Surat Gembala Prapaskah 2016


"KERAHIMAN ALLAH MEMERDEKAKAN"

    Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

  1. Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru Imlek yang akan jatuh pada hari Senin, 8 Februari 2016 yang akan datang, kepada Ibu/Bapak, Saudari/saudara yang merayakannya. Kita semua tahu, Tahun Baru Imlek pada mulanya berkaitan dengan syukur para petani atas datangnya musim semi, musim yang menjadi lambang munculnya kehidupan baru setelah musim dingin yang beku. Kalau pun tidak semua kita merayakannya, bolehlah kita semua ikut masuk ke dalam suasana sukacita dan syukur atas berseminya kehidupan baru dan harapan baru.
     
  2. Sementara itu bersama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu 10 Februari 2016 yang akan datang, kita akan memasuki masa Prapaskah. Kita semua tahu bahwa Prapaskah adalah masa penuh rahmat. Selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk bersama-sama, secara khusus, mengolah pengalaman-pengalaman dan mengusahakan pembaharuan hidup agar dapat semakin mantab dan setia mengikuti Yesus Kristus masuk ke dalam sengsara dan wafat-Nya dan selanjutnya ikut bangkit bersama Dia.
     
    Masa Prapaskah tahun ini terasa istimewa karena kita jalani dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Untuk kepentingan masa Prapaskah tahun ini, oleh Dewan Karya Pastoral sudah disediakan berbagai sarana pendalaman iman dengan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan”. Semoga bahan-bahan yang sudah disediakan ini, dapat membantu seluruh umat untuk membuat masa Prapaskah semakin bermakna dan berbuah. Selain itu panduan gerakan rohani Keuskupan Agung Jakarta dalam rangka menyambut Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah juga dapat sangat membantu membuat masa Prapaskah ini menjadi masa yang penuh rahmat.
     
  3. Saudari/saudaraku yang terkasih,

  4. Untuk memperdalam renungan kita mengenai tema masa Prapaska ini, saya tawarkan butir-butir gagasan yang dapat kita gali dari sabda Tuhan yang dibacakan pada hari ini.
     
    1. Kisah panggilan Simon yang dibacakan pada hari ini (Luk 5:1-11) memberikan kepada kita contoh bagaimana kita dapat mengalami kerahiman Allah yang menjadikan kita pribadi-pribadi yang merdeka. Kisah ini sendiri merupakan ringkasan atau bahkan kesimpulan dari kisah panjang hidup Simon yang diceritakan sepanjang Injil Lukas. Pelan-pelan, tahap demi tahap Simon dibimbing untuk melepaskan diri dari cara berpikirnya sendiri yang membelenggu dan akhirnya dibawa masuk ke dalam pengalaman akan kerahiman Allah. Pengalaman ini menjadikannya pribadi yang baru, yang tercermin dalam perubahan nama : dari Simon (ay 3.4) menjadi Simon Petrus (ay 8).
       
      Kerahiman itu tercermin dalam diri Yesus Tuhan yang mengatakan kepadanya, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ay 4). Kata-kata itu diucapkan setelah Simon merasa sangat lelah dan kecewa karena sepanjang malam dia dan teman-temannya bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa. Kerahiman itu juga jelas ketika Yesus Tuhan berkata kepadanya, “Jangan takut mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”. Kata-kata ini diucapkan oleh Yesus ketika Simon Petrus merasa dirinya tidak pantas berada di hadapan Tuhan karena dirinya adalah orang berdosa.
       
      Dalam kisah lain yang menceritakan pertobatan Petrus, kerahiman Tuhan itu dialami oleh Petrus, ketika “Tuhan berpaling dan memandang Petrus” (bdk Luk 22:61) – ungkapan pengalaman yang tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dikontemplasikan dalam doa yang hening. Dengan pengalaman itu tanggal-lah semua dari masa lampau yang membelenggu dan membebaninya. Sejak saat itu Simon Petrus menjadi pribadi yang lepas bebas dan merdeka. Bukan lepas bebas dari tanggungjawab, melainkan merdeka untuk “meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus” (Luk 5:11) ke mana pun panggilan akan membawanya.
       
