Homili Paus Fransiskus dalam Misa - 6 Juni 2015

Homili Paus Fransiskus dalam Misa di Stadion Kosevo, Sarajevo - Bosnia - Herzegovina,
6 Juni 2015:
Jadilah Para Pengrajin Perdamaian Dalam Kehidupan Sehari-hari Anda

 

Saudara dan saudari terkasih,

Kata perdamaian bergema beberapa kali melalui bacaan-bacaan Kitab Suci yang baru saja kita dengar. Ia merupakan sebuah kata kenabian, yang penuh kuasa! Perdamaian adalah mimpi Allah, rencana-Nya bagi umat manusia, bagi sejarah, bagi semua ciptaan. Dan ia adalah sebuah rencana yang selalu menemui pertentangan dari manusia dan dari si jahat. Bahkan di zaman kita, keinginan untuk perdamaian dan komitmen untuk membangun perdamaian berbenturan dengan kenyataan banyak konflik bersenjata saat ini yang mempengaruhi dunia kita. Mereka adalah semacam perang dunia ketiga yang bertempur sedikit demi sedikit dan, dalam konteks komunikasi global, kita merasakan sebuah suasana perang.

Beberapa orang ingin menghasut dan memicu suasana ini dengan sengaja, terutama mereka yang menginginkan konflik antara budaya-budaya dan masyarakat-masyarakat yang berbeda, dan mereka yang berspekulasi tentang perang untuk tujuan menjual senjata. Tetapi perang berarti anak-anak, para perempuan dan orang-orang tua berada di kamp-kamp pengungsian; itu berarti perpindahan paksa orang-orang; itu berarti menghancurkan rumah-rumah, jalan-jalan dan pabrik-pabrik; itu berarti, terutama, kehidupan yang hancur tak terhitung jumlahnya. Anda mengetahui hal ini dengan baik, telah mengalaminya di sini: berapa banyak penderitaan, berapa banyak kehancuran, berapa banyak penderitaan! Hari ini, saudara dan saudariku yang terkasih, jeritan umat Allah naik sekali lagi dari kota ini, jeritan semua laki-laki dan perempuan yang berkehendak baik: perang tidak pernah lagi!

Dalam suasana perang ini, seperti sebuah sorot cahaya matahari menembus awan, menggemakan kata-kata Yesus dalam Injil: "Berbahagialah orang yang membawa damai" (Mat 5:9). Seruang ini selalu berlaku, dalam setiap generasi. Ia tidak mengatakan: "Berbahagialah para pengkhotbah perdamaian", karena semua orang mampu memberitakan perdamaian, bahkan dengan cara munafik, atau benar-benar mendua. Tidak. Ia mengatakan: "Berbahagialah orang yang membawa damai", yaitu, mereka yang membuat perdamaian. Kerajinan perdamaian adalah sebuah kerja terampil : ia memerlukan kegairahan, kesabaran, pengalaman dan keuletan. Berbahagialah orang yang menabur perdamaian dengan tindakan-tindakan sehari-hari mereka, sikap-sikap dan tindakan-tindakan kebaikan, tindakan-tindakan persaudaraan, tindakan-tindakan dialog, tindakan-tindakan belas kasihan mereka... Ini, memang, "akan disebut anak-anak Allah", karena Allah menabur perdamaian, selalu, di mana-mana; dalam kepenuhan waktu, Ia menaburkan di dunia Putra-Nya, agar kita bisa memiliki perdamaian! Membuat perdamaian adalah sebuah pekerjaan yang harus dilancarkan setiap hari, langkah demi langkah, tanpa pernah bosan.

Jadi bagaimana orang melakukan hal ini, bagaimana kita membangun perdamaian? Nabi Yesaya mengingatkan kita dengan ringkas : "Akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya" (32:17). Opus justitiae pax ("karya keadilan adalah perdamaian"), dari Kitab Suci versi Vulgata, telah menjadi sebuah motto terkenal, bahkan diadopsi profetis oleh Paus Pius XII. Perdamaian adalah sebuah karya keadilan. Di sini juga: bukan sebuah keadilan yang diberitakan, yang dibayangkan, direncanakan ... melainkan sebuah keadilan yang diterapkan, dijalani. Injil mengajarkan kepada kita bahwa penggenapan utama keadilan adalah kasih: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat 22:39; Rm 13:9). Ketika, oleh kasih karunia Allah, kita benar-benar mengikuti perintah ini, alangkah hal-hal berubah! Karena kita sendiri berubah! Kepada mereka ini yang saya pandang sebagai musuh saya benar-benar memiliki wajah yang sama seperti yang saya pandang, hati yang sama, jiwa yang sama. Kita memiliki Bapa di sorga yang sama. Maka, keadilan sejati adalah berbuat bagi orang lain apa yang aku inginkan mereka perbuat bagiku, bagi orang-orangku (bdk. Mat 7:12).

