Seminar Ilmiah Medik dan Bioetika

Komunitas Medika Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta (KMKI KAJ) Dekenat Bekasi akan mengadakan seminar dengan tema:

"Seminar Ilmiah Medik dan Bioetika KMKI 2015"

Hari / Tanggal : Sabtu / 20 Juni 2015
Waktu : pukul 07.30 wib s.d 14.00 wib
Tempat : Gedung Serbaguna Kesuma, Lantai 3
Gereja St. Mikael Kranji
Jl. Bintara Raya No. 38, Gang Strada, Kranji - Bekasi
Biaya : GRATIS

Keterangan lebih lanjut harap menghubungi:
- Dr. Fonny Bouk
- Dr. Inggrid Jesica

Hari Minggu Biasa XII

 
Kapel Wisma Asri

  Sabtu, 20 Juni 2015 Minggu, 21 Juni 2015
Misa I Misa II Misa III
Koor Bunda Teresa 8 St. Padre Pio 3 Bunda Teresa 3 St. Konradus 4
Organis Linda Untung Stephen Antonius
Tata Tertib/Kolektan St. Antonius 8 St. Bonaventura 1 St. Bonaventura 2 St. Konradus 3
Lektor Rita V. Tuti Ibu Suryo Wulan
Komentator Yosep Ibu Yoseph Orong Stefani Maria Antonius
Prodiakon FX. Rudy H.
Agus Budi H.
Martinus M.
M. Yuswana
M. Regina R.
L. Pujiastuti
V. Maria M.
Y. Suharno
I. Kasimo
Ana Maria DV.
Edy Surianto
Eddy Supeno
JP. Siboro
B. Sri Utari
M. Lamiyono
H. Teguh
A. Heru
Misdinar Bimo, Yose
Defri, Mery
Nico, Kirman
Agata, Tyas
Satria, Agung
Camel, Agnes
- - -
Penata Bunga St. Elisabeth 2

 
Kapel Seroja

  Minggu, 21 Juni 2015
Misa Pagi (pukul 07.00 wib)
Koor St. Yohanes Pemandi
Organis Elisabeth
Tata Tertib/Kolektan St. Fidelis 3
Lektor Klara Bunga
Komentator Elisabeth Dina Agus
Prodiakon - - -
Misdinar Neno, Gabe, Eufra, Vero
Penata Bunga - - -

 


Wejangan Paus Fransiskus - 7 Juni 2015

Wejangan Paus Fransiskus dalam Doa Malaikat Tuhan - 7 Juni 2015
Kita Tidak Hanya Berjumpa Kristus Dalam Ekaristi, Tetapi Dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Seorang Kristiani tidak hanya berjumpa Kristus dalam Ekaristi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Inilah permenungan yang dibuat oleh Paus Fransiskus selama wejangannya sebelum pendarasan Doa Malaikat Tuhan, Minggu siang 7 Juni 2015. Berbicara kepada orang banyak di Lapangan Santo Petrus, Vatikan yang cerah siang itu, Paus Fransiskus berfokus pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang dirayakan di banyak paroki hari Minggu tersebut.

Mengacu pada Injil hari itu (Mrk 14:12-16,22-26), Paus Fransiskus mencatat bagaimana Santo Markus menceritakan tentang Kristus yang melembagakan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir. Malam itu, Yesus mengatakan barangsiapa makan roti ini akan hidup selama-lamanya dan menawarkan para Rasul tubuh-Nya, Paus Fransiskus mengingatkan.

"Dengan gerak isyarat ini, dan dengan kata-kata ini, Ia memberi roti sebuah fungsi yang tidak lagi hanya sekedar makanan jasmani, tetapi menjadikan ini pribadi-Nya di tengah-tengah komunitas orang-orang percaya", kata Paus Fransiskus. Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Bapa Suci menggarisbawahi, tidak hanya membangkitkan pesan kesetiakawanan, tetapi "mendorong kita untuk merangkul panggilan intim untuk bertobat, melayani, mengasihi, dan mengampuni".