    2. Rasul Paulus dan Nabi Yesaya sebagaimana kisahnya kita dengarkan pada hari ini, pada dasarnya mempunyai pengalaman yang serupa. Rasul Paulus menyatakan, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia” (1 Kor 15:9-10). Kasih karunia Allah membebaskan Rasul Paulus dari perasaan rendah diri dan hina, menjadikannya pribadi yang merdeka untuk memberitakan kerahiman Allah dalam waktu yang baik maupun tidak baik (bdk 2 Tim 4:2). Demikian juga Nabi Yesaya : berkat pengalaman yang serupa ia menjadi pribadi yang merdeka menerima perutusan Tuhan.
       
    3. Pengalaman yang sama ditawarkan kepada kita juga. Dengan bantuan rahmat khusus pada masa Prapaskah ini dan dengan mengusahakan berbagai laku rohani, kita juga akan mengalami pandangan Tuhan Yesus yang adalah wajah kerahiman Allah - “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Pengalaman akan kerahiman Allah ini akan menjadikan kita pribadi-pribadi yang lepas bebas dan merdeka - dalam arti seluas-luasnya.
       
  5. Saudari/saudaraku yang terkasih,

  6. Selain belajar dari Sabda Tuhan, kita juga dapat belajar dari pengalaman pribadi Paus Fransiskus yang sejak diangkat menjadi Uskup mempunyai semboyan “miserando atque eligendo”. Semboyan itu berarti “dengan penuh kerahiman Ia memilih aku”. Pengalaman akan kerahiman Allah ini begitu mendalam dirasakan ketika ia berusia tujuh belas tahun. Atas dasar pengalaman itu ia memutuskan untuk hidup mengikuti teladan Santo Ignatius dari Loyola.
     
    Pengalaman akan kerahiman Allah ini pula yang mendorong beliau sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan di dalam Gereja Katolik, yang kadang-kadang mencengangkan. Misalnya, Paus menyatakan bahwa “Ekaristi, betapa pun dalam dirinya sendiri adalah kepenuhan hidup sakramental, bukanlah suatu hadiah bagi mereka yang sempurna, melainkan obat penuh daya dan santapan bagi yang lemah. Keyakinan ini memiliki konsekuensi pastoral yang perlu disadari dengan bijaksana dan berani” (EG 47). Atas dasar pengalaman yang sama Paus dengan lantang menolak sistem ekonomi yang menguasai dan meminggirkan, bukan yang melayani kebaikan bersama. Atas dasar pengalaman yang sama pula Paus menyerukan pertobatan ekologis dalam rangka memelihara bumi ini sebagai rumah kita bersama. Dengan demikian jelaslah bahwa pengalaman akan kerahiman Allah yang memerdekakan, mempunyai jangkauan pengaruh yang amat luas.
     
  7. Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta menawarkan tema “Kerahiman Allah Yang Memerdekakan” sebagai ajakan untuk pertama-tama memahami secara lebih dalam arti kerahiman Allah. Selanjutnya tentu diharapkan agar pemahaman yang lebih mendalam ini membantu kita semua untuk mengalami kerahiman Allah secara pribadi. Pengalaman seperti ini dapat kita rasakan dalam hidup kita sehari-hari khususnya pada waktu kita jatuh dan diangkat kembali oleh Allah yang kasih setia-Nya tanpa batas; pada waktu kita sadar akan dosa, kelemahan dan kesalahan kita dan menerima belas kasih pengampunan Tuhan maupun maaf dari sesama. Ini kita alami secara istimewa dalam Sakramen Rekonsiliasi.
     
    Mari kita jalani hidup kita sebagai orang beriman dalam semangat saling mengampuni. Semoga kita dijauhkan dari sikap menghakimi dan menghukum. Semoga kita semua, murid-murid Yesus di Keuskupan Agung Jakarta siap mencari jalan-jalan baru untuk mengalami, mensyukuri dan selanjutnya mewartakan serta mewujudkan kerahiman Allah “dengan keberanian rasuli, kerendahan hati Injili dan doa yang tekun”.
     

Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

 
Selamat memasuki masa Prapaskah
I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta