Homili Paus Fransiskus: 12 Juni 2016

Homili Paus Fransiskus dalam Misa Yubileum Orang Sakit dan Penyandang Cacat
12 Juni 2016

 
Bacaan Ekaristi: 2Sam 12:7-10.13; Gal 2:16.19-21; Luk 7:36-8:3

 
"Aku telah disalibkan bersama Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal 2:19-20). Dalam kata-kata ini, Rasul Paulus secara kuat mengungkapkan misteri kehidupan Kristen, yang dapat diringkas dalam dinamika Paskah kematian dan kebangkitan yang diterima pada saat baptisan. Memang, melalui penenggelaman dalam air, kita masing-masing, karena itu, mati dan dikuburkan bersama-sama Kristus (bdk. Rm 6:3-4), dan muncul kembali, menunjukkan keluar kehidupan baru dalam Roh Kudus. Kelahiran kembali ini mencakup setiap aspek kehidupa kita: bahkan penyakit, penderitaan dan kematian yang diambil di dalam Kristus dan di dalam Dia menemukan makna utama mereka. Hari ini, pada hari Yubileum yang dikhususkan untuk orang-orang sakit dan para penyandang cacat, kata kehidupan ini memiliki resonansi khusus dalam pertemuan kita.

Kita masing-masing, cepat atau lambat, dipanggil untuk menghadapi - berkali-kali secara menyakitkan - kelemahan dan penyakit, baik kelemahan dan penyakit kita maupun kelemahan dan penyakit orang lain. Berapa banyak wajah yang berbeda masih membawa secara dramatis pengalaman-pengalaman manusiawi umum! Namun mereka semua langsung menimbulkan pertanyaan mendesak tentang makna kehidupan. Hati kita mungkin diam-diam menyebabkan sinisme, seolah-olah satu-satunya penyelesaian hanya diadakan dengan pengalaman-pengalaman ini, percaya hanya dengan kekuatan kita sendiri. Atau kita mungkin mempercayai sepenuhnya ilmu pengetahuan, memikirkan secara pasti entah di mana di dunia ini ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit. Tetapi sayangnya hal ini tidak selalu terjadi, dan, bahkan jika obat tersebut memang ada, ia dapat diakses oleh sangat sedikit orang.

Kodrat manusiawi, yang terluka oleh dosa, ditandai dengan keterbatasan-keterbatasan. Kita terbiasa dengan keberatan-keberatan yang diajukan, terutama saat ini, terhadap kehidupan yang dicirikan dengan keterbatasan-keterbatasan fisik yang serius. Diperkirakan bahwa orang sakit atau penyandang cacat tidak bisa bahagia, karena mereka tidak bisa menghayati gaya hidup yang diselenggarakan oleh budaya kesenangan dan hiburan. Di zaman ketika kepedulian terhadap tubuhnya telah menjadi sebuah obsesi dan sebuah bisnis besar, sesuatu yang tidak sempurna harus disembunyikan, karena mengancam kebahagiaan dan ketenangan segelintir orang yang memiliki hak istimewa dan membahayakan model yang dominan. Orang-orang tersebut sebaiknya harus dipisahkan, dalam beberapa "kandang" - bahkan kandang berlapis emas - atau dalam "pulau-pulau" paham kesalehan atau kesejahteraan sosial, sehingga mereka tidak menghalang-halangi laju kesejahteraan yang palsu. Dalam beberapa kasus, kita bahkan mengatakan bahwa lebih baik mengenyahkan mereka sesegera mungkin, karena mereka menjadi beban ekonomi yang tidak dapat diterima dalam saat krisis. Namun betapa sebuah khayalan ilusi ketika orang-orang hari ini menutup mata mereka dalam wajah penyakit dan kecacatan! Mereka gagal untuk memahami makna sebenarnya dari kehidupan, yang juga harus dilakukan dengan menerima penderitaan dan keterbatasan. Dunia tidak menjadi lebih baik hanya karena tampak orang-orang "yang sempurna" tinggal di sana - saya mengatakan "sempurna" ketimbang "keliru" - tetapi ketika kesetiakawanan manusiawi, saling menerima dan rasa hormat meningkat. Alangkah benarnya kata-kata Rasul Paulus : "Apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat" (1 Kor 1:27)!

Injil hari Minggu ini (Luk 7:36-8:3) memperkenalkan kita dengan situasi kelemahan tertentu. Perempuan yang kedapatan berbuat dosa dihakimi dan ditolak, namun Yesus menerima dan membelanya: "Sebab ia telah banyak berbuat kasih" (7:47). Inilah kesimpulan Yesus, yang penuh perhatian terhadap penderitaannya dan permohonannya. Kelembutan ini adalah tanda kasih yang ditunjukkan Allah kepada orang-orang yang menderita dan terbuang. Penderitaan memerlukan tidak hanya bersifat jasmani; salah satu patologi yang paling sering hari ini juga bersifat rohani. Ia adalah penderitaan hati; ia menyebabkan kesedihan karena kurangnya kasih. Ia adalah patologi kesedihan. Ketika kita mengalami kekecewaan atau pengkhianatan dalam hubungan yang penting, kita datang untuk menyadari betapa rentan dan tak berdayanya kita. Godaan untuk menjadi egois tumbuh lebih kuat, dan kita beresiko kehilangan kesempatan terbesar kehidupan: mengasihi terlepas dari segala sesuatu!

Kebahagiaan yang diinginkan setiap orang, dalam hal ini, dapat dinyatakan dalam berbagai cara dan dicapai hanya jika kita mampu mengasihi. Inilah caranya. Ia selalu merupakan soal kasih; tidak ada jalan lain. Tantangan yang sebenarnya yaitu siapa yang paling mengasihi. Berapa banyak penyandang cacat dan orang yang menderita membuka kembali hati mereka terhadap kehidupan segera setelah mereka menyadari bahwa mereka dikasihi! Berapa banyak kasih dapat membaik dalam hati hanya dengan senyuman! Terapi senyuman. Kemudian kerentanan kita sendiri dapat menjadi sumber penghiburan dan dukungan dalam kesendirian kita. Yesus, dalam sengsara-Nya, mengasihi kita sampai kesudahan (bdk. Yoh 13:1); di kayu salib ia mengungkapkan kasih yang melimpahkan dirinya tanpa batas. Bisakah kita mencela Allah karena kelemahan dan penderitaan kita ketika kita menyadari betapa banyak penderitaan ditunjukkan di wajah Putra-Nya yang tersalib? Kesakitan jasmani-Nya disertai dengan ejekan, perendahan dan cemoohan, namun Ia menanggapinya dengan kerahiman yang menerima dan mengampuni segalanya: "oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan" (Yes 53:5; 1 Ptr 2:24). Yesus adalah tabib yang menyembuhkan dengan obat kasih, karena Ia mengambil atas diri-Nya penderitaan kita dan menebusnya. Kita tahu bahwa Allah dapat memahami kelemahan kita, karena Ia sendiri secara pribadi telah mengalaminya (bdk. Ibr 4:15).

Cara kita mengalami penyakit dan kecacatan adalah indeks kasih yang siap kita tawarkan. Cara kita menghadapi penderitaan dan keterbatasan adalah ukuran kebebasan kita untuk memberi makna terhadap pengalaman hidup, bahkan ketika mereka menyerang kita sebagai tak berarti dan tidak layak. Marilah kita tidak terganggu, kemudian, oleh kesusahan-kesusahan ini (bdk. 1 Tes 3:3). Kita tahu bahwa dalam kelemahan kita bisa menjadi kuat (bdk. 2 Kor 12:10) dan menerima kasih karunia untuk menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, Gereja (bdk. Kol 1:24). Karena tubuh itu, menurut gambar Tuhan yang bangkit, mempertahankan luka-lukanya, tanda pergumulan yang keras, tetapi mereka adalah luka-luka yang berubah rupa untuk selama-lamanya oleh kasih.

 
sumber: pope-at-mass