"Kristus, yang memelihara kita di bawah rupa roti dan anggur yang dikonsekrasikan, adalah Kristus yang sama, yang kita jumpai selama perjalanan kehidupan sehari-hari: Ia berada di dalam orang miskin yang mengulurkan tangan-Nya [dalam permohonan]; Ia berada di dalam orang yang menderita yang sangat memohon pertolongan [kita]; Ia berada di dalam saudara atau saudari yang meminta kita untuk berada di sana dan menanti sambutan kita; Ia berada di dalam anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang Yesus, tentang keselamatan, yang tidak memiliki iman; Ia berada di dalam setiap manusia, bahkan manusia yang paling kecil dan paling tidak berdaya".

"Ia mendorong kita", beliau berkata, "untuk menjadi di dalam hidup kita, para pencontoh dari apa yang kita rayakan dalam liturgi".

Ketika kita mengambil dan makan roti, Paus Fransiskus mengatakan, "kita sedang berhubungan dengan kehidupan Yesus, kita masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya, kita berkomitmen untuk mencapai persekutuan di antara diri kita sendiri, untuk mengubah hidup kita sebagai sebuah karunia, terutama bagi orang yang paling miskin".

"Hari Raya hari ini membangkitkan pesan kesetiakawanan ini dan mendorong kita untuk merangkul panggilan intim untuk bertobat dan melayani, mengasihi dan mengampuni".

Ekaristi tidak hanya sebagai sumber kasih bagi kehidupan Gereja, beliau mencatat, tetapi juga "sekolah amal dan kesetiakawanan. Mereka yang makan roti Kristus tidak dapat tinggal acuh tak acuh di hadapan mereka yang tidak memiliki makanan sehari-hari. Dan hari ini, kita tahu, merupakan sebuah masalah yang berkembang".

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Bapa Suci berdoa, harus mengilhami kita untuk mempromosikan sebuah masyarakat yang lebih ramah dan mendukung, sehingga kita dapat semakin menjadi saksi kasih Allah yang tak terbatas.

Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan tengah hari itu, Paus Fransiskus mengingat kunjungan apostoliknya satu hari sebelumnya ke Sarajevo, ibukota Bosnia-Herzegovina. Bapa Suci mengatakan bahwa beliau pergi ke sana "sebagai seorang peziarah perdamaian dan harapan".

Selama berabad-abad, Sarajevo telah menjadi sebuah tempat hidup berdampingan di antara bangsa-bangsa dan agama-agama, sehingga disebut "Yerusalem Barat", beliau berkata, tetapi "di masa lalu, ia telah menjadi simbol kehancuran perang".

Sebuah alasan untuk kunjungannya, Paus Fransiskus mengatakan, adalah "mendorong jalan hidup berdampingan secara damai di antara bangsa-bangsa yang berbeda tersebut; sebuah jalan yang berat, sulit, tetapi mungkin! Dan mereka sedang melakukannya dengan baik".

"Saya memperbaharui terima kasih saya kepada pihak berwenang dan semua warga atas sambutan hangatnya. Saya berterima kasih kepada umat Katolik yang terkasih, yang baginya saya ingin membawa kasih Gereja umumnya dan khususnya saya berterima kasih juga kepada semua umat beriman: umat Ortodoks, Muslim, Yahudi dan umat agama-agama minoritas lainnya. Saya menghargai komitmen untuk kerjasama dan kesetiakawanan di antara orang-orang ini yang menjadi milik agama-agama yang berbeda, mendesak semua untuk melanjutkan pekerjaan pembangunan kembali masyarakat secara rohani dan moral. Mereka bekerja sama sebagai saudara-saudara yang sesungguhnya. Semoga Tuhan memberkati Sarajevo dan Bosnia-Herzegovina."

Paus Fransiskus juga menyebutkan bahwa hari Jumat ini adalah Hari Anti Pekerja Anak Sedunia. "Banyak anak-anak di dunia tidak memiliki kebebasan untuk bermain, untuk pergi ke sekolah, dan akhirnya dieksploitasi sebagai tenaga kerja murah. Saya berharap komitmen dan peringatan terus menerus dari masyarakat internasional untuk mempromosikan pengakuan aktif terhadap hak-hak anak-anak".

Bapa Suci mengakhiri dengan mengharapkan mereka yang berkumpul sebuah hari Minggu yang baik, makan siang yang enak, dan meminta mereka untuk mendoakan beliau.

 
Peter Suriadi, http://katekesekatolik.blogspot.com

Homili Paus Fransiskus dalam Misa - 6 Juni 2015

Homili Paus Fransiskus dalam Misa di Stadion Kosevo, Sarajevo - Bosnia - Herzegovina,
6 Juni 2015:
Jadilah Para Pengrajin Perdamaian Dalam Kehidupan Sehari-hari Anda

 

Saudara dan saudari terkasih,

Kata perdamaian bergema beberapa kali melalui bacaan-bacaan Kitab Suci yang baru saja kita dengar. Ia merupakan sebuah kata kenabian, yang penuh kuasa! Perdamaian adalah mimpi Allah, rencana-Nya bagi umat manusia, bagi sejarah, bagi semua ciptaan. Dan ia adalah sebuah rencana yang selalu menemui pertentangan dari manusia dan dari si jahat. Bahkan di zaman kita, keinginan untuk perdamaian dan komitmen untuk membangun perdamaian berbenturan dengan kenyataan banyak konflik bersenjata saat ini yang mempengaruhi dunia kita. Mereka adalah semacam perang dunia ketiga yang bertempur sedikit demi sedikit dan, dalam konteks komunikasi global, kita merasakan sebuah suasana perang.

Beberapa orang ingin menghasut dan memicu suasana ini dengan sengaja, terutama mereka yang menginginkan konflik antara budaya-budaya dan masyarakat-masyarakat yang berbeda, dan mereka yang berspekulasi tentang perang untuk tujuan menjual senjata. Tetapi perang berarti anak-anak, para perempuan dan orang-orang tua berada di kamp-kamp pengungsian; itu berarti perpindahan paksa orang-orang; itu berarti menghancurkan rumah-rumah, jalan-jalan dan pabrik-pabrik; itu berarti, terutama, kehidupan yang hancur tak terhitung jumlahnya. Anda mengetahui hal ini dengan baik, telah mengalaminya di sini: berapa banyak penderitaan, berapa banyak kehancuran, berapa banyak penderitaan! Hari ini, saudara dan saudariku yang terkasih, jeritan umat Allah naik sekali lagi dari kota ini, jeritan semua laki-laki dan perempuan yang berkehendak baik: perang tidak pernah lagi!

Dalam suasana perang ini, seperti sebuah sorot cahaya matahari menembus awan, menggemakan kata-kata Yesus dalam Injil: "Berbahagialah orang yang membawa damai" (Mat 5:9). Seruang ini selalu berlaku, dalam setiap generasi. Ia tidak mengatakan: "Berbahagialah para pengkhotbah perdamaian", karena semua orang mampu memberitakan perdamaian, bahkan dengan cara munafik, atau benar-benar mendua. Tidak. Ia mengatakan: "Berbahagialah orang yang membawa damai", yaitu, mereka yang membuat perdamaian. Kerajinan perdamaian adalah sebuah kerja terampil : ia memerlukan kegairahan, kesabaran, pengalaman dan keuletan. Berbahagialah orang yang menabur perdamaian dengan tindakan-tindakan sehari-hari mereka, sikap-sikap dan tindakan-tindakan kebaikan, tindakan-tindakan persaudaraan, tindakan-tindakan dialog, tindakan-tindakan belas kasihan mereka... Ini, memang, "akan disebut anak-anak Allah", karena Allah menabur perdamaian, selalu, di mana-mana; dalam kepenuhan waktu, Ia menaburkan di dunia Putra-Nya, agar kita bisa memiliki perdamaian! Membuat perdamaian adalah sebuah pekerjaan yang harus dilancarkan setiap hari, langkah demi langkah, tanpa pernah bosan.

Jadi bagaimana orang melakukan hal ini, bagaimana kita membangun perdamaian? Nabi Yesaya mengingatkan kita dengan ringkas : "Akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya" (32:17). Opus justitiae pax ("karya keadilan adalah perdamaian"), dari Kitab Suci versi Vulgata, telah menjadi sebuah motto terkenal, bahkan diadopsi profetis oleh Paus Pius XII. Perdamaian adalah sebuah karya keadilan. Di sini juga: bukan sebuah keadilan yang diberitakan, yang dibayangkan, direncanakan ... melainkan sebuah keadilan yang diterapkan, dijalani. Injil mengajarkan kepada kita bahwa penggenapan utama keadilan adalah kasih: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat 22:39; Rm 13:9). Ketika, oleh kasih karunia Allah, kita benar-benar mengikuti perintah ini, alangkah hal-hal berubah! Karena kita sendiri berubah! Kepada mereka ini yang saya pandang sebagai musuh saya benar-benar memiliki wajah yang sama seperti yang saya pandang, hati yang sama, jiwa yang sama. Kita memiliki Bapa di sorga yang sama. Maka, keadilan sejati adalah berbuat bagi orang lain apa yang aku inginkan mereka perbuat bagiku, bagi orang-orangku (bdk. Mat 7:12).

Santo Paulus, dalam Bacaan Kedua, menunjukkan kepada kita sikap yang diperlukan untuk membuat perdamaian: "Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian" (Kol 3:12-13).

Ini adalah sikap-sikap yang diperlukan untuk menjadi para pengrajin perdamaian tepatnya di mana kita menjalani kehidupan kita sehari-hari. Tetapi kita tidak seharusnya menipu diri kita sendiri dengan berpikir bahwa ini semua tergantung pada kita! Kita akan jatuh ke dalam moral pura-pura. Perdamaian merupakan sebuah karunia dari Allah, bukan dalam arti magis, tetapi karena dengan Roh-Nya Ia bisa menanamkan sikap-sikap ini di dalam hati kita dan di dalam daging kita, dan dapat menjadikan kita alat-alat sejati perdamaian-Nya. Dan, lebih lanjut, Rasul Paulus mengatakan bahwa perdamaian merupakan sebuah karunia Allah karena ia merupakan buah pendamaian-Nya dengan kita. Hanya jika kita membiarkan diri kita diperdamaikan dengan Allah manusia bisa menjadi para pengrajin perdamaian.

Saudara dan saudari terkasih, hari ini kita memohonkan kepada Tuhan bersama-sama, melalui perantaraan Bunda Maria, rahmat untuk memiliki hati yang sederhana, rahmat kesabaran, rahmat untuk berjuang dan bekerja bagi keadilan, menjadi bermurah hati, untuk bekerja bagi perdamaian, untuk menabur perdamaian serta bukan perang dan perselisihan. Ini adalah jalan yang membawa kebahagiaan, yang mengarah kepada keberbahagiaan.

 
Peter Suriadi, http://pope-at-mass.blogspot.com

Mistara's Official Blog

Shalom! Perkenalkan kami adalah Misdinar Santa Clara. Putra-Putri Gereja Santa Clara yang ingin melayani Tuhan Yesus dan umat di altarnya :) Blog ini kami gunakan untuk menceritakan kegiatan kami, juga untuk berbagi informasi seperti event-event dan jadwal tugas ^^

Klik disini..

Surat Keluarga Juni 2015

Rekreasi adalah pembentukan kembali
Saat alam menyembuhkan dalam cahaya
Seluruh insan dihembusi dengan daya
Yang menguatkannya kembali bersukacita

Mari menimba air kehidupan
Dari sumber-sumber keselamatan
Di tempat Tuhan menyediakan lahan
Untuk menanami kembali tandusnya hidup

Keluarga membawa senda dan tawa
Memberikan keindahan dalam kesatuan
Jangan menghentikan tawa anak-anak
Karena mereka merindukan ayah ibunya

Homili Paus Fransiskus dalam Misa - 1 Juni 2015

Homili Paus Fransiskus dalam Misa 1 Juni 2015:
Dari Penolakan Datang Keselamatan

Bacaan Ekaristi : Tob 1:1a.2a.3;2:1b-8; Mrk12:1-12

 

Allah selalu memberikan kehidupan kepada sebuah "kisah cinta" bersama kita masing-masing. Dan meskipun tampak "kegagalan-kegagalan", baik besar maupun kecil, "impian cinta" menang pada akhirnya. Dalam homilinya selama Misa harian Senin pagi, 1 Juni 2015, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus merenungkan hal ini, perjalanan kita menyusuri sebuah "jalan yang sulit", bersama Allah yang menyelamatkan dengan apa yang ditolak.

Bacaan Injil hari itu (Mrk 12:1-12) menyajikan perumpamaan tentang para penggarap dan pemilik kebun anggur. Menurut Paus Fransiskus, perumpamaan itu "merangkum sejarah keselamatan yang disampaikan Yesus - sebagaimana kita dengar - kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua : yaitu, kepada para pemimpin bangsa Israel, kepada mereka yang memegang pemerintahan bangsa Israel di tangan mereka, kepada mereka yang memegang janji Allah di tangan mereka".

Paus Fransiskus mencatat bahwa "itu adalah sebuah perumpamaan yang indah", yang "dimulai dengan sebuah impian, sebuah proyek cinta: bahwa manusia yang mengusahakan kebun anggur, mendirikan pagar di sekitarnya, menggali sebuah lubang untuk memeras anggur", dan membangun sebuah menara. Itu "semua dilakukan dengan cinta". Memang orang tersebut "mencintai pembibitan kebun ini" dan oleh karena itu "menyewakannya, menyerahkannya" sehingga ia dapat menghasilkan buah. Kemudian, "ketika musimnya tiba, ia mengirimkan seorang hamba kepada para penggarap untuk mengumpulkan hasil panennya", dan di sana "dimulai semua yang telah kita dengar : mereka memukulinya dengan tongkat, memukuli hamba yang lain, dan membunuh hamba yang lain". Akhirnya "ia mengirim anaknya" tetapi para penggarap itu "membunuhnya : itulah bagaimana cerita berakhir".

Dalam ulasan akhir, Paus Fransiskus menjelaskan, "cerita ini, yang tampaknya seperti sebuah kisah cinta, seharusnya melacak langkah-langkah cinta antara Allah dan umat-Nya", bukannya tampak sebagai "sebuah sejarah kegagalan". Pada titik ini, "Allah - Bapa bangsa tersebut, yang membawa bangsa ini sebagaimana adanya, karena mereka adalah sebuah bangsa yang kecil dan mereka mencintai-Nya, mereka bermimpi dengan cinta - tampaknya gagal". Dan "sejarah keselamatan ini dapat juga disebut sebuah sejarah kegagalan". Tetapi "kegagalan", Paus Fransiskus mengatakan, "dimulai sejak saat pertama dan bahkan kegagalan impian Allah ini, sejak permulaan, ada darah - darah Habel - dan dari sana itu berlanjut : darah semua nabi yang pergi berbicara kepada bangsa tersebut, untuk membantu menjaga kebun anggur, sampai darah Putra-Nya". Namun, Paus Fransiskus menambahkan, "pada akhirnya ada sabda Allah, yang membuat kita berpikir".

"Kemudian, apa yang akan dilakukan sang pemilik kebun anggur?", tanya Paus Fransiskus. Beliau menjawab: "Ia akan datang dan menempatkan orang-orangnya di hadapan hakim". Mengenai hal ini, Yesus mengatakan "sebuah kata yang tampaknya agak keluar tempat : 'Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita'". Kemudian Paus Fransiskus menjelaskan bahwa "sejarah kegagalan itu berbalik, dan apa yang ditolak menjadi kekuatan". Dengan demikian, "para nabi, orang-orang Allah yang berbicara kepada bangsa tersebut, yang tidak didengar, yang ditolak, akan menjadi kemuliaan-Nya". Dan "Sang Putra, yang terakhir dikirim, yang benar-benar diusir, dihakimi, tidak didengarkan dan dibunuh, akan menjadi batu penjuru".

Kemudian, di sinilah "sejarah ini, yang dimulai dengan sebuah impian cinta dan tampaknya menjadi sebuah sejarah cinta, tetapi kemudian tampaknya berakhir dalam sebuah sejarah kegagalan, berakhir dengan cinta Allah yang besar, yang menarik keluar keselamatan dari penolakan; oleh terbuangnya Putra-Nya, Ia menyelamatkan kita semua".

"Bacaan dalam Kitab Suci banyak, banyak ratapan Allah" adalah sesuatu yang indah, menurut Paus Fransiskus. Terutama, "ketika Allah berbicara kepada umat-Nya Ia mengatakan: 'Mengapa kamu melakukan hal ini? Ingatlah semua yang telah Aku perbuat bagimu: bahwa Aku memilih kamu, bahwa Aku membebaskan kamu. Mengapa kamu berbuat hal ini pada-Ku?'". Bapa, Paus Fransiskus berpendapat, "meratap, bahkan menangis". Dan pada akhirnya di sana "Yesus meratap atas Yerusalem : Yerusalem, Yerusalem, yang membunuh nabi-nabi". Ini, Paus Fransiskus menjelaskan, "adalah sejarah dari sebuah umat yang tidak bisa membebaskan dirinya sendiri dari keinginan yang ditaburkan oleh Iblis dalam para orangtua pertama : kamu akan menjadi allah". Ia adalah "sebuah umat yang tidak tahu bagaimana menaati Allah, karena mereka ingin menjadi allah" di pihak mereka sendiri.

Sikap ini menjadikan mereka "sebuah umat yang tertutup, sebuah umat yang para pelayannya kaku". Inilah sebabnya, Paus Fransiskus mencatat, "akhir bagian ini yang kita baca adalah menyedihkan", karena apa yang muncul adalah "kekakuan para imam, kekakuan para ahli Taurat : mereka berusaha untuk menangkap Yesus agar dapat membunuh-Nya, tetapi mereka takut kepada orang banyak". Pada kenyataanya, "mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu". Dan dengan demikian, "mereka membiarkan Dia dan mereka pergi".

"Jalan penebusan kita adalah sebuah jalan yang padanya tidak ada kekurangan kegagalan", Paus Fransiskus mengakui. Memang, "bahkan jalan terakhir, jalan Salib, adalah sebuah skandal: tetapi justru di sana, cinta menang". Dan "sejarah itu, yang dimulai dengan sebuah impian cinta dan berlanjut dengan sebuah sejarah kegagalan, berakhir dalam kemenangan cinta: Salib Yesus". Paus Fransiskus meminta agar kita "tidak melupakan jalan ini", bahkan meskipun "itu adalah sebuah jalan yang sulit". Tetapi "jalan kita juga" selalu merupakan sebuah jalan yang sulit. Dengan demikian, "jika kita masing-masing memeriksa hati nuraninya, kita akan melihat berapa kali kita telah mengusir para nabi; berapa kali kita telah berkata kepada Yesus: 'Enyahlah!'; berapa kali kita ingin menyelamatkan diri kita sendiri; berapa kali kita berpikir demikian".

"Kasih Allah bagi umat-Nya terwujud dalam pengorbanan Putra-Nya yang kini kita akan rayakan sekali lagi, benar-benar", kata Paus Fransiskus sebelum melanjutkan perayaan Ekaristi. "Ketika Ia turun di atas altar dan kita mempersembahkan-Nya kepada Bapa, akan ada baiknya kita mengingat kisah cinta yang tampaknya gagal tetapi menang pada akhirnya ini". Oleh karena itu pentinglah "mengingat, dalam sejarah kehidupan kita, benih cinta yang telah ditaburkan Allah di dalam diri kita itu". Dan sebagai hasilnya, "melakukan apa yang Yesus lakukan bagi kita : Ia telah merendahkan diri-Nya". Dengan demikian, kita juga, Paus Fransiskus mengakhiri, "akan ada baiknya merendahkan diri kita di hadapan Tuhan ini yang kini datang untuk merayakan bersama kita kenangan akan kemenangan-Nya".

 
Peter Suriadi, http://pope-at-mass.blogspot.com

Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) - Juli 2015

Kursus Persiapan Perkawinan

Akan diselenggarakan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) pada:

  Hari/Tanggal : Sabtu-Minggu, 11 & 12 Juli 2015
  Waktu Kursus : pukul 08.00 s.d 16.00 wib
  Penyelenggara : Paroki Lubang Buaya
Jl. Al Umar No. 1B
Lubang Buaya, Jakarta Timur
Telp. 021 8779 1911
  Tempat Kursus : Sekolah St. Markus II
Jl. Raya Pondok Gede
Gg. Pelita - Lubang Buaya

 
Mohon diperhatikan:

  1. Pendaftaran paling lambat 1 minggu sebelum pelaksanaan kursus
  2. Syarat untuk mendaftar -harus lengkap- sebagai berikut:
    1. Photocopy KTP masing-masing sebanyak 2 lembar
    2. Photocopy Surat Baptis yang telah diperbaharui masing-masing sebanyak 2 lembar
    3. Pas photo ukuran 2x3 masing-masing sebanyak 3 lembar
  3. Biaya kursus silahkan menghubungi Sekretariat Pastoran

Pages