Santo Paulus, dalam Bacaan Kedua, menunjukkan kepada kita sikap yang diperlukan untuk membuat perdamaian: "Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian" (Kol 3:12-13).

Ini adalah sikap-sikap yang diperlukan untuk menjadi para pengrajin perdamaian tepatnya di mana kita menjalani kehidupan kita sehari-hari. Tetapi kita tidak seharusnya menipu diri kita sendiri dengan berpikir bahwa ini semua tergantung pada kita! Kita akan jatuh ke dalam moral pura-pura. Perdamaian merupakan sebuah karunia dari Allah, bukan dalam arti magis, tetapi karena dengan Roh-Nya Ia bisa menanamkan sikap-sikap ini di dalam hati kita dan di dalam daging kita, dan dapat menjadikan kita alat-alat sejati perdamaian-Nya. Dan, lebih lanjut, Rasul Paulus mengatakan bahwa perdamaian merupakan sebuah karunia Allah karena ia merupakan buah pendamaian-Nya dengan kita. Hanya jika kita membiarkan diri kita diperdamaikan dengan Allah manusia bisa menjadi para pengrajin perdamaian.

Saudara dan saudari terkasih, hari ini kita memohonkan kepada Tuhan bersama-sama, melalui perantaraan Bunda Maria, rahmat untuk memiliki hati yang sederhana, rahmat kesabaran, rahmat untuk berjuang dan bekerja bagi keadilan, menjadi bermurah hati, untuk bekerja bagi perdamaian, untuk menabur perdamaian serta bukan perang dan perselisihan. Ini adalah jalan yang membawa kebahagiaan, yang mengarah kepada keberbahagiaan.

 
Peter Suriadi, http://pope-at-mass.blogspot.com

Mistara's Official Blog

Shalom! Perkenalkan kami adalah Misdinar Santa Clara. Putra-Putri Gereja Santa Clara yang ingin melayani Tuhan Yesus dan umat di altarnya :) Blog ini kami gunakan untuk menceritakan kegiatan kami, juga untuk berbagi informasi seperti event-event dan jadwal tugas ^^

Klik disini..

Surat Keluarga Juni 2015

Rekreasi adalah pembentukan kembali
Saat alam menyembuhkan dalam cahaya
Seluruh insan dihembusi dengan daya
Yang menguatkannya kembali bersukacita

Mari menimba air kehidupan
Dari sumber-sumber keselamatan
Di tempat Tuhan menyediakan lahan
Untuk menanami kembali tandusnya hidup

Keluarga membawa senda dan tawa
Memberikan keindahan dalam kesatuan
Jangan menghentikan tawa anak-anak
Karena mereka merindukan ayah ibunya

Homili Paus Fransiskus dalam Misa - 1 Juni 2015

Homili Paus Fransiskus dalam Misa 1 Juni 2015:
Dari Penolakan Datang Keselamatan

Bacaan Ekaristi : Tob 1:1a.2a.3;2:1b-8; Mrk12:1-12

 

Allah selalu memberikan kehidupan kepada sebuah "kisah cinta" bersama kita masing-masing. Dan meskipun tampak "kegagalan-kegagalan", baik besar maupun kecil, "impian cinta" menang pada akhirnya. Dalam homilinya selama Misa harian Senin pagi, 1 Juni 2015, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus merenungkan hal ini, perjalanan kita menyusuri sebuah "jalan yang sulit", bersama Allah yang menyelamatkan dengan apa yang ditolak.

Bacaan Injil hari itu (Mrk 12:1-12) menyajikan perumpamaan tentang para penggarap dan pemilik kebun anggur. Menurut Paus Fransiskus, perumpamaan itu "merangkum sejarah keselamatan yang disampaikan Yesus - sebagaimana kita dengar - kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua : yaitu, kepada para pemimpin bangsa Israel, kepada mereka yang memegang pemerintahan bangsa Israel di tangan mereka, kepada mereka yang memegang janji Allah di tangan mereka".

Paus Fransiskus mencatat bahwa "itu adalah sebuah perumpamaan yang indah", yang "dimulai dengan sebuah impian, sebuah proyek cinta: bahwa manusia yang mengusahakan kebun anggur, mendirikan pagar di sekitarnya, menggali sebuah lubang untuk memeras anggur", dan membangun sebuah menara. Itu "semua dilakukan dengan cinta". Memang orang tersebut "mencintai pembibitan kebun ini" dan oleh karena itu "menyewakannya, menyerahkannya" sehingga ia dapat menghasilkan buah. Kemudian, "ketika musimnya tiba, ia mengirimkan seorang hamba kepada para penggarap untuk mengumpulkan hasil panennya", dan di sana "dimulai semua yang telah kita dengar : mereka memukulinya dengan tongkat, memukuli hamba yang lain, dan membunuh hamba yang lain". Akhirnya "ia mengirim anaknya" tetapi para penggarap itu "membunuhnya : itulah bagaimana cerita berakhir".

Dalam ulasan akhir, Paus Fransiskus menjelaskan, "cerita ini, yang tampaknya seperti sebuah kisah cinta, seharusnya melacak langkah-langkah cinta antara Allah dan umat-Nya", bukannya tampak sebagai "sebuah sejarah kegagalan". Pada titik ini, "Allah - Bapa bangsa tersebut, yang membawa bangsa ini sebagaimana adanya, karena mereka adalah sebuah bangsa yang kecil dan mereka mencintai-Nya, mereka bermimpi dengan cinta - tampaknya gagal". Dan "sejarah keselamatan ini dapat juga disebut sebuah sejarah kegagalan". Tetapi "kegagalan", Paus Fransiskus mengatakan, "dimulai sejak saat pertama dan bahkan kegagalan impian Allah ini, sejak permulaan, ada darah - darah Habel - dan dari sana itu berlanjut : darah semua nabi yang pergi berbicara kepada bangsa tersebut, untuk membantu menjaga kebun anggur, sampai darah Putra-Nya". Namun, Paus Fransiskus menambahkan, "pada akhirnya ada sabda Allah, yang membuat kita berpikir".

"Kemudian, apa yang akan dilakukan sang pemilik kebun anggur?", tanya Paus Fransiskus. Beliau menjawab: "Ia akan datang dan menempatkan orang-orangnya di hadapan hakim". Mengenai hal ini, Yesus mengatakan "sebuah kata yang tampaknya agak keluar tempat : 'Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'". Kemudian Paus Fransiskus menjelaskan bahwa "sejarah kegagalan itu berbalik, dan apa yang ditolak menjadi kekuatan". Dengan demikian, "para nabi, orang-orang Allah yang berbicara kepada bangsa tersebut, yang tidak didengar, yang ditolak, akan menjadi kemuliaan-Nya". Dan "Sang Putra, yang terakhir dikirim, yang benar-benar diusir, dihakimi, tidak didengarkan dan dibunuh, akan menjadi batu penjuru".

Kemudian, di sinilah "sejarah ini, yang dimulai dengan sebuah impian cinta dan tampaknya menjadi sebuah sejarah cinta, tetapi kemudian tampaknya berakhir dalam sebuah sejarah kegagalan, berakhir dengan cinta Allah yang besar, yang menarik keluar keselamatan dari penolakan; oleh terbuangnya Putra-Nya, Ia menyelamatkan kita semua".

"Bacaan dalam Kitab Suci banyak, banyak ratapan Allah" adalah sesuatu yang indah, menurut Paus Fransiskus. Terutama, "ketika Allah berbicara kepada umat-Nya Ia mengatakan: 'Mengapa kamu melakukan hal ini? Ingatlah semua yang telah Aku perbuat bagimu: bahwa Aku memilih kamu, bahwa Aku membebaskan kamu. Mengapa kamu berbuat hal ini pada-Ku?'". Bapa, Paus Fransiskus berpendapat, "meratap, bahkan menangis". Dan pada akhirnya di sana "Yesus meratap atas Yerusalem : Yerusalem, Yerusalem, yang membunuh nabi-nabi". Ini, Paus Fransiskus menjelaskan, "adalah sejarah dari sebuah umat yang tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari keinginan yang ditaburkan oleh Iblis dalam para orangtua pertama : kamu akan menjadi allah". Ia adalah "sebuah umat yang tidak tahu bagaimana menaati Allah, karena mereka ingin menjadi allah" di pihak mereka sendiri.

Sikap ini menjadikan mereka "sebuah umat yang tertutup, sebuah umat yang para pelayannya kaku". Inilah sebabnya, Paus Fransiskus mencatat, "akhir bagian ini yang kita baca adalah menyedihkan", karena apa yang muncul adalah "kekakuan para imam, kekakuan para ahli Taurat : mereka berusaha untuk menangkap Yesus agar dapat membunuh-Nya, tetapi mereka takut kepada orang banyak". Pada kenyataanya, "mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu". Dan dengan demikian, "mereka membiarkan Dia dan mereka pergi".

"Jalan penebusan kita adalah sebuah jalan yang padanya tidak ada kekurangan kegagalan", Paus Fransiskus mengakui. Memang, "bahkan jalan terakhir, jalan Salib, adalah sebuah skandal: tetapi justru di sana, cinta menang". Dan "sejarah itu, yang dimulai dengan sebuah impian cinta dan berlanjut dengan sebuah sejarah kegagalan, berakhir dalam kemenangan cinta: Salib Yesus". Paus Fransiskus meminta agar kita "tidak melupakan jalan ini", bahkan meskipun "itu adalah sebuah jalan yang sulit". Tetapi "jalan kita juga" selalu merupakan sebuah jalan yang sulit. Dengan demikian, "jika kita masing-masing memeriksa hati nuraninya, kita akan melihat berapa kali kita telah mengusir para nabi; berapa kali kita telah berkata kepada Yesus: 'Enyahlah!'; berapa kali kita ingin menyelamatkan diri kita sendiri; berapa kali kita berpikir demikian".

"Kasih Allah bagi umat-Nya terwujud dalam pengorbanan Putra-Nya yang kini kita akan rayakan sekali lagi, benar-benar", kata Paus Fransiskus sebelum melanjutkan perayaan Ekaristi. "Ketika Ia turun di atas altar dan kita mempersembahkan-Nya kepada Bapa, akan ada baiknya kita mengingat kisah cinta yang tampaknya gagal tetapi menang pada akhirnya ini". Oleh karena itu pentinglah "mengingat, dalam sejarah kehidupan kita, benih cinta yang telah ditaburkan Allah di dalam diri kita itu". Dan sebagai hasilnya, "melakukan apa yang Yesus lakukan bagi kita : Ia telah merendahkan diri-Nya". Dengan demikian, kita juga, Paus Fransiskus mengakhiri, "akan ada baiknya merendahkan diri kita di hadapan Tuhan ini yang kini datang untuk merayakan bersama kita kenangan akan kemenangan-Nya".

 
Peter Suriadi, http://pope-at-mass.blogspot.com

Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) - Juli 2015

Kursus Persiapan Perkawinan

Akan diselenggarakan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) pada:

  Hari/Tanggal : Sabtu-Minggu, 11 & 12 Juli 2015
  Waktu Kursus : pukul 08.00 s.d 16.00 wib
  Penyelenggara : Paroki Lubang Buaya
Jl. Al Umar No. 1B
Lubang Buaya, Jakarta Timur
Telp. 021 8779 1911
  Tempat Kursus : Sekolah St. Markus II
Jl. Raya Pondok Gede
Gg. Pelita - Lubang Buaya

 
Mohon diperhatikan:

  1. Pendaftaran paling lambat 1 minggu sebelum pelaksanaan kursus
  2. Syarat untuk mendaftar -harus lengkap- sebagai berikut:
    1. Photocopy KTP masing-masing sebanyak 2 lembar
    2. Photocopy Surat Baptis yang telah diperbaharui masing-masing sebanyak 2 lembar
    3. Pas photo ukuran 2x3 masing-masing sebanyak 3 lembar
  3. Biaya kursus silahkan menghubungi Sekretariat Pastoran

Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Minggu Misi Sedunia


 
Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Minggu Misi Sedunia ke-89
(18 Oktober 2015)

Alih bahasa : Peter Suriadi

 

Saudara dan saudari terkasih,

Hari Minggu Misi Sedunia 2015 berlangsung dalam konteks Tahun Hidup Bakti, yang menyajikan sebuah rangsangan lebih lanjut untuk doa dan permenungan. Karena jika setiap orang yang dibaptis terpanggil untuk menjadi saksi Tuhan Yesus dengan memberitakan iman yang diterima sebagai sebuah karunia, ini terutama terjadi untuk setiap pelaku hidup bakti. Ada sebuah hubungan yang jelas antara hidup bakti dan misi. Keinginan untuk mengikuti Yesus secara erat, yang menyebabkan munculnya hidup bakti di dalam Gereja, menanggapi panggilan-Nya untuk memikul salib dan mengikuti-Nya, meneladan pengabdian-Nya kepada Bapa serta pelayanan dan kasih-Nya, menghilangkan hidup kita agar mendapatkannya. Karena seluruh keberadaan Kristus memiliki sebuah ciri misioner, demikian juga, semua orang yang mengikuti-Nya secara erat harus memiliki mutu misioner ini.

Dimensi misioner, yang termasuk kodrat Gereja sebenarnya, juga secara hakiki bagi semua bentuk hidup bakti, dan tidak dapat diabaikan tanpa mengurangi dan menodai karismanya. Menjadi seorang misionaris bukan tentang penyebaran agama atau strategi belaka; misi adalah bagian "tata bahasa" iman, sesuatu yang penting bagi mereka yang mendengarkan suara Roh yang berbisik "Datanglah" dan "Pergilah". Mereka yang mengikuti Kristus tidak dapat gagal untuk menjadi misionaris-misonaris, karena mereka tahu bahwa Yesus "berjalan bersama mereka, berbicara kepada mereka, bernafas bersama mereka. Mereka merasakan Yesus yang hidup bersama mereka di tengah-tengah kegigihan misioner" (Evangelii Gaudium, 266).

Misi adalah sebuah kegairahan bagi Yesus dan pada saat yang sama sebuah kegairahan bagi umat-Nya. Ketika kita berdoa di hadapan Yesus yang tersalib, kita melihat kedalaman kasih-Nya yang memberi kita martabat dan menopang kita. Pada saat yang sama, kita menyadari bahwa kasih yang mengalir dari hati Yesus yang tertikam meluas untuk merangkul Umat Allah dan seluruh umat manusia. Kita menyadari sekali lagi bahwa Ia ingin memanfaatkan kita untuk semakin dekat kepada umat-Nya yang tercinta (Evangelii Gaudium, 268) dan semua orang yang mencari Dia dengan hati yang tulus. Dalam perintah Yesus untuk "pergi", kita melihat skenario dan tantangan baru yang selalu hadir dari misi evangelisasi Gereja. Semua anggotanya dipanggil untuk memberitakan Injil dengan kesaksian hidup mereka. Dengan cara tertentu, para pelaku hidup bakti diminta untuk mendengarkan suara Roh yang memanggil mereka pergi ke pinggiran, kepada orang-orang yang kepadanya Injil belum diberitakan.

Ulang tahun kelima puluh Dekrit Konsili Vatikan II Ad Gentes adalah sebuah undangan bagi kita semua untuk membaca ulang dokumen ini dan merenungkan isinya. Dekrit tersebut menyerukan sebuah dorongan misioner yang kuat dalam lembaga-lembaga hidup bakti. Bagi komunitas-komunitas kontemplatif, Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus, Pelindung Misi, muncul dalam terang baru; ia berbicara dengan kefasihan yang diperbarui dan mengilhami permenungan atas hubungan yang mendalam antara hidup dan misi kontemplatif. Bagi banyak komunitas religius aktif, dorongan misioner yang muncul dari Konsili dijumpai dengan sebuah keterbukaan yang luar biasa terhadap misi ad gentes, yang sering disertai dengan sebuah keterbukaan terhadap saudara dan saudari dari negeri-negeri dan budaya-budaya yang dijumpai dalam evangelisasi, hingga titik di mana hari ini orang dapat berbicara tentang sebuah "interkulturalisme" yang tersebar luas dalam hidup bakti. Oleh karena itu ada sebuah kebutuhan mendesak untuk menegaskan kembali bahwa cita-cita pokok misi adalah Yesus Kristus, dan bahwa cita-cita ini menuntut karunianya yang sepenuhnya untuk pemberitaan Injil. Pada titik ini tidak ada kompromi: mereka yang oleh rahmat Allahmenerima misi, dipanggil untuk menghidupi misi tersebut. Bagi mereka, pemberitaan Kristus di dalam banyak pinggiran dunia menjadi cara mereka mengikuti-Nya, Dia yang lebih daripada sekedar melunasi mereka untuk banyak kesulitan dan pengorbanan yang mereka buat. Setiap kecenderungan untuk menyimpang dari panggilan ini, bahkan jika didorong oleh alasan-alasan mulia karena kebutuhan-kebutuhan pastoral, gerejani atau kemanusiaan yang tak terhitung jumlahnya, tidak konsisten dengan panggilan Tuhan untuk secara pribadi berada pada pelayanan Injil. Dalam lembaga-lembag misioner, para pembina dipanggil untuk menunjukkan dengan jelas dan terus terang rencana hidup dan tindakan ini, dan untuk membedakan panggilan-panggilan misioner yang otentik. Saya menyerukan khususnya kepada orang-orang muda, yang mampu menjadi saksi yang berani dan perbuatan-perbuatan yang murah hati, bahkan ketika ini kontra budaya : Jangan membiarkan orang lain merampok kalian dari cita-cita misi sejati, cita-cita mengikuti Yesus melalui pemberian diri sepenuhnya. Di dalam kedalaman hati nurani kalian, tanyakanlah pada diri kalian sendiri mengapa kalian memilih kehidupan misioner religius dan mengambil andil kesiapan kalian untuk menerimanya apa adanya: sebuah karunia kasih pada pelayanan pemberitaan Injil. Ingatlah bahwa, bahkan sebelum menjadi penting bagi mereka yang belum mendengarnya, pemberitaan Injil adalah suatu keharusan bagi mereka yang mengasihi Sang Guru.

Hari ini, misi Gereja dihadapkan dengan tantangan memenuhi kebutuhan semua orang untuk kembali ke akar mereka dan untuk melindungi nilai-nilai budaya mereka masing-masing. Ini berarti memahami dan menghormati tradisi-tradisi lain dan sistem-sistem filsafat, dan menyadari bahwa semua orang dan budaya memiliki hak untuk dibantu dari lubuk tradisi mereka sendiri untuk masuk ke dalam misteri kebijaksanaan Allah dan untuk menerima Injil Yesus, yang adalah terang dan transformasi kekuatan bagi semua budaya.

Dalam dinamika yang kompleks ini, kita bertanya kepada diri kita: "Kepada siapakah pertama-tama pesan Injil harus diberitakan?" Jawabannya, yang begitu sering ditemukan dalam seluruh Injil, jelas: orang-orang miskin, anak-anak kecil dan orang-orang sakit, orang-orang yang sering dipandang rendah atau terlupakan, mereka yang tidak bisa membalas kita (bdk. Luk 14:13-14). Evangelisasi yang mengarah teristimewa kepada yang terkecil di antara kita adalah sebuah tanda Kerajaan di mana Yesus datang untuk membawanya : "Ada sebuah ikatan tak terpisahkan antara iman kita dan orang miskin. Semoga kita tidak pernah meninggalkan mereka" (Evangelii Gaudium, 48). Ini harus jelas terutama bagi orang-orang yang menganut hidup bakti misioner: dengan kaul kemiskinan, mereka memilih untuk mengikuti Kristus dalam preferensinya bagi orang miskin, bukan secara ideologis, tetapi dengan cara yang sama di mana ia memperkenalkan dirinya bersama orang miskin: dengan hidup seperti mereka di tengah ketidakpastian kehidupan sehari-hari dan melepaskan semua tuntutan kepada kekuasaan, dan dengan cara ini menjadi saudara dan saudari orang miskin, membawakan mereka kesaksian sukacita Injil dan sebuah tanda kasih Allah.

Hidup sebagai saksi-saksi Kristen dan sebagai tanda-tanda kasih Bapa di antara orang miskin dan kurang mampu, para pelaku hidup bakti dipanggil untuk mempromosikan keberadaan umat awam dalam pelayanan misi Gereja. Sebagaimana dinyatakan oleh Konsili Vatikan II: "Awam harus bekerja sama dalam karya evangelisasi Gereja; sebagai saksi-saksi dan pada saat yang sama sebagai alat-alat yang hidup, mereka berbagi dalam misi keselamatannya" (Ad Gentes, 41). Para pelaku hidup bakti misioner perlu dengan murah hati menyambut mereka yang sedang bersedia untuk bekerja dengan mereka, bahkan untuk sebuah jangka waktu terbatas, untuk sebuah pengalaman di lapangan. Mereka adalah saudara dan saudari yang ingin berbagi panggilan misioner yang melekat dalam Pembaptisan. Rumah-rumah dan struktur-struktur misi adalah tempat-tempat alamiah untuk menyambut mereka dan untuk memberikan dukungan kemanusiaan, spiritual dan apostolik mereka.

Lembaga-lembaga Gereja dan Kongregasi-kongregasi Misioner benar-benar berada pada pelayanan orang-orang yang tidak mengenal Injil Yesus. Ini berarti bahwa mereka harus mengandalkan karisma-karisma dan komitmen misioner para anggota hidup bakti. Tetapi para pelaku hidup bakti juga membutuhkan sebuah struktur pelayanan, sebuah ungkapan keprihatinan dari Uskup Roma, untuk memastikan koinonia, karena kerjasama dan sinergi merupakan bagian menyeluruh dari kesaksian misioner. Yesus menjadikan kesatuan murid-murid-Nya sebuah kondisi sehingga dunia dapat percaya (bdk. Yoh 17:21). Konvergensi ini tidak sama dengan legalisme atau institusionalisme, apalagi sebuah pencekikan kreativitas Roh, yang mengilhami keberagaman. Ini adalah tentang memberikan sebuah kelimpahan yang lebih besar untuk pesan Injil dan mempromosikan kesatuan tujuan yang juga merupakan buah Roh itu.

Serikat-serikat misioner dari Penerus Petrus memiliki sebuah cakrawala apostolik universal. Inilah sebabnya mereka juga membutuhkan banyak karisma hidup bakti, mengalamatkan cakrawala-cakrawala evangelisasi yang luas dan untuk dapat memastikan kehadiran yang memadai di negeri apa pun mereka diutus.

Saudara dan saudariku, seorang misionaris sejati bergairah untuk Injil. Santo Paulus mengatakan: "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!" (1 Kor 9:16). Injil adalah sumber sukacita, pembebasan dan keselamatan bagi semua laki-laki dan perempuan. Gereja menyadari karunia ini, dan karena itu ia tak henti-hentinya memberitakan kepada semua orang "apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami" (1 Yoh 1:1). Misi para hamba Sang Sabda - para uskup, para imam, kaum religius dan awam - adalah memungkinkan semua orang, tanpa kecuali, masuk ke dalam sebuah hubungan pribadi dengan Kristus. Dalam berbagai kegiatan misioner Gereja, semua orang beriman dipanggil untuk menghidupkan komitmen pembaptisan mereka sepenuhnya, sesuai dengan situasi pribadi masing-masing. Sebuah tanggapan yang murah hati untuk panggilan universal ini dapat ditawarkan oleh para pelaku hidup bakti melalui sebuah kehidupan dosa yang intens doa dan kesatuan dengan Tuhan dan pengorbanan penebusan-Nya.

Kepada Maria, Bunda Gereja dan model penjangkauan misioner, saya mempercayakan semua laki-laki dan perempuan yang, dalam setiap keadaan karya kehidupan memberitakan Injil, ad gentes atau dalam tanah mereka sendiri. Kepada semua misionaris Injil saya rela memberikan berkat apostolik saya.

 
sumber: http://katekesekatolik.blogspot.com

Paus Nobatkan Dua Santo Pertama dari Palestina

Paus Fransiskus menobatkan dua santo pertama dari Palestina di era modern, Marie Alphonsine Ghattas dan Mariam Baouardy, di Vatikan, Minggu (17/5). Kedua santo termasuk ke dalam empat santo baru yang diumumkan hari itu.

Sekitar 2.000 warga Kristen Palestina berkumpul di St. Peter Square, termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Warga itu bernyanyi dan berdoa untuk merayakan penobatan orang suci yang bersejarah tersebut.

Paus Fransiskus mengatakan, semasa hidupnya kedua santo telah mempraktekkan kasih Tuhan dengan cara yang luar biasa. Santo Mariam, kata Paus, meski tergolong orang miskin dan tak berpendidikan, sanggup membimbing orang lain dengan baik.

Pages