Sakramen-Sakramen dan Sakramentali

Mengapa umat Katolik memintakan berkat dari imam untuk rosario, buku doa, patung, salib? Demikian juga mengapa keluarga Katolik memintakan berkat bagi rumah baru yang akan dihuni, atau pada waktu pertunangan minta berkat pertunangan? Pertanyaan-pertanyaan ini dan yang sejenis ini berkaitan dengan yang dalam Gereja Katolik disebut sakramentali.
 
 

Hari Minggu Biasa XV

 
Kapel Wisma Asri

  Sabtu, 11 Juli 2015 Minggu, 12 Juli 2015
Misa I Misa II Misa III
Koor St. Antonius 8 St. Bonaventura 2 St. Bonaventura 3 Bunda Teresa 2
Organis Untung Linda Antonius Stephen
Tata Tertib/Kolektan St. Konradus 4 St. Konradus 3 St. Padre Pio 4 St. Konradus 1
Lektor Irene Wulan Lego Sriyono Tia
Komentator Angela Maureen Stefani Maria Rita Ibu Suryo
Prodiakon FX. Rudy H.
Agus Budi H.
Martinus M.
M. Yuswana
Fl. Muji PS.
JP. Siboro
A. Sudiyono
F. Suharto
Y. Suharno
I. Kasimo
Ana Maria DV.
Edy Surianto
Eddy Supeno
V. Maria M.
B. Sri Utari
M. Lamiyono
H. Teguh
A. Heru
Misdinar - - - - - - - - - - - -
Penata Bunga St. Thomas Aquino 2

 
Kapel Seroja (Gedung Serba Guna Seroja)

  Minggu, 12 Juli 2015
Misa Pagi (pukul 07.00 wib)
Koor St. Agnes 1 & 2
Organis Tony
Tata Tertib/Kolektan St. Yohanes Pemandi 4
Lektor Yohanes Wahidin
Komentator - - -
Prodiakon - - -
Misdinar - - -
Penata Bunga - - -

 


Mari Mendoakan Paus Fransiskus

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipazzi mengajak umat Katolik untuk berdoa bagi Paus Fransiskus yang kini menjadi titik rujuk bagi banyak orang.

Ajakan itu disampaikan Uskup Agung Filipazzi saat memimpin Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (28/6/2015), yang didampingi Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, yang juga sebagai ketua presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

“Selama dua tahun lebih masa kepausannya, Paus Fransiskus selalu meminta kita untuk mendoakan beliau. Saya mengajak seluruh umat untuk berdoa bagi intensi-intensi Paus sebagai penerus Santo Petrus,” kata Uskup Agung Filipazzi dalam homilinya.

Prelatus itu mengajak seluruh umat Katolik untuk mengamalkan cinta kasih dan mendoakan Paus Fransiskus yang merupakan penerus tugas Santo Petrus di dunia.

Menurut Mgr. Filipazzi, Paus Fransiskus saat ini telah menjadi titik rujukan bagi banyak orang dari agama manapun.

“Gereja akan selalu berdoa bagi Paus agar mendapatkan berkat dalam tugas universalnya, semoga beliau semakin mampu melangkah dalam Gereja dan bagi Gereja, serta selalu menyebarkan cinta kasih,” katanya.

Gereja Katolik sedunia memperingati Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus setiap 29 Juni, dan menjadi hari raya penting bagi Paus dan para uskup di seluruh dunia yang mengemban tugas sebagai penerus Santo Petrus.

Dalam Misa tersebut dihadiri juga oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

Hari Minggu Biasa XIV

 
Kapel Wisma Asri

  Sabtu, 4 Juli 2015 Minggu, 5 Juli 2015
Misa I Misa II Misa III
Koor St. Antonius 3 St. Antonius 5 St. Antonius 7 St. Bonaventura 1
Organis Linda Untung Ika Antonius
Tata Tertib/
Kolektan
St. Thomas Aquino 4 St. Thomas Aquino 3 St. Thomas Aquino 1 St. Thomas Aquino 2
Lektor Lita Ibu Elias Abat Ronald Rachmawati
Komentator Ibu Elias Abat Ronald Rachmawati Silvirina
Prodiakon Johnson P. Siboro
Markus Lamiyono
H. Teguh
Aloysius Heru S.
Agus Budi H.
Martinus Martono
Marcelius Yuswana
Florentinus Mudji
M. Regina Ratna
Lucia Pudjiastuti
V. Maria Meyer
FX. Rudy Harsono
Agustinus S.
Florianus Suharto
Yohanes Suharno
Ignatius Kasimo
Misdinar Gaby, Irene,
Leonardo, Goris
Hot Melisa, Lisbeth,
Gregorius, Yosafat
Kresenteia, Asyera,
Kirman, Vincent
Tyas, Louisa,
Marco, Michael
Penata Bunga St. Thomas Aquino 1

 


Homili Paus Fransiskus dalam Misa - 26 Juni 2015

Homili Paus Fransiskus dalam Misa 26 Juni 2015:
Orang-Orang Kristen Harus Berbuat Baik Bahkan Sampai Tangan Mereka Kotor Karena Menolong Orang-Orang Yang Terkucil

Bacaan Ekaristi: Kej 17:1.9-10.15-22; Mat 8:1-4

 

Dekat dengan orang-orang yang terpinggirkan, memperpendek jarak hingga menjamah mereka tanpa takut kotor. Ini adalah "kedekatan Kristen" yang ditunjukkan Yesus kepada kita secara nyata ketika Ia membebaskan orang kusta dari kenajisan penyakit dan juga dari pengucilan sosial. Itulah pokok homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Jumat pagi, 26 Juni 2015, di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus meminta setiap orang Kristen dan Gereja secara keseluruhan untuk memiliki sikap "kedekatan" ini.

"Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia". Demikian Paus Fransiskus memulai homilinya, mengulangi kata-kata pertama dari Bacaan Injil hari itu (Mat 8:1-4). Semua orang-orang itu, Paus Fransiskus menjelaskan, "mendengar pengajaran-Nya : mereka heran karena Ia berbicara kepada mereka 'dengan kuasa', tidak seperti para ahli Taurat" yang biasa mereka dengarkan. Injil memaparkan dengan jelas bahwa "mereka heran".

Dengan demikian, orang-orang ini mulai mengikuti Yesus, tanpa lelah mendengarkan-Nya. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa orang-orang ini "tinggal sepanjang hari dan, pada akhirnya, para Rasul" menyadari bahwa mereka kelaparan. Tetapi "mendengarkan Yesus adalah sebuah sukacita bagi mereka". Dan dengan demikian, "ketika Yesus selesai berbicara, Ia turun dari bukit dan orang-orang mengikuti-Nya" dan berkumpul di sekeliling-Nya. Orang-orang ini, Bapa Suci mengingatkan, "pergi di jalan-jalan, di jalan-jalan kecil, bersama Yesus".

Namun, "ada orang-orang lain yang tidak mengikuti-Nya: mereka mengawasi-Nya dari jauh, dengan rasa ingin tahu", bertanya-tanya, "Siapakah orang ini?". Bagaimanapun juga, Paus Fransiskus menjelaskan, tidak pernah "mereka mendengarkan pengajaran yang menakjubkan seperti itu". Dan dengan demikian ada "orang-orang yang sedang menyaksikan dari trotoar" dan "ada orang-orang lain yang tidak bisa mendekat : hukum melarangnya untuk mereka 'najis,". Orang kusta yang dibicarakan dalam Injil Matius adalah dari kelompok ini.

"Orang Kusta ini merasakan dalam hatinya kerinduan untuk mendekat kepada Yesus", Paus Fransiskus mencatat. "Ia mengambil keberanian dan mendekati". Tetapi "ia adalah seorang yang terpinggirkan", dan dengan demikian, "tidak bisa melakukannya". Namun, "ia memiliki iman di dalam orang itu, mengambil keberanian dan mendekat", beralih "hanya kepada doanya : 'Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku". Ia mengatakan hal ini "karena ia najis". Memang, "penyakit kusta adalah hukuman seumur hidup". Dan "menyembuhkan penderita kusta adalah sama sulitnya dengan membangkitkan orang mati : inilah mengapa mereka terpinggirkan. Mereka semua ada demikian. Mereka tidak bisa bergaul dengan orang-orang".

Tetapi, ada "juga orang yang meminggirkan diri", Paus Fransiskus melanjutkan. "Para ahli Taurat yang selalu mengawasi dengan kerinduan untuk mencobai Yesus, untuk membuat-Nya tergelincir, dan kemudian menghukum-Nya". Namun, orang kusta tahu bahwa ia "najis, sakit, dan ia mendekati". Maka, Paus Fransiskus bertanya, "apa yang dilakukan Yesus?". Ia tidak berdiri diam, tanpa menjamahnya, tetapi malahan makin mendekat, mengulurkan tangan-Nya dan menyembuhkannya.

"Kedekatan", Paus Fransiskus menjelaskan, adalah "sebuah kata yang sedemikian penting : kalian tidak dapat membangun sebuah jemaat tanpa kedekatan; kalian tidak dapat berdamai tanpa kedekatan;kalian tidak dapat berbuat baik tanpa mendekat". Yesus bisa saja berkata kepadanya : "Sembuhlah!". Tetapi malahan Ia mendekat dan menjamahnya. "Apa lagi: pada saat Yesus menjamah orang najis itu, Ia menjadi najis". Dan "ini adalah misteri Yesus : Ia mengambil atas diri-Nya sendiri kenajisan kita, kekotoran kita".

Adalah sebuah kenyataan, Paus Fransiskus melanjutkan, yang menggambarkan Santo Paulus dengan baik ketika ia menulis bahwa Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri". Paulus berjalan lebih jauh, menyatakan bahwa "Yesus menjadi berdosa": Yesus menjadi berdosa, Yesus menjadi terpinggirkan, mengambil kekotoran atas diri-Nya untuk mendekat kepada manusia. Maka "Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan", melainkan "telah mengosongkan diri-Nya sendiri, mendekat, menjadi berdosa, menjadi najis".

"Begitu sering, saya berpikir bahwa itu mungkin, saya tidak akan mengatakan tidak mungkin, tetapi sangat sulit untuk berbuat baik tanpa tangan kita kotor". Dan "Yesus menjadi kotor" dengan "kedekatan"-Nya. Tetapi kemudian, Matius menceritakan, Ia pergi lebih jauh, mengatakan kepada orang yang dibebaskan dari penyakitnya : "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka".

Pada dasarnya, "manusia itu yang terpinggirkan dari kehidupan sosial, termasuk Yesus : termasuk di dalam Gereja, termasuk di dalam masyarakat". Beliau menyarankan: "Pergilah, sehingga segalanya akan menjadi seperti seharusnya". Dengan demikian, "Yesus tidak pernah meminggirkan siapa pun, sungguh!". Selain itu, Yesus "meminggirkan diri-Nya untuk menyertakan orang yang terpinggirkan, untuk menyertakan kita, orang-orang berdosa, orang-orang yang terpinggirkan, dengan hidup-Nya!". Dan "ini indah", Paus Fransiskus mencatat.

"Berapa banyak orang mengikuti Yesus pada waktu itu dan telah mengikuti Yesus dalam sejarah karena mereka heran bagaimana Ia berbicara ", Paus Fransiskus menjelaskan. Dan "berapa banyak orang sedang menyaksikan dari jauh dan tidak mengerti, tidak tertarik; berapa banyak orang menyaksikan dari jauh tetapi dengan hati yang jahat, untuk mencobai Yesus, mengkritik-Nya, menghukum-Nya". Namun, "berapa banyak orang menyaksikan dari jauh karena mereka tidak memiliki keberanian" orang kusta itu, "tetapi memiliki kerinduan mendekat seperti itu". Dan "dalam kasus itu, Yesus mengulurkan tangan-Nya, pertama-tama; tidak seperti dalam kasus ini, tetapi dalam keberadaan-Nya Ia mengulurkan tangan-Nya kepada semua orang, menjadi salah seorang dari kita, seperti kita : orang-orang berdosa seperti kita tetapi tanpa dosa; tetapi orang berdosa, yang dikotori oleh dosa-dosa kita". Dan "ini adalah kedekatan Kristen".

"Kedekatan" adalah sebuah "kata yang indah, bagi kita masing-masing", Paus Fransiskus melanjutkan. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: "Apakah aku tahu cara mendekat? Apakah aku memiliki kekuatan, apakah aku memiliki keberanian untuk menjamah orang-orang yang terpinggirkan?". Dan "Gereja, paroki-paroki, jemaat-jemaat, para pelaku hidup bakti, para uskup, para imam, semua orang" harus juga menjawab pertanyaan ini : "Apakah aku memiliki keberanian untuk mendekat atau apakah aku selalu menjaga jarak? Apakah aku memiliki keberanian untuk memperpendek jarak, seperti yang dilakukan Yesus?".

Paus Fransiskus kemudian menekankan bahwa "sekarang di altar", Yesus "akan mendekat kepada kita: Ia akan memperpendek jarak". Oleh karena itu, "marilah kita memohon kepada-Nya rahmat ini: Tuhan, semoga aku tidak takut untuk mendekat kepada orang-orang yang membutuhkan, kepada orang-orang yang membutuhkan yang kelihatan atau kepada mereka yang memiliki luka-luka tersembunyi". Ini, Paus Fransiskus mengakhiri, adalah "rahmat semakin dekat".

 
Peter Suriadi, http://pope-at-mass.blogspot.com

Wejangan Paus Fransiskus - 14 Juni 2015

Wejangan Paus Fransiskus dalam Doa Malaikat Tuhan - 14 Juni 2015
Perumpamaan Tentang Benih

 

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini terdiri dari dua perumpamaan yang sangat singkat: perumpamaan tentang benih yang bertunas dan tumbuh dengan sendirinya, dan perumpamaan tentang biji sesawi (bdk. Mrk 4:26-34). Melalui gambaran-gambaran yang diambil dari dunia pedesaan ini, Yesus memaparkan daya guna Sabda Allah dan persyaratan-persyaratan Kerajaan-Nya, menunjukkan alasan-alasan bagi harapan kita dan komitmen kita dalam sejarah.

Dalam perumpamaan pertama, perhatian ditempatkan pada kenyataan bahwa benih yang ditaburkan di tanah berakar dan berkembang dengan sendirinya, entah sang petani tidur atau mengawasinya. Ia yakin pada kekuatan di dalam benih itu sendiri dan pada kesuburan tanah. Dalam bahasa Injil, benih adalah lambang Sabda Allah, yang keberhasilannya diingatkan dari perumpamaan ini. Sebagaimana benih yang sederhana tumbuh di tanah, demikian juga Sabda Allah bekerja dengan kuasa Allah dalam hati orang-orang yang mendengarkannya. Allah telah mempercayakan Sabda-Nya kepada tanah kita, yaitu kita masing-masing dengan kemanusiaan nyata kita. Kita bisa percaya diri karena Sabda Allah adalah sebuah sabda yang mencipta, yang ditakdirkan untuk menjadi "butir-butir yang penuh isinya dalam bulir" (ayat 28).

Sabda ini, jika diterima, tentu melahirkan buah-buahnya karena Allah sendiri membuatnya tumbuh dan matang melalui cara-cara yang tidak dapat selalu kita buktikan dan dengan sebuah cara yang tidak kita ketahui (bdk. ayat 27). Semua ini memberitahu kita bahwa selalu Allahlah, selalu Allahlah yang membuat Kerajaan-Nya tumbuh. Itulah sebabnya mengapa kita begitu banyak berdoa "datanglah kerajaan-Mu". Dialah yang membuatnya tumbuh. Manusia dan rekan sekerjanya yang sederhana, yang merenungkan dan bersukacita dalam tindakan ilahi mencipta serta menunggu dengan sabar buah-buahnya. Sabda Allah membuatnya tumbuh, ia memberi kehidupan. Dan di sini, saya ingin mengingatkan kembali, pentingnya memiliki sebuah Injil, Alkitab, berukuran saku. Sebuah Injil kecil di tas kecil Anda, di saku Anda dan memelihara diri Anda setiap hari dengan Sabda Allah yang hidup ini, membaca sebuah perikop dari Injil setiap hari, sebuah perikop dari Alkitab. Jangan pernah melupakan ini. Karena ini adalah kekuatan yang membuat kehidupan Kerajaan Allah bertunas dalam diri kita.

Perumpamaan kedua menggunakan gambaran biji sesawi. Meskipun yang terkecil dari semua biji, ia penuh dengan kehidupan dan tumbuh sampai ia menjadi "yang terbesar dari segala sayuran" (Mrk4:32). Dan demikianlah Kerajaan Allah: sebuah kenyataan manusiawi kecil dan tampaknya tidak ada sangkut-pautnya. Untuk menjadi suatu bagian darinya, seseorang harus menjadi miskin hati; tidak mengandalkan kemampuan mereka sendiri, tetapi mengandalkan kekuatan kasih Allah; tidak berlaku penting di mata dunia, tetapi berharga di mata Tuhan, yang lebih menyukai orang-orang yang sederhana dan rendah hati. Ketika kita hidup seperti ini, kekuatan Kristus menerobos kita dan mengubah apa yang kecil dan sederhana menjadi suatu kenyataan yang meragikan seluruh massa dunia dan sejarah.

Sebuah ajaran penting berasal dari dua perumpamaan ini: Kerajaan Allah membutuhkan kerjasama kita, tetapi terutama prakarsa dan karunia Tuhan. Karya kita yang lemah, tampak kecil di hadapan kerumitan masalah-masalah dunia, kalaupun termasuk di dalamnya Allah tidak takut akan kesulitan-kesulitan. Kemenangan Tuhan terjamin: kasih-Nya akan bertunas dan akan menumbuhkan setiap benih kebaikan yang hadir di bumi.

Hal ini akan membuka kita untuk percaya dan berharap, meskipun tragedi-tragedi, ketidakadilan-ketidakadilan, penderitaan-penderitaan yang kita temukan. Benih kebaikan dan perdamaian bertunas dan berkembang, karena kasih Allah yang penuh kerahiman membuatnya dewasa.

Semoga Perawan Suci, yang menerima benih Sabda ilahi sebagaimana "tanah yang subur", mendukung kita dalam pengharapan ini.

 
[Setelah pendarasan Doa Malaikat Tuhan, Bapa Suci mengatakan kata-kata berikut]
 

Saudara dan saudari terkasih,

Hari ini adalah Hari Pendonor Darah Sedunia, jutaan orang yang berkontribusi, dengan diam-diam, untuk membantu saudara-saudara yang berada dalam kesulitan. Kepada semua pendonor, saya menyampaikan penghargaan dan terutama mengundang kaum muda untuk mengikuti teladan mereka.

Saya menyambut Anda semua, orang-orang Roma dan para peziarah terkasih: kelompok-kelompok paroki, keluarga-keluarga dan lembaga-lembaga. Secara khusus saya menyambut umat yang telah datang dari Debrecen (Hungaria), Malta, Houston (Amerika Serikat) dan dari Panama; serta dari Italia umat Altamura, Angri, Treviso dan Osimo.

Sebuah pikiran khusus tertuju kepada jemaat Katolik Rumania yang tinggal di Roma dan kepada kaum muda penerima Sakramen Krisma dari Cerea.

Saya menyambut kelompok yang mengingat semua orang hilang dan meyakinkan doa-doa saya. Saya juga dekat dengan semua pekerja yang membela hak untuk bekerja dengan kesetiakawanan.

Seperti telah diumumkan, sebuah Surat Ensiklik tentang kepedulian ciptaan akan dipublikasikan. Saya mengundang Anda untuk menyertai acara ini dengan sebuah perhatian yang diperbarui bagi situasi degradasi lingkungan, tetapi juga situasi pemulihan, di wilayah-wilayahnya. Ensiklik ini ditujukan kepada semua orang: marilah kita berdoa agar semua orang dapat menerima pesannya dan bertumbuh dalam tanggung jawab terhadap tempat tinggal bersama yang telah dipercayakan Allah kepada semua orang.

Kepada semuanya saya berharap hari Minggu Baik. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!

 
Peter Suriadi, http://katekesekatolik.blogspot.com

Seminar Ilmiah Medik dan Bioetika

Komunitas Medika Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta (KMKI KAJ) Dekenat Bekasi akan mengadakan seminar dengan tema:

"Seminar Ilmiah Medik dan Bioetika KMKI 2015"

Hari / Tanggal : Sabtu / 20 Juni 2015
Waktu : pukul 07.30 wib s.d 14.00 wib
Tempat : Gedung Serbaguna Kesuma, Lantai 3
Gereja St. Mikael Kranji
Jl. Bintara Raya No. 38, Gang Strada, Kranji - Bekasi
Biaya : GRATIS

Keterangan lebih lanjut harap menghubungi:
- Dr. Fonny Bouk
- Dr. Inggrid Jesica

Pages