orang yang dalam masyarakat dianggap sebagai pendosa, justru ingin dan mau mendengarkan ajaran yang disampaikan Yesus kepada mereka. Ternyata mereka ini tidak merasa diadili dan ditolak, melainkan justru diterima oleh Yesus. Yesus datang memang untuk menolong, bukan untuk mengusir orang berdosa! Ia menyembuhkan orang sakit, menyelematkan orang-orang yang tersisih dan tak dihargai. Justru orang-orang yang lemah merupakan sasaran utama perhatian Yesus.

Untuk menerangkan perumpamaan tentang domba yang hilang, Yesus mengajukan pertanyaan: "Siapa di antara kamu yang punya seratus ekor domba, bila kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun, dan pergi mencari satu yang hilang sampai menemukannya?" Dapat dikatakan bahwa pada umumnya jawaban orang kepada pertanyaan Yesus itu adalah negatif, dan perbuatan itu dianggap sebagai tidak masuk akal. Seperti diungkapkan dalam pepatah ini: "Apakah lebih baik memiliki seekor burung daripada melepaskan dan membiarkan seratus burung terbang di udara?".

Memang tidak ada seorang gembala yang akan berbuat demikian. Tetapi Yesus menerangkan, bahwa hanya Allahlah yang akan lebih mencari dahulu domba yang hilang. Hanya Allah dapat bersikap seperti itu. Yesus menerangkan itu, agar kita ini menjadi sadar akan kesamaan hati kita masing-masing, sama seperti hati yang dimiliki oleh kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka itu meninggalkan, menghindari, menjauhkan diri dari orang-orang yang dianggap sebagai pendosa. Mereka tidak akan mendekati orang-orang lemah. Mereka lebih mengasihi dan lebih dekat dengan sembilan puluh orang yang dianggap baik. Tetapi Yesus ternyata berbuat lain! Ia lebih memilih untuk mencari dan mendekati domba yang hilang.

Dalam perumpamaan itu Yesus mau mengatakan kepada orang-orang pemungut cukai dan orang-orang berdosa, yakni termasuk kita semua, bahwa : "Apabila kamu merasa dirimu sebagai seorang pendosa yang tersingkirkan, yakinlah bahwa bagi Allah kamu lebih berharga daripada sembilan puluh sembilan domba." Dan apabila kamu bertobat dan diampuni dosamu, ketahuilah bahwa di surga ada kegembiraan lebih besar bagi seorang berdosa yang bertobat daripada sembilan puluh sembilan orang yang merasa dirinya sudah benar, tetapi sebenarnya juga perlu bertobat!

Selanjutnya Yesus menyampaikan perumpamaan tentang dirham yang hilang. Ia berkata: "Perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?" Dalam perumpamaan ini Yesus mengingatkan dan menyadarkan kita segenap umat kristiani, tanpa kekecualian, yaitu awam, biarawan-biarawati, imam, uskup, kardinal, Paus, bahwa hidup kita pada dasarnya adalah selalu berarti dicari dan mencari.

Dalam perumpamaan ini Yesus mau menerangkan, bahwa kita ini dalam hidup kita selalu dicari oleh Tuhan untuk diselamatkan, baik bila kita hidup dalam kegembiraan, kesejahteraan, ketenteraman, maupun apabila kita juga mengalami kesulitan, kekecewaan, penderitaan dan dosa. Tetapi sekaligus, di samping dicari oleh Tuhan untuk diselamatkan, kita pun harus juga ikut mencari sesama kita untuk dapat ikut menyelamatkannya. Kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan, bahwa kita diselamatkan oleh Kristus. Tetapi bukan hanya memikirkan diri kita sendiri, melainkan sekaligus selalu ingat akan sesama kita, agar mereka juga dapat menerima kasih Kristus. Seperti si perempuan bersukacita, karena dirhamnya yang hilang diketemukan kembali, marilah kita juga bersukacita apabila ada sesama kita yang "hilang", atau tidak hidup menurut kehendak Allah, akhirnya berkat doa, keprihatinan dan ikhtiar kita dapat menerima lagi kasih Allah Penyelamatnya.

Marilah kita semua sebagai umat beriman krisitani dan sebagai Gereja berusaha ikut memiliki dan menghayati semangat dan jiwa gembala yang mencari domba yang hilang, dan memiliki semangat dan jiwa perempuan yang mencari dirhamnya yang hilang. Perumpamaan dalam Injil Lukas ini mengingatkan kita akan arah dasar ("ardas") Gereja, seperti ditunjukkan oleh Paus Fransiskus ini: "Misericordia Dei", artinya kerahiman atau belaskasih Allah harus tampak dalam wajah dan apa yang dilakukan Gereja Kristus sejati di zaman kita sekarang ini.

 
Mgr. FX. Hadisumarta, O. Carm.

 
Disadur dari Kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta, O. Carm. (imankatolik.or.